Sweet 17

Sweet 17
53


__ADS_3

BAB 53


Ternyata rasa cinta yang begitu besar membuat Elkhan tidak sanggup melupakan Kimora. Dia bahkan selalu teringat dengan senyuman dan canda tawa Kimora. Itu yang membuatnya bertekad mengikuti Kimora sampai ke mall.


Karena hanya dengan Kimora, dia bisa meluapkan emosi dan amarahnya. Ia tidak malu ketika menangis di depan Kimora. Baginya, Kimora adalah tempat ternyamannya untuk bersandar.


Setelah mengantar Kimora pulang. Ternyata Linda juga menunggunya di rumah. Elkhan sempat terkejut melihat mobil Linda yang terparkir di depan rumahnya.


Namun, dengan melangkah santai. Ia segera masuk ke rumahnya. "El.." dia disambut oleh mamanya.


"Kamu darimana aja? Temen kamu nungguin." tanya Alenka yang sempat ngobrol dengan Linda.


"Antar Ara pulang." jawabnya.


"Kamu antar Ara pulang? Kalian??" tanya Alenka lagi. Harapannya tetap sama, dia ingin anaknya balikan dengan Kimora.


Menurutnya, ada perubahan yang lebih baik saat Elkhan berpacaran dengan Kimora. Apalagi Alenka juga sangat menyukai Kimora.


"Belum."


"Oh.." ada kekecawaan yang terlihat dari raut wajah Alenka.


"Ya udah kamu ngobrol sama temen kamu dulu. Mama mau ke kamar Kayra." Alenka segera beranjak.


Elkhan sebenarnya sedang dalam mood yang kurang baik. Tapi, dia berusaha terlihat biasa saja. Ya, dia merasa bersalah juga karena melibatkan Linda tadi.


"Sorry ya Lin, tadi gue tinggal?" katanya meminta maaf.


Linda hanya tersenyum kecil. "Udah makan belum? Keluar yuk cari makan!" ajak Linda.


"Gue masih kenyang."


"Oh.." raut wajah Linda tidak bisa disembunyikan. Bahwa dia terlihat kecewa.


"Kalau laper makan disini aja! Atau ntar malam aja gue temenin. Sekarang gue mau istirahat, capek banget soalnya." kata Elkhan.


Sebagai tanda permintaan maafnya. Elkhan mengajak Linda makan nanti malam saja. Sekarang, dia benar-benar dalam mood yang sangat buruk.


"Oh, iya. Maaf ya El udah ganggu.. Gue balik dulu." Linda segera berpamitan. Dia termasuk orang yang cerdas. Ketika Elkhan bilang capek, dia segera pamit pulang. Dia tahu jika Elkhan sedang tidak mood sekarang.


Setelah Linda pulang. Elkhan berjalan menuju kamarnya. Tapi ternyata mamanya menyusul dibelakang. "El.." serunya saat Elkhan hendak menutup pintu kamarnya.


"Kenapa ma?" tanya Elkhan.


"Mama pengen ngobrol sama kamu." Elkhan pun membuka pintu kamarnya lebar-lebar supaya mamanya bisa masuk.


"Kenapa ma?"

__ADS_1


"El, kenapa kamu mutusin Ara malam itu?" tanya Alenka tanpa basa basi. Selama beberapa hari ini dia kepikiran akan hal tersebut.


Apa alasan anaknya mutusin Kimora. Padahal dia bisa melihat jika anaknya masih mencintai wanita dengan bibir tipis dan mata agak besar itu.


"Kalau nggak mau jawab nggak apa-apa, maaf mama kepo. Mama janji nggak ikut campur lagi, mama.. mama balik ke kamar dulu." menyadari kesalahannya, Alenka segera berjalan keluar dari kamar Elkhan.


"Ma.." tapi Elkhan menahan tangannya.


"Iya nak, kenapa?"


Elkhan tiba-tiba langsung memeluk mamanya. Tentu saja itu membuat Alenka menjadi bingung. "Kenapa El?" tanyanya lagi.


"Maafin aku.." lirih Elkhan.


Alenka memicingkan matanya. Dia tidak tahu apa yang membuat anaknya harus meminta maaf kepadanya. Lalu apa hubungannya dengan pertanyaan yang dia tanyakan.


"Tenangin diri kamu! Coba katakan pelan-pelan, kenapa kamu minta maaf ke mama!" Alenka dengan sangat lembut memeluk anaknya.


"El masih cinta sama Ara.."


"Iya terus kenapa?" Alenka semakin bingung. Bukankah selama ini dia merestui hubungannya dengan Kimora. Tapi kenapa Elkhan meminta maaf.


"Kalau kamu emang cinta sama Ara, kenapa kamu putusin dia?" tanya Alenka lagi.


Elkhan melepas pelukannya. Dia berjalan menuju sofa di depan ranjangnya. Dan Alenka pun mengikuti.


"Mama sama papa beneran akan berpisah?" tanya Elkhan.


"Mama hanya marah saja sama papa kamu. Yang jelas, mama hanya cemburu. Sudah sangat lama mama hidup bersama papa kamu, mama nggak rela kalau papa kamu direbut orang lain." lanjut Alenka.


"Papa kamu semakin tua semakin ganteng, sedangkan mama semakin tua semakin kisut. Jadi mama takut papa kamu akan berpaling." imbuhnya.


"Nggak, mama tetap cantik. Mama wanita tercantik di dunia ini." kata Elkhan. Alenka pun tersenyum.


