Sweet 17

Sweet 17
46


__ADS_3

BAB 46


Siang itu Raisa nekad mendatangi kantor Gio. Dengan alasan dia ingin menunjukan nota berobat dia. Karena setelah hari itu, Gio sama sekali tidak mau membalas pesan yang Raisa kirim.


Sebelum datang, Raisa memberitahu Gio terlebih dahulu jika dia akan pergi ke kantornya. "Kak, aku mau ke kantor kamu. Mau kasih nota pengobatan aku." tulis Raisa melalui pesan wa.


"Saya transfer aja." jawab Gio tidak mau membuat istrinya salah paham lagi. Sebisa mungkin Gio menghindar dari hal-hal yang akan membuat rumah tangganya berantakan.


Bukan sombong, tapi dia sadar dengan posisi dan status sosialnya. Dia pasti menjadi incaran para wanita yang ingin numpang hidup. Dan juga para pelakor.


"Aku udah di lobby kantor kak Gio." tulis Raisa kembali.


"Tunggu di kafe depan kantor aja!" balas Gio lagi.


Segera, Gio menuju kafe yang tidak jauh dari kantornya. Dia hanya ingin menemui Raisa sebentar. Setelah membayar ganti rugi, dia akan segera kembali.


Saat Gio sampai di kafe. Raisa telah menunggunya dengan sabar. Entah kenapa Raisa ingin selalu bertemu dengan Gio. Perasaan itu muncul saat pertama melihat Gio. Hatinya berdebar cukup kencang. Meskipun tahu Gio telah berkeluarga. Tapi Raisa seolah tidak peduli.


Dengan langkah pasti, Gio mendekat ke meja Raisa. "Berapa yang harus saya bayar?" tanya Gio tanpa duduk terlebih dahulu.


"Aku udah pesan makanan untuk kita. Kita makan siang dulu ya kak, aku laper." pinta Raisa.


"Terima kasih, tapi saya udah makan." jawab Gio menolak.


Namun, Raisa tidak peduli dengan penolakan Gio. Dia berdiri lal menggandeng tangan Gio. Memaksanya untuk duduk terlebih dahulu.


"Saya masih banyak pekerjaan." kata Gio menarik tangannya kembali. Tapi Raisa memegangnya dengan cukup erat.


"Duduk dulu kak, cuma makan aja kok. Please kak.." Raisa terus memohon.


Masih dengan memegangi tangan Gio. Bahkan dia juga dengan sengaja menempelkan dadanya ke lengan Gio. "Please kak.." mohonya sambil menggoyang-goyangkan tangan Gio. Sehingga Gio merasakan sesuatu yang begitu empuk.


"Iya. Tapi lepasin dulu!" Gio menarik tangannya. Barulah, Raisa melonggarkan pegangannya.


Gio pun segera duduk dengan terpaksa. Meskipun sebenarnya dia menahan rasa kesalnya. Kesal karena Raisa makin berlebihan menurutnya.


"Mau cash atau transfer?" tanya Gio terus merasa gusar.


"Bentar lah kak, aku makan dulu." kata Raisa dengan santai. Bahkan dia masih dengan anggun menikmati makanannya.


"Saya masih banyak kerjaan." kata Gio semakin tidak sabar.


"Kak, sudah lama kita tidak bertemu. Kak Gio juga tidak membalas chat aku. Sekarang, akhirnya kita bisa bertemu. Aku seneng banget, sampai-sampai nggak mau lepasin kak Gio." kata Raisa dengan begitu santai.

__ADS_1


"Maaf, saya sudah berkeluarga-"


"Terus kenapa? Apa aku tidak boleh suka sama kak Gio? Aku juga nggak tahu kenapa, tapi sejak ketemu kak Gio. Aku selalu ingin dekat sama kak Gio." Raisa memotong perkataan Gio. Dia bahkan dengan berani mengungkapkan perasaannya.


"Saya sudah berkeluarga, maaf silahkan cari yang lain saja!" kata Gio dengan tegas. Cintanya kepada anak dan istrinya tidak bisa digoyahkan oleh siapapun.


"Aku tidak peduli kak.." seru Raisa.


"Saya kesini untuk membayar ganti rugi. Jadi kalau kamu seperti ini, silahkan temuin assisten saya untuk meminta uang gantinya. Mulai sekarang, saya harap, kita tidak lagi saling mengenal." seketika Gio beranjak dari tempat duduknya.


Dengan tegas dia menolak ungkapan hati Raisa. Dia tidak tahu apakah Raisa beneran suka sama dia. Atau hanya karena status sosialnya. Yang jelas, Gio tidak ingin menodai rumah tangganya dalam bentuk apapun.


"Kak, jangan gitu! Maafin aku." Raisa menyusul Gio kemudian memeluk Gio dari belakang.


Gio pun terkejut dengan apa yang Raisa lakukan. Segera dia membuka tangan Raisa yang melingkar dipinggangnya. Tapi ternyata tidak semudah itu. Raisa tidak mau melepaskan pelukannya. Dia bahkan semakin erat memeluk Gio.


"Tolong jaga sikap kamu!" ucap Gio dengan marah.


"Kak, aku tidak peduli kakak sudah berkeluarga, aku suka sama kak Gio.." Raisa berkata sembari terisak.


"Aku mau jadi yang kedua.." imbuhnya.


