
BAB 39
Weekend.
Matanya masih sangat lengket. Saat ibunya membangunkannya, dia hanya menggeliat diatas kasurnya. "Ara, bangun! Katanya mau diajak Elkhan.." kata ibunya.
"Hmm.. masih ngantuk buk.." gumamnya menggeliat lagi.
"Jam berapa buk?" tanyanya dengan mata yang masih terpejam.
"Jam 7.." seketika Kimora langsung membuka matanya dan turun dari ranjangnya.
"Elkhan sudah menunggu di depan sama papa dan mamanya." tambah kagetlah Kimora. Dia segera berlari ke kamar mandi.
Ibunya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak perempuannya. Dia pun segera kembali ke ruang tamu menemui papa dan mamanya Elkhan.
"Kak Ara belum bangun tante?" tanya Kayra.
"Sudah, baru mandi sekarang."
"Aku boleh ke kamar kak Ara?" ibu Kimora menganggukan kepalanya.
Kayra dengan senang menuju kamar Kimora. Dia menunggu Kimora yang sedang mandi. Kamar yang di dominasi warna biru langit serta banyak tempelan kpop dan anime di tembok. Kayra tersenyum senang melihat kamar yang tertata rapi itu.
Andai dia memiliki kakak perempuan. Dia pasti akan merasa senang. Karena setidaknya dia memiliki teman curhat selain mamanya.
"Kay?" Kimora terkejut saat keluar dari kamar mandi, dia melihat Kayra ada di kamarnya. Namun bukan karena risi, tapi karena senang.
"Maaf kamar gue berantakan dan sempit." kata Kimora yang hanya memakai handuk.
"Rapi gini bilang berantakan. Kapan-kapan gue boleh nggak kak tidur sini?" tanya Kayra.
"Lo mau tidur sini?" Kayra menganggukan kepalanya dengan cepat.
Kimora pun sempat melongo. Kenapa Kayra ingin tidur di tempatnya. Bukankah kamarnya jauh lebih bagus dan besar daripada kamarnya. "Boleh aja sih, kalau tante Alenka dan om Gio ngijinin." jawab Kimora.
"Papa sama mama pasti ngijinin kok, apalagi tahu kalau gue nginep disini." Kayra sangat yakin jika kedua orang tuanya akan memberinya ijin. Karena kedua orang tuanya sangat menyukai Kimora. Keluarga Kimora juga orang baik semua.
Sembari mengobrol, Kimora bersiap-siap pergi. Lalu dia dan Kayra menuju ruang tamu dimana Elkhan dan kedua orang tuanya sedang menunggunya.
"Maaf ya om, tante, aku kesiangan." kata Kimora merasa tidak enak karena orang tua Elkhan harus menunggunya bangun dan mandi.
"Nggak apa Ra. El nih yang nggak sabar kesini. Baru bangun aja udah minta papanya bangun dan siap-siap jemput kamu." jawab Alenka sembari tersenyum.
"Nggak sabar ketemu kamu katanya. Padahal tiap hari ketemu." sahut Gio juga menggoda anak lelakinya.
Sementara Elkhan dan Kimora hanya tersenyum malu-malu. Orang tua Kimora juga tersenyum mendengar candaan Gio ke anaknya.
Ayah Kimora masih ingat waktu pertama kali dia bertemu dengan Gio. Waktu itu dia baru bekerja di perusahaan papanya Gio. Awalnya ayah Kimora tidak yakin jika Gio itu anak dari bos-nya. Karena Gio yang masih kecil, sekitar umur belasan tahun.
Apa yang membuat ayah Kimora tidak yakin ialah karena meskipun Gio anak orang kaya. Tapi dia bersikap sangat sopan kepada semua karyawan papanya. Tidak arogan seperti kebanyakan anak orang kaya lainnya.
Gio juga selalu menyapa karyawan papanya dengan sopan, selalu memberikan senyuman. Dan terlihat sangat sederhana.
Jadi, dia sempat kaget saat rekan kerjanya memberitahu jika Gio anak dari bos mereka. "Masa? Tapi dia kelihatan sederhana, apa anak dari istri sah?" tanyanya kala itu.
"Iya lah, anak dari istri sah. Dia anak tunggalnya bos." ayah Kimora membulatkan matanya kala itu.
__ADS_1
"Pak Gio.."
"Iya om?"
"Tolong jagain Ara. Jewer aja kalau dia nakal!" katanya ayah Kimora.
Gio pun tersenyum kecil. "Iya om. Saya pasti jagain Ara. Kalau nggak dijagain nanti saya kena omel anak saya yang bandel ini." jawab Gio.
Ayah Kimora tertawa kecil. Begitulah Gio, dia selalu menjadi orang yang sopan dan baik. Karenanya, banyak sekali orang yang menyukainya di kantor. Karena selain baik dan sopan, Gio juga terkenal dengan keramahannya.
"Ayah berani perintah bos?" tanya Kimora yang membuat Gio dan ayahnya tertawa.
"Bos kalau di kantor. Kalau di luar ya calon besan. Ya nggak om?" sahut Gio.
"Iya.." ayah Kimora kembali tertawa kecil.
Setelah itu mereka segera berangkat menuju rumah tantenya Elkhan, Arina.
