Sweet 17

Sweet 17
37


__ADS_3

BAB 37


Untuk beberapa hari Kimora merasa tidak bersemangat pergi ke sekolah. Bayangan dan kenangan akan sosok Dimas masih tergambar jelas dalam benaknya. Apalagi Dimas sering curhat atau main ke rumahnya hanya untuk sekedar cerita.


Kepergian yang mendadak itu benar-benar menjadi duka tersendiri untuknya. Apalagi setiap melihat Silvi, hatinya sungguh terasa sakit. Bagaimana tidak, sampai Dimas dimakamkan. Sosok Silvi tidak terlihat sama sekali.


Akan tetapi, Elkhan dengan sabar menemani Kimora. Dia bahkan selalu memberi semangat untuk kekasihnya tersebut. Dan mengingatkan Kimora untuk ikhlas menerima kepergian Dimas untuk selamanya.


"Kita semua nanti akan kesana juga. Ikhlasin, Ra! Biar tidak memberatkan jalan Dimas!" kata Elkhan setiap kali Kimora merasa sedih.


"Pikirin juga gue yang khawatir dengan keadaan lo!" kata Elkhan lagi.


Seketika Kimora menoleh menatap Elkhan yang duduk di sampingnya. Matanya yang jernih berkedip dengan indah. Wajah khawatir tergurat jelas tapi sama sekali tidak mengurangi ketampanannya.


"Mama sama papa juga nanyain lo terus. Mereka khawatir sama lo." imbuh Elkhan.


"Maafin gue yank. Karena gue abaikan lo selama beberapa hari ini. Gue bener-bener belum bisa terima dengan takdir ini." lirihnya.


Elkhan pun langsung merangkul kekasihnya, mengecup keningnya dengan lembut. "Nggak apa. Asalkan lo baik-baik saja, gue nggak apa-apa." katanya dengan lembut.


Elkhan tidak ingin membuat Kimora merasa bersalah karena telah mengabaikan dirinya selama beberapa hari setelah kematian Dimas. "Lo harus tahu, ada gue yang selalu disisi lo. Gue nggak bisa janji untuk tidak tinggalin lo. Tapi, gue akan selalu berusaha untuk tetap disisi lo dan ada buat lo." kata Elkhan yang membuat hati Kimora merasa damai.


"Makasih.." gumam Kimora.


Elkhan memeluk Kimora tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya. Kebetulan posisi mereka di dekat lapangan basket. Dimana Kresna dan teman-temannya sedang asyik main basket.


Kresna pun sengaja melempar bola basket itu ke arah Kimora dan Elkhan. Namun, niatnya hanya bercanda saja. Kresna juga melemparnya pelan.


"Heh kampret lo ya.. Kenapa lo lempar bola ke kita?" tanya Kimora dengan kesal.


Kresan mengambil bola itu dengan tersenyum kecil. "Oh lo cemburu?" tanya Kimora lagi.


"Mulutnya.." Kresna menoyor kepala Kimora.


"Kalau cewek gue denger bakal jadi masalah tuh." kata Kresna lagi.


"Biarin, biar tahu sekalian kalau lo belum bisa move on." seru Kimora masih dengan kesal.


"Cewek lo tuh, kepedean banget.. Gue cuma nggak mau kalian jadi bahan omongan karena sering mengumbar kemesraan." jelas Kresna. Niatnya baik sih, hanya saja banyak orang yang berpikir bahwa dia masih belum bisa move on dari Kimora.


"Gue paham kok. Thanks perhatiannya." jawab Elkhan.


"Tumben cerdas." sindir Kimora.

__ADS_1


"Gue emang cerdas, nj*r. Beg* aja waktu suka sama lo." jawab Kresna sembari terbahak karena membuat Kimora mencak-mencak.


Elkhan juga tersenyum melihat pertengkaran antara Kimora dengan Kresna. Dia pun menarik tangan Kimora ke kantin. Benar apa kata Kresna. Mereka terlalu sering mengumbar kemesraan. Takutnya mereka akan jadi bahan gunjingan seandainya mereka putus suatu saat nanti.


Di kantin.


Teman-teman Kimora juga masih belum bisa menghilangkan kesedihan mereka. Kepergian temannya secara mendadak menjadi pukulan terberat bagi mereka. Wajah-wajah sedih, lesu masih terlihat di wajah teman sekelas Kimora. Khususnya mereka yang sering nongkrong bareng dengan Dimas.


Meskipun ada satu dua orang yang mencoba bersikap biasa saja dan bercanda seperti biasa. Tapi raut wajah mereka tidak bisa bohong. Mereka masih merasakan duka yang mendalam atas kepergian Dimas yang mendadak.


Bahkan di kelas pun mereka terlihat begitu berbeda dari biasanya. Kelas yang biasanya selalu ramai saat pelajaran. Kini menjadi senyap. Wajah-wajah sedih masih terpasang di wajah penghuni kelas tersebut.


"Ibu turun berduka atas kepergian Dimas. Semoga dia mendapat tempat terbaik. Dan semoga kalian diberi ketabahan serta keikhlasan." kata bu guru yang mengerti betul perasaan murid-muridnya.


"Dimas sudah tenang. Semoga kalian bisa kembali bersemangat untuk meraih masih masa depan kalian. Ibu yakin jika Dimas pasti akan bangga memiliki sahabat seperti kalian." lanjut bu guru.


