
Cindy mendekati Jimmy yang menatapnya heran. Kemudian dia mengajak Jimmy keluar.
"Apa sih Cin." kata Jimmy sambil melepas tangan Cindy yang memegang lengannya.
"Bang Albert terpesona sama kakak." kata Cindy sambil tertawa.
Jimmy menoleh dan melihat abangnya yang mengelus lehernya.
"Oh....abang lucu ya." kata Jimmy tertawa kecil.
"Oh ya bang. Kita mau kemana sih." tanya Cindy penasaran.
"Abang juga gak tahu Cin. Diajakin ya ikut aja."
Cindy menganggukkan kepalanya.
Taklama Albert dan Rara mendekati mereka.
"Yuk kita berangkat." kata Albert.
Merekapun berjalan menuju tempat parkir. Rara sudah tidak heran jika Albert berganti-ganti mobil karena selain mempunyai showroom mobil di garasi rumahnya juga terparkir beberapa mobil.
Kali ini Albert membawa CRV hitamnya. Dan merekapun masuk ke dalam mobil.
"Jim, jangan lupa bawa undangannya. Nanti kalian nggak bisa masuk." kata Albert sambil menyerahkan kertas berwarna gold ke Jimmy.
Jimmy menerimanya dan membaca sekilas.
"Ini...kamu yang bawa Ra. Aku hanya mendampingi kamu." kata Albert juga mengangsurkan kertas gold itu.
Rara menerimanya dan terdiam. Kemudian dia menatap Albert.
"Al..."
"Maaf."
Rara menghela nafas, kemudian memasukkan kertas itu ke dalam tas tangannya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Rara diam. Albert juga belum berani membuka pembicaraan. Dalam hati dia merutuki Rama yang memberi ide untuk menghadiri resepsi pernikahan Pandu Jayadi.
Sampai di depan hotel tempat acara. Albert menghentikan mobil di depan lobby.
"Jim, Cin, kalian masuk dulu ya, ada yang mau abang omongin sama kak Rara." kata Albert.
Jimmy dan Cindy menganggukkan kepala.
Albert mengajak Rara ke resto hotel.
"Al...apa tidak sebaiknya kita masuk bersama dengan Jimmy dan Cindy ?" tanya Rara saat Albert memintanya duduk.
Albert menatap Rara.
"Ra....aku minta maaf. Ini semua ide Rama tapi tetap aku yang menyetujuinya. Aku hanya ....."
Rara tersenyum. " Aku tahu."
"Kalau...kalau kamu belum siap kita bisa balik aja." kata Albert gugup.
"Kamu yakin ?"
Rara mengangguk mantap. " Tentu saja."
Albert menghela nafas lega.
Kemudian dia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Rara.
Albert dan Rara pun masuk. Mereka melihat ruangan resepsi yang sangat megah dengan hiasan bunga di setiap sudutnya.
Rara menghela nafas lega saat konsep dekorasi yang diusung berbeda dengan bayangannya. Tidak terbayangkan jika konsepnya sama dengan konsep pernikahan yang dia dan Pandu rencanakan. Tapi kan selera dia dan Sisca memang berbeda ya.
Rara tersenyum tipis.
Tapi Albert yang berjaga-jaga karen merasa bersalah melihat senyum Rara. Dan dia penasaran.
"Kenapa Ra ?" tanya Albert.
__ADS_1
Rara menoleh dan mendapati Albert menatapnya penasaran.
"Apa ?"
"Kenapa kamu tersenyum?"
Rara mengerjapkan matanya.
"Ra.., sekali lagi maaf."
"Aku nggak papa Al. Makasih udah ajak aku kesini dan dampingi aku. Itu sangat berarti." kata Rara seraya mengeratkan genggaman Albert.
Albert menatap tautan tangan mereka dan tersenyum.
"Baiklah. Ta..pi, kalau kamu nggak nyaman bilang ya." kata Albert.
"Pasti." kata Rara sambil menganggukkan kepala.
Merekapun mencari keberadaan Jimmy dan Cindy yang akhirnya ketemu di stan makanan yang disediakan.
Rara melihat Pandu dan Sisca yang berdiri di pelaminan. Mereka terlihat bahagia. Senyum jelas menghiasi bibir Sisca.
Dan Pandu....entahlah. Rara bisa melihat senyum terpaksa dari bibirnya.
Kenapa dia tidak merasakan debar yang dulu pernah dirasakannya saat melihat Pandu. Apakah rasa itu udah nggak ada lagi.
"Ra..." panggil Albert sambil meraih pinggang Rara hingga tubuh mereka sangat berdekatan.
Rara mendongak dan mendapati wajah Albert yang sangat dekat.
"Al..."
"Are you okay ?"
Rara tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Never better." jawabnya
__ADS_1