Gio melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Alenka terlebih dahulu. Mereka juga ingin menjenguk Arina dengan anaknya.
"Alenka..." seru Refina, teman sekolah Alenka yang kini menjadi kakak iparnya.
"Hai Ref.." Alenka senang ketemu sama Refina lagi. Meskipun mereka juga sering ketemu sih.
"Reyhan mana? Gue kangen.." Alenka menanyakan keponakannya.
"Tuh sama papanya." Refina menunjuk Ryan yang sedang bermain dengan anak yang berusia enam tahun.
"Rey.." Alenka segera mendekat dan memeluk keponakannya tersebut.
"Lo ikut ke rumah Arin, kak?"
"Gadis itu siapa Al?" Ryan masih belum kenal dengan Kimora.
"Pacarnya El."
"Haduh, udah pacaran aja tuh bocah. Sama kayak mamanya, kecil-kecil udah pacaran, udah nikah malahan." kata Ryan menyindir adiknya.
"Nj*r.." Alenka menyenggol lengan kakaknya pelan karena dia sedang menggendong keponakannya.
"Rey mau ikut lihat adik kecil?" tanya Alenka. Karena emang tujuan mereka ke kampun untuk menjenguk Arina yang baru saja melahirkan anak ketiganya.
"Mau.. Tante, aku mau ke kakak El.." Alenka segera menurunkan anak tersebut. Kemudian anak itu berlari mendekati Elkhan.
"Kak El.." serunya sembari berlari.
"Jangan lari, nanti jatuh!" Elkhan memperingati anak kecil tersebut.
Anak itu langsung melompat ke dalam pelukan Elkhan. "Kenapa? kangen sama kak El?" anak kecil tersebut langsung menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Tapi kak El nggak kangen.." kata Elkhan sembari tersenyum.
"Tapi bohong.." imbuhnya membuat anak berusia enam tahun itu tertawa senang.
Dia segera memeluk Elkhan kembali. "Kak, nanti kita main bola ya!" kata Reyhan.
"Nanti kita main sama Litto sama Resa juga."
__ADS_1
"Kenalin ini temennya kak El, namanya kak Ara." Elkhan memperkenalkan Kimora kepada keponakannya.
"Hallo kak Ara.." sapa Reyhan.
"Hallo anak imut, nama kamu siapa?" tanya Kimora yang selalu gemes melihat anak-anak.
"Namaku Reyhan.."
"Hallo Reyhan, kamu udah sekolah? Kelas berapa?"
"Kelas 1.." Reyhan nampak senang bertemu dengan Kimora. Dia tidak takut tapi langsung mau memeluk Kimora.
"Oh ini pacar kamu El?" tanya Refina, mendekat bersama Alenka.
"Cantik banget, kayak tante waktu masih muda." kata Refina.
"Cantik apanya? Lemot gitu.." olok Gio. Meskipun Refina telah menjadi kakak iparnya. Tapi Gio dan Alenka tetap saja sering mengolok-olok Refina.
"Nggak percaya? Tanya tuh papanya Reyhan."
"Emang dia cantik kak?" tanya Gio ke Ryan.
"Nggak." jawab Ryan dengan cepat.
"Papa.. ih papa mah gitu.." Refina mencubit lengan suaminya. Sedangkan Ryan hanya tersenyum kecil melihat istrinya kesal.
"Cantikan Alenka lah." Gio mengecup pipi Alenka di depan semua orang.
"Iyalah, orang dia istri lo." Refina mendengus.
"Papa, mama sama tante Refina dulu teman sekolah." bisik Elkhan yang melihat Kimora tertegun melihat kedekatan orang tuanya dengan tantenya.
"Oh, seru ya?"
"Kalau ada tante Ciara dan Ellena lebih seru lagi, apalagi kalau ada om Rama sama om Boy."
"Ciara?"
"Hmm, temen mama ada yang namanya Ciara juga. Dia juga konyol kayak temen lo."
"Kapan-kapan kalau mereka kumpul, gue ajak lo. Biar lo lihat kekonyolan emak-emak." imbuh Elkhan.
Kimora pun terbahak mendengar perkataan Elkhan. Dia menjadi penasaran dengan teman-teman Alenka. Melihat Refina, Gio, dan Alenka aja dia merasa senang. Apalagi kalau yang Elkhan sebut tadi kumpul. Pasti akan menyenangkan.
"Nama kamu siapa?" tanya Refina kepada Kimora.
"Kimora tante."
"Namanya sangat cantik, sama seperti orangnya." kata Refina lagi.
"Pinter juga kamu cari pacar." kata Refina kepada Elkhan.
"Iyalah tante. Masa iya kayak paman, cari istri kayak gini." perkataan Elkhan tersebut disambut tawa semuanya.
"Bercanda tante.. Tante yang paling cantik." namun, Elkhan langsung memeluk tantenya.
"Kamu ya, persis kayak papa dan mama kamu, sukanya ledekin tante." Refina tersenyum sembari mengelus pipi Elkhan dengan lembut.
__ADS_1
Kimora tersenyum kecil. Awalnya dia takut waktu diajak kenalan dengan keluarga Elkhan. Takut kalau tante dan paman Elkhan tidak menyukainya. Tapi ternyata mereka ramah sekali. Dan sangat menyenangkan.