
BAB 43
"Sutt.. Ra.." kepala Aldo nonggol di pintu kamar Kimora.
Kimora yang asyik mainan hape hanya menoleh sesaat. Dia sangat kesal dengan kebiasaan kakaknya yang tidak mau mengetuk pintu terlebih dahulu saat membuka pintu kamarnya.
"Bang, gue udah dewasa. Jadi kalau mau buka pintu ketuk dulu ngapa?!" kata Kimora dengan kesal.
Tok..Tok..Tok..
"Udah telat!" seru Kimora sembari melempar bantal ke arah kakaknya yang masih berdiri di tengah-tengah pintu.
"Ada apa sih?" tanyanya dengan kesal.
"Dicari Ayudya tuh.." jawab Aldo.
"Suruh kesini aja!"
"Taraaaa..." tiba-tiba Ayudya nonggol di belakang kakaknya. Dengan senyum khasnya Ayudya masuk ke kamar Kimora yang masih terbuka.
"Makasih bang Aldo.." kata Ayudya dengan gaya khas centilnya.
"Hmm.. Jangan berisik!" kata Aldo sebelum meninggalkan kamar adiknya.
"Siap bos.."
Ayudya segera menutup pintu kamar Kimora. Kemudian ia mulai melompat ke kasur Kimora. "Woi, anj*r lo.." seru Kimora hanya tubuhnya terpental naik turun.
"Kaki lo udah sembuh?" tanya Ayudya.
"Udah."
"Em, gue tahu, pasti itu cuma pura-pura biar digendong Elkhan kan? Ah basi modus lo.." ucap Ayudya menggoda Kimora.
"Nggaklah. Tanpa gue harus berpura-pura, kalau gue mau, pasti dia gendong gue dengan senang hati." jawab Kimora dengan tersenyum meledek. Lalu dia menjulurkan lidahnya.
"Hem.. pamer.." Ayudya mendengus.
Ayudya ikut tengkurap di sebelah Kimora. "Ra, tapi cowok lo itu emang the best sih. Dia kayaknya sayang banget sama lo. Setelah kejadian lo ngambek itu, dia bahkan bersikap dingin banget ke gue." kata Ayudya memuji Elkhan.
"Masa iya?" Ayudya menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Hem.. Kalau dia bukan cowok lo. Udah gue rebut dia." kata Ayudya sambil tersenyum.
"Lo sama Dian aja! Dia kecintaan banget sama lo." kata Kimora dengan tersenyum.
"Dia juga cakep sih, meskipun masih cakepan El. Juga keren dan fashionable." imbuh Kimora mempromosikan Dian.
"Iya sih. Tapi dia masih punya pacar. Gue nggak mau jadi pelakor. Kecuali dia udah putus. Gue akan pertimbangin lagi."
"Bener. Biarkan dia menyelesaikan urusannya dengan pacarnya dulu. Meskipun sebenarnya dia cuma main-main dengan yang lain, tapi setidaknya biarkan dia memberi kepastian kepada para gadis-gadis itu." sahut Kimora.
"Takhlukin dia, buat dia jadi cowok setia. Lo bisa?" Kimora memberi tantangan untuk temannya itu.
"Bisa." jawab Ayudya dengan yakin. Dia yakin bisa merubah Dian menjadi lelaki setia.
Ceklek.. Pintu kamarnya tiba-tiba kembali terbuka. Aldo kembali nongol. "Bang, ketuk pintu dulu!" seru Kimora dengan geram. Dia benar-benar kewalahan menghadapi kakaknya yang selalu memancing amarahnya.
Tokk.. Tokk..
__ADS_1
Lagi-lagi Aldo melakukan hal konyol. "Dicariin Elkhan tuh." kata Aldo.
Seketika Kimora langsung bangkit dan berlari ke luar kamar untuk menyambut kekasihnya. Bahkan dia sempat menabrak kakaknya juga saking semangatnya.
"Nih anak nggak ada rasa terima kasihnya." gerutu Aldo.
"Temen lo tuh.." ucap Aldo ke Ayudya yang masih stay di kamar adiknya.
"Adik lo kan?" balas Ayudya dengan tersenyum.
Aldo menghela nafas. "Lo nggak mau ke depan juga?" tanyanya.
"Nggak. Gue nggak mau jadi setan. Kan kalau orang berduaan, yang ketiganya setan." jawab Ayudya.
Aldo tersenyum mendengar jawaban itu. "Bener kalau kalian temenan. Sama-sama konyol." kekehnya sambil meninggalkan kamar adiknya yang dijaga oleh Ayudya.
Di ruang tamu.
Kimora menemui Elkhan yang datang membawa makanan untuknya. "Itu apa?" tanya Kimora.
"Kue bikinan mama. Dia khawatir sama lo. Tadi aja maksa mau ikut kesini."
"Di depan ada mobil, temennya bang Aldo?" Kimora menggelengkan kepalanya.
"Temen gue. Dia di kamar sekarang."
"Temen lo? Siapa? Cowok atau cewek?" Elkhan merasa tidak mengenal mobil itu.
