Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Jati Diri


__ADS_3

"Siapa kamu sebenarnya Albert ?" ulang Rara.


Albert menghela nafas. Kemudian dia mendekat ke Rara.


"Aku akan mengatakannya. Tapi aku mohon, jangan benci aku, jangan menjauh dari aku."


Rara menatap Albert tajam.


"Kenapa aku harus melakukannya ? Apa yang kamu sembunyikan ?"


"Berjanjilah Ra."


Rara menghela nafas. "Baiklah."


Albert tersenyum. "Kita duduk aja di sofa"


Rara menganggukkan kepala. Kemudian dia pun mengikuti langkah Albert yang berjalan menuju ruang tengah.


Albert duduk di sofa tunggal sedangkan Rara duduk di sofa panjang.


"Apa yang ingin kamu ketahui dariku Ra?" kata Albert sambil melipat tangannya.


"Siapa kamu Al? Apa yang kamu sembunyiin dari aku?"


"Aku gak nyembunyiin apa-apa Ra.."


"Entahlah Al, aku merasa banyak kejanggalan tentang kamu."


"Kejanggalan apa ?"


"Saat aku kirim proposal ke Phoenix Group. Proposal itu langsung direspon