"Lagipula semua kan tidak ada hubungannya dengan Ara. Kenapa kamu putusin dia?" Alenka masih bingung.


"Wanita itu adalah kakak sepupu Ara." jawab Elkhan.


"Wanita itu? Maksud kamu wanita yang suka sama papa kamu?" Elkhan menganggukan kepalanya.


"Iya. Dia kakak sepupu Ara."


"Ara tahu kalau dia rayu papa kamu?" Elkhan menggelengkan kepalanya lagi.


"Berarti Ara tidak bersalah dong.." kata Alenka.


"Nak, mama sama papa tidak masalah kamu mau pacaran dengan siapa aja. Yang penting kamu bahagia. Kebahagiaan kamu dan adik kamu, segalanya untuk mama dan papa." Alenka mengelus punggung Elkhan dengan begitu lembut.

__ADS_1


"Kalau kamu masih cinta sama Ara, kamu kejar dia lagi, jelasin kenapa kamu putusin dia!"


Elkhan terdiam. Apakah mungkin dia bisa kembali dengan Kimora. Mengingat Kimora orang yang sulit sekali ditakhlukan. Tapi, dia lebih tidak rela jika Kimora dimiliki lelaki lain.


"Ara dingin banget sama aku, ma." keluh Elkhan.


"Pasti dong.. Kamu putusin dia tanpa sebab. Dan kamu juga sudah dekat dengan wanita lain lagi. Pasti Ara marah. Kalau itu mama, mama juga akan marah." jawab Alenka.


"Mama dulu sama papa kamu juga pernah seperti kamu dan Ara gini. Situasinya juga sama, tapi papa kamu nggak berani putusin mama." Alenka tersenyum teringat kenangan masa mudanya.


"Itu semua juga karena kesalahpahaman. Setelah dibicarakan dengan baik, akhirnya kita balikan. Karena kita memang masih saling cinta." lanjut Alenka.


"Papa kamu sama kayak kamu sekarang ini. Banyak sekali wanita yang mengejarnya, padahal mereka tahu jika papa kamu sudah sama mama." imbuh Alenka kembali tersenyum.


"Karena sering banget muncul kesalahpahaman antara mama dan papa, akhirnya kita memutuskan untuk menikah waktu masih sekolah." kata Alenka lagi.


"Kalau gitu El juga mau nikah sekarang sama Ara. Supaya kita tidak terus menerus salah paham." sahut Elkhan.


"El, setelah mama dan papa nikah. Kita juga sering salah paham. Jadi intinya, dalam sebuah hubungan akan selalu terjadi salah paham. Tinggal bagaimana kita mensikapinya."


"Nikmati masa muda kamu, nak! Nikmati momen bahagia kamu bersama teman-teman kamu. Menikah itu kamu harus siap bertanggung jawab atas hidup seseorang secara lahir dan batin."


"Umur kamu masih tujuh belas tahun kan?" Elkhan menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Diusia itu seseorang sedang berusaha mencari jati diri. Diusia itulah banyak kenangan yang terukir. Jadikan tujuh belas tahun kamu menjadi tujuh belas tahun yang manis. Karena di depan kamu masih banyak cita-cita yang harus kamu gapai!" pesan Alenka kepada anak sulungnya.


"Tapi ingat! Apapun itu, mama dan papa akan selalu dukung kamu." Elkhan mempererat pelukannya. Dia bersyukur memiliki orang tua yang begitu sangat menyayanginya.


"Aku sayang sama mama." kata Elkhan.


Alenka tersenyum mendengar perkataan anaknya. Setelah menginjak usia remaja. Mungkin kata itu baru didengar oleh Alenka.


Elkhan yang merupakan duplikasi dari papanya. Bersifat dingin tapi penyayang. Anak lelaki yang lahir disaat usianya masih belum genap sembilan belas tahun.


"Aku juga sayang sama mama." sahut Kayra yang tiba-tiba muncul dikamar kakaknya.


Kayra lalu memeluk mamanya juga. "Mama juga sayang sama kalian. Kalian adalah nyawa mama." ucap Alenka memeluk kedua anaknya di kedua tangannya.


"Papa juga sayang sama kalian. Kalian berdua kekuatan sekaligus kelemahan papa." ternyata Gio juga masuk ke dalam kamar Elkhan.


"Kay, El, maafin papa ya kalau papa buat kalian kecewa. Tapi, yang kalian harus tahu. Dalam hidup papa, tidak ada wanita yang bisa membuat papa jatuh cinta seperti ini selain mama kalian. Papa bisa kehilangan segala, tapi tidak untuk mama kalian dan kalian." kata Gio.


"Pa.." Kayra segera berlari memeluk papanya. Sudah beberapa hari setelah kejadian itu. Kayra sama sekali tidak mau mendekat bahkan bicara dengan papanya.


"Kay, jangan marah sama papa lagi ya? Papa sedih.." kata Gio.


Sementara Kayra menangis dalam pelukan papanya sembari menganggukan kepalanya. Gio mengisyaratkan supaya Elkhan mendekat.

__ADS_1


Kemudian dia juga memeluk anak laki-lakinya. Dia mencium puncak kepala anak-anaknya. Lalu meminta Alenka mendekat juga.


Keluarga yang terdiri dari empat orang itu saling berpelukan dengan bahagia. "Papa sayang sama kalian." ucap Gio lagi.


__ADS_2