"Cewek lah. Masa iya cowok ke kamar gue. Mau digantung bang Aldo hidup-hidup?"
"Terus siapa?" Elkhan semakin penasaran.
"Yank... serius, siapa?"
"Ayudya." Elkhan membulatkan matanya.
"Ayu..dya? anak baru di kelas gue?" Kimora menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Ka...kalian?"
"Ya. Dia temen kecil gue yang baru pindah dari luar kota. Kita sengaja pura-pura tidak kenal untuk menguji lo." Kimora berkata terus terang kepada Elkhan.
"Jadi dia deketin gue itu rencana lo?"
"Hmm.. maaf.."
"Lo nggak takut gue direbut?" Elkhan nampak kesal.
"Kalau itu Ayudya gue nggak takut. Karena dia tidak akan pernah khianati gue. Kalau itu orang lain, gue akan ajak dia duel." kata Kimora membuat Elkhan tersenyum.
Dia pun segera memeluk Kimora dengan erat. "Yank, lain kali jangan seperti itu! Kalau gue direbut gimana?" katanya masih dengan kesal.
"Gue percaya sama lo." jawab Kimora.
"Yank.." Elkhan pun terharu. Dia semakin erat memeluk Kimora.
"Kalau emang percaya kenapa mata-matain gue?" tanya Elkhan lagi.
"Gue nggak mata-matain lo. Orang Ayudya pindah ke sekolah kita awalnya gue juga nggak tahu. Tapi, begitu tahu dia sekelas sama lo, gue punya ide itu." Kimora mendongakan kepalanya. Dia menatap Elkhan yang masih memeluknya.
__ADS_1
"Dasar nakal.." katanya menyentil hidung Kimora.
"Kakinya masih sakit?" Elkhan menunduk untuk memeriksa lutut Kimora yang sempat terluka.
"Nggak." jawab Kimora menggelengkan kepalanya.
"Keluar yuk cari jajan!" ajak Elkhan.
"Tapi Ayudya?"
"Diajak aja, biar jadi nyamuk." Elkhan berkata sambil terbahak.
"Gue tanya dia dulu mau ikut atau nggak, sekalian gue ganti baju." Kimora meninggalkan Elkhan dan pergi ke kamar untuk mengajak Ayudya jalan-jalan bersamanya.
"Lo sama Elkhan, gue sendiri gitu? Ogah banget.." Ayudya langsung menolak.
"Gue ajak Dian juga."
"Kalau itu gue mau."
"Ah ngomong aja kalau lo sebenarnya itu mau lo kan?" seru Kimora.
"Bukan gitu. Kalau gue sendirian, gue jadi setan dong. Katanya kalau orang berduaan, yang ketiganya setan." jawaban itu sama persis dengan yang Ayudya bilang ke kakaknya Kimora.
Dan, reaksi Kimora dan kakaknya pun sama. Mereka tertawa mendengar jawaban konyol Ayudya.
"Lama nggak ketemu, tapi kita tetap satu server ya, Ra?" Kimora semakin terbahak mendengar perkataan Ayudya.
Setelah berganti pakaian. Kimora kembali ke ruang tamu bersama dengan Ayudya. Tapi, betapa terkejutnya mereka melihat Dian sudah ada di ruang tamu juga.
"Kapan datang nyet?" tanya Kimora.
"Baru juga mau gue telepon." imbuhnya.
"Baru aja. Gue sebenarnya cuma mau nganter minuman dan camilan kesukaan lo." Dian menunjuk buah tangan yang dibawa.
"Tumben baik lo.."
"Gue kan ngerasa bersalah sama lo, anj*r.."
"Hai lo disini juga? Kalian udah deket?" sama seperti Elkhan. Dian juga terkejut melihat Ayudya di rumah Kimora.
"Kita mah udah deket dari bayi kalik.." Ayudya menganggukan kepalanya cepat.
"Jadi kalian sebenarnya udah kenal?" kini giliran Kimora yang menganggukan kepalanya.
"Tapi kenapa lo selalu nggak mau kalau gue minta deketin Ayudya?"
"Karena gue mau lo usaha sendiri. Lagipula lo juga belum putus, gue nggak mau sahabat gue dibilang rebut lo dari pacar lo." jawab Kimora.
"Tapi emang udah direbut sih.." Dian menatap hangat ke arah Ayudya.
"Tapi itu kan karena lo yang keganjenan. Pokoknya kalau lo masih gantungin pacar lo, jangan harap bisa deketin Ayudya!" seru Kimora.
"Kasihan mereka lo gantungin. Kalau emang nggak suka, ya kasih mereka kepastian!" cerocos Kimora terus mengomeli Dian.
"Heh, lo denger nggak sih!" Kimora murka dan memukul lengan Dian dengan cukup keras.
"Iya denger. Jangan gangguin gue lihatin ciptaan Tuhan paling indah dong." jawab Dian tanpa melepaskan pandangannya dari Ayudya.
__ADS_1
Sedangkan Ayudya hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Dian. "Kata manis seperti itu tidak akan mempan untuk gue. Gue lebih suka bukti daripada kata-kata yang manis." kata Ayudya.