"Mari sejenak kita doakan agar Dimas mendapat tempat terbaik dan diampuni semua dosa-dosanya. Mari berdoa sesuai keyakinan dan kepercayaan masing-masing!" bu guru juga mengajak anak muridnya untuk kembali mendoakan Dimas. Serta mengikhlasan kepergian Dimas.


"Selesai!"


"Mari kita lanjut pelajaran pada pagi hari ini." kata bu guru lagi.


Istirahat.


"Ah, hemm.." Ciara berdehem menggoda Kimora.


"Lo nggak mau cariin cowok lo juga?" tanya Ciara ke Chelsea.


"Nggak. Tuh orangnya keluar." Diky sudah berjalan cepat saat melihat Chelsea di depan kelasnya.


Dia pun segera ke kantin bersama pacarnya dan juga teman-teman pacarnya. Sementara Kimora masuk ke kelas 10C.


Tapi sejenak langkahnya terhenti saat melihat Elkhan memeluk Ayudya. Matanya membulat dan senyuman diwajahnya seketika menghilang. Dia langsung berbalik arah tidak jadi masuk ke kelas Elkhan.


Tanpa sengaja Ulfa melihat Kimora yang berbalik badan meninggalkan kelasnya. Karena dia juga kesal melihat Elkhan dengan Ayudya. Dia pun segera berseru memanggil nama Kimora.


"Ara.." serunya.


Seketika kagetlah Elkhan. Dia menoleh dan secara tidak sengaja bertatapan dengan Kimora. Wajah Kimora tidak bisa berbohong kalau dia sedang marah. Elkhan pun segera melepaskan tangannya. "Lain kali hati-hati!" kata Elkhan kepada Ayudya.


Elkhan pun segera berlari mengejar Kimora. Pada saat itu Kimora tidak jadi pergi ke kantin. Tapi dia kembali ke kelasnya.


Elkhan mengikuti Kimora sampai ke kelasnya. Dia mendekati Kimora yang sepertinya salah paham dan marah kepada. "Yank, apa yang lo lihat tadi tidak seperti yang lo pikir." kata Elkhan.

__ADS_1


Namun, Kimora yang terlanjur marah tidak mau melihat Elkhan sama sekali. Dia menoleh ke arah tembok serta memunggungi Elkhan.


"Tadi gue nggak sengaja tabrakan sama Ayudya, gue refleks tangkap dia. Jangan berpikir yang tidak-tidak!" Elkhan tidak menyerah menjelaskan semua kepada Kimora agar kekasihnya itu tidak lagi marah. Namun, Kimora tetap membisu tanpa mau melihatnya.


Elkhan menyentuh lembut kepala Kimora. Tapi dengan cepat Kimora menepisnya. "Yank, percaya sama gue!" ucap Elkhan masih begitu sabar menghadapi kekasihnya.


Akan tetapi, tetap saja Kimora membisu. Sampai bel masuk berbunyi pun, Elkhan tidak beranjak dari tempat duduk. Dia tetap menunggu Kimora berbicara kepadanya.


"Ara,, kenapa lo nggak ke kantin? Udah kita tungguin juga." seru Ciara yang baru masuk ke kelas.


Tapi, dia menjadi canggung saat melihat ketengangan antara Kimora dengan Elkhan. Bahkan Kimora tidak mau menghadap Elkhan.


"Dia kenapa?" tanya Ciara tanpa bersuara hanya gerakan bibir saja.


"Cemburu." jawab Elkhan dengan cukup keras. Dia ingin memancing reaksi Kimora. Tapi ternyata Kimora sama sekali tidak terpancing. Dia tetap diam tanpa menoleh.


Karena guru juga sudah masuk ke kelas. Elkhan pun mau tidak mau harus kembali ke kelas. "Gue ke kelas dulu!" pamit Elkhan sembari menyentuh kepala Kimora lagi.


Akan tetapi, tetap saja Kimora tidak bergeming. Sementara teman-teman Kimora merasa aneh dengan sikap Kimora. Padahal tadi dia sangat antusias saat di depan kelas Elkhan. Tapi sekarang mereka seperti sedang bertengkar.


"Lo kenapa marah sama Elkhan?" tanya Ciara yang duduk disebelah Kimora.


"Bukannya tadi antusias banget?" Ciara masih penasaran apa yang membuat Kimora seketika berubah.


"Gue masuk ke kelasnya, dia lagi peluk anak baru itu." jawab Kimora yang masih sangat kesal terlihat dari nada bicaranya yang terdengar kesal.


"Cuma karena itu lo marah? Elkhan kasih penjelasan nggak kenapa dia meluk anak baru itu?" Kimora menganggukan kepalanya.


"Terus kenapa lo masih marah? Kasian Elkhan, dia kelihatan sedih banget." kata Ciara.


"Nggak tahu, pokoknya gue kesel aja. Ntar pulang sekolah gue nebeng lo ya? Boleh kan?"


"Pertanyaan macam apa itu? Emang kapan gue nggak ngebolehin lo nebeng gue?"


"Makasih." jawab Kimora tersenyum.


"Tapi lo harus cariin gue pacar. Anj*r kalian udah punya pacar semua, gue masih aja jomblo." kata Ciara sambil memajukan bibirnya.


"Putra mau? Dia juga lagi cari pacar." bisik Kimora.


"Nggak ada yang lebih jelek?" tanya Ciara sarkas. Kimora hanya tersenyum mendengar perkataan Ciara.


"Ke kafe Moon ya?" ajak Ciara.

__ADS_1


"Boleh." Kimora juga butuh waktu untuk menenangkan perasaannya.


__ADS_2