Gio segera berbalik. Dia tahu jika dia menggunakan cara kasar. Raisa akan semakin menggila dan tentunya akan mencoreng harkat dan martabatnya. Karena wanita seperti Raisa ini sukanya diangkat, walau akhirnya harus dibanting.


"Tapi aku maunya kak Gio.." Raisa ingin kembali memeluk Gio. Tapi dengan cepat Gio menahannya.


"Saya sudah berkeluarga, saya juga tidak mau mengkhianati istri dan anak saya. Saya mencintai mereka."


"Aku bisa puasin kak Gio.. Aku akan nurut apa kata kak Gio.." Raisa memaksa memeluk Gio kembali.


Gio malu karena banyak orang yang melihat. Dia terus membujuk Raisa agar melepaskannya. Tidak mungkin dia akan melakukan hal kasar karena dia juga tahu resikonya.


"Maaf." kata Gio berusaha melepas pelukan Raisa.


"Gio!! Apa yang kamu lakukan?" tiba-tiba seorang paruh baya datang ke kafe tersebut. Dia adalah Darius papanya Gio.


Beberapa menit yang lalu Darius mencari Gio. Tapi kata sekretarisnya Gio sedang makan siang di kafe depan kantor. Darius pun mencarinya tapi dia malah melihat anaknya bersama dengan wanita lain.


Seketika Gio menoleh. Dia melihat papanya berjalan masuk ke kafe dengan wajah marah. "Papa?" gumamnya.


Raisa pun seketika terkejut mendengarnya. Dia mulai melonggarkan pelukannya karena terkejut. Itu menjadi kesempatan Gio untuk mendorong Raisa menjauh.


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu gila?" seru Darius dengan marah.

__ADS_1


"Kamu tidak pikirin perasaan Alenka? Tidak pikirin perasaan El dan Kayra?" Darius sangat marah. Bahkan dia menatap Gio dengan tajam.


"Papa sudah bilang, kalau kamu sudah tidak mencinta istri kamu, kembalikan dia ke orang tuanya. Jangan sakiti dia dengan cara seperti ini! Alenka bukan hanya menantu papa, tapi dia anak perempuan papa." Gio baru pertama kali melihat papanya marah seperti ini.


"Ini tidak seperti yang papa bayangin." Gio mendekati papanya dan hendak menjelaskan semuanya.


"Lalu seperti apa yang benar?" tiba-tiba Alenka juga muncul. Wajahnya jelas sekali terlihat bahwa dia sedang marah.


"Makan siang bareng, peluk-pelukan di depan umum. Apa yang akan kamu jelasin?" tanya Alenka lagi.


"Ma.." Gio mulai kelabakan.


"Udahlah kak, kamu jujur saja sama istri kamu. Kalau kita memang-"


"Diam!!!" seru Gio mendorong Raisa menjauh. Bahkan saat Raisa terjatuh, Gio tidak peduli.


"Saya harap ini terakhir kalinya saya ketemu kamu!" kata Gio dengan marah.


Dia segera mendekati istrinya yang nampak begitu sangat kecewa kepadanya. "Ma, papa bisa jelasin." kata Gio meraih tangan Alenka. Tapi dengan cepat Alenka menepisnya.


"Kita pulang dan bicarain semuanya di rumah!" Darius tidak ingin permasalahan anak-anaknya menjadi konsumsi publik.


"Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, pa. Aku udah membuat keputusan. Aku akan tinggalin Gio, agar dia bisa bahagia dengan wanita pilihannya." kata Alenka yang membuat Gio dan Darius kaget.


"Ma.. jangan kayak gini dong. Papa nggak mau ditinggal. Kamu udah janji akan selalu temani papa sampai kapanpun. Aku nggak mau, ma.." Gio memohon kepada istrinya agar tidak meninggalkannya.


"Al, jangan ambil keputusan saat hati kamu sedang marah. Pikirkan dengan kepala dingin ya! Kasihan El dan Kayra." Darius membujuk menantunya agar memikirkan kembali keputusannya.


"Aku udah pikirin pa. Gio kepergok sama wanita ini bukan cuma sekali ini saja. Waktu itu dia juga kepergok nganterin wanita ini ke rumah sakit." jawab Alenka masih kekeh untuk meninggalkan suaminya.


"Masalah anak-anak, biarkan mereka memilih mau ikut mamanya atau papanya." imbuh Alenka. Sebisa mungkin Alenka menahan air matanya. Hatinya sangat sakit saat. Dia bahkan sama sekali tidak mau melihat Gio.


"Ma.."


"Al.."


"Aku udah pikirin. Maafin aku yang belum bisa jadi menantu yang papa dan mama mau." kata Alenka menahan air mata yang tinggal menunggu meledaknya saja.


"Kamu ngomong apa sih ma? Papa nggak mau ditinggalin. Papa nggak bisa hidup tanpa mama." Gio menyentuh Alenka tapi Alenka selalu menepisnya.


Sesaat kemudian Alenka berlari keluar dari kafe tersebut. Gio segera mengejar istrinya.


Sementara Darius mendekati Raisa yang menyaksikan kejadian tersebut secara gratis. "Berapa yang kamu mau? Tolong tinggalin anak saya!" tanya Darius.

__ADS_1


"Datang ke kantor saya besok untuk ambil uangnya!" lanjut Darius kemudian dia mengikuti anak dan menantu. Berharap tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan rumah tangga anaknya.


__ADS_2