Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Albert tampak tergesa menaiki CRV silver metaliknya.


Dia baru saja mendapat telpon dari sekolah adiknya.


Untuk kesekian kalinya Jimmy berkelahi di sekolah.


"Albert....." teriak tantenya.


Albert membuka jendela mobilnya.


"Iya tante..."


"Jangan dikasari Jimmy ya....mungkin tante yang salah memanjakannya."


Albert mendengus mendengar pembelaan tantenya.


Albert segera melajukan mobilnya ke sekolah Jimmy.


Sampai di sekolah, seperti biasa, dia harus mendengar penjelasan guru BK tentang kenakalan adiknya.


Albert menatap Jimmy, sedangkan Jimmy hanya menundukkan wajahnya yang lebam.


"Sekarang....apalagi alasannya Jim ?"


Albert melipat tangan didada, sedangkan Jimmy hanya diam masih tetap menundukkan wajahnya.


"Apa sebaiknya kamu ikut tante Debby ke desa, sekolah di sana ?"


Jimmy mendongak.


"Bang...."


"Apa...?" tanya Albert geram.


"Sampai kapan kamu seperti ini Jim? Kamu harusnya memberi contoh yang baik untuk Cindy."


"Abang tidak pernah tahu apa yang terjadi pada kami dan abang gak peduli pada kami." nafas Jimmy naik turun menahan kekesalannya.


"Jim...." bentak Albert.


Jimmy meninggalkan Albert dengan kesal.


Albert mengepalkan tangan menahan amarahnya.


Sampai dimobil Albert melihat ponselnya, ada beberapa panggilan dari sekretarisnya. Ia ingat hari ini ada janji ketemu dengan Rama.


Albert melihat arloji dan segera menyalakan mobilnya.


Sampai di depan kantor Albert segera memarkir mobil dan bergegas masuk ke dalam. Karena buru - buru, dia tidak melihat ada orang dibalik pintu menuju ke ruangan Ayu.

__ADS_1


“Awww...”jeritan seseorang membuat Albert mengeryitkan dahinya.


“Oh...maaf maaf mba...saya tidak lihat ada orang tadi...maafkan saya...” kata Albert merasa bersalah terlebih melihat dahi wanita didepannya berdarah. Ingatkan Albert untuk mengganti pintu kaca itu dengan pintu geser sensor gerak.


“Ah...dahi mba berdarah...mari masuk dulu”


Wanita itu mencari keseimbangan karena kepalanya pusing. Albert segera meraih lengannya dan membantunya berjalan ke ruangannya.


“Ayu...bisa ambilkan kotak P3K dan tolong bawa ke ruangan saya” kata Albert kepada sekretarisnya.


Si sekretaris mengangguk dan keluar ruangan.


Albert mengambil dokumen dan tas wanita yang terjatuh itu.


“Gimana kalo kita ke ruangan saya mba...? Tanya Albert.


“Maaf pak” sahut wanita itu.


“Oh..seharusnya saya yang minta maaf, saya Albert” kata Albert sambil mengulurkan tangannya.


Wanita itu agak tersentak dan menatap Albert. Taklama dia tersenyum dan membalas uluran tangan Albert.


Albert menatap wanita didepannya dan ada desir aneh di dadanya.


Wajah wanita itu tampak cantik dengan kulit kuning langsat dan bersih. Rambutnya yang di ikat membuat wajahnya terlihat cantik dan anggun.


“Adora, panggil saja Rara.”


“Maaf pak Albert, ada yang salah dengan penampilan saya?”


“Oh..tidak. Anda cantik” Kata Albert yang kemudian menyadari kelancangannya “Maaf”


Rara menjadi salah tingkah.


Tak lama, Ayu datang membawa kotak P3K.


“Ayu...tolong mba Rara ya...”pinta Albert


Si sekretaris mengangguk.


“Saya aja mba...gak papa kok...” kata Rara


“Biarkan Ayu aja Ra...”Sahut Albert


Albert melihat Rara merengut tidak suka dengan perkataan Albert. Albert tersenyum kecil.


Ayu mulai membersihkan luka dikening Rara dan menutup lukanya dengan plester. Rara meringis...meskipun cuma tergores tetapi lukanya terasa perih.


Albert membuka aplikasi Go Food dan memesan makanan. Dia tahu dari tante Deby jika Rara mempunyai sakit maag, jadi dia tidak ingin membuat Rara terlambat makan siang.

__ADS_1


Setelah Ayu selesai mengobati Rara, Albert mendekati Rara dan duduk di sofa didepan Rara.


“Oh...maaf pak Albert, sebenarnya saya tadi mau pulang. Jadi...saya...”belum selesai Rara melanjutkan kalimatnya Albert sudah menimpali.


“Duduk dulu Ra, kamu mau bertemu saya kan ?”


“Tapi pak..”


“Panggil saya Albert..please” Albert menatap Rara


Rara menghela nafas.


“Tapi..saya sebenarnya udah mau pergi tadi...”kata Rara sembari membereskan tas dan memasukkan dokumennya ke dalam tas.


Albert menatap Rara yang sedang berkutat dengan tas dan dokumennya.


Pintu diketuk dan Ayu membawa makanan pesanan Albert.


“Taruh di meja itu Ayu” kata Albert sambil menunjuk meja tamu di ruangannya. Ayu mengangguk dan menaruh makanan tersebut di meja yang ditunjuk Albert.


“ Terima Kasih Ayu..” Albert tersenyum.


Ayu meninggalkan ruangan.


“Ok pak Albert...saya permisi dulu ya” kata Rara seraya berdiri.


Albert berdiri menghampiri Rara yang bersiap mau keluar ruangan.


“Ra...please..., makan dulu.” katanya seraya mengambil tas Rara dan meletakkannya di kursi.


“Tapi pak...”


Albert melotot. “Just Albert please...”


Albert meraih tangan Rara dan mengajaknya duduk di kursi tamu..


“Tapi...Paak..hem...Albert...maaf saya harus pergi” katanya saat Albert menatapnya


“Boleh..tapi setelah makan ya...anggap saja sebagai permintaan maaf karena membuat dahimu luka dan..karena menungguku terlalu lama...” katanya sambil tersenyum.


Rara melirik Arlojinya...pukul 13.30


Albert melihat Rara sedang berpikir.


“Hmmm...baiklah...maaf diterima” Jawab Rara tersenyum


Dia melihat menu makanan yang ada didepannya.


“Kuharap kau menyukainya” Albert tersenyum. Albert memesan spagety dan jus alpukat, makanan dan minuman kesukaan Rara.

__ADS_1


“Ya...bisa dibilang begitu, terima kasih” Rara tersenyum.


Mereka pun mulai mengambil makanan dan mulai memakannya.


__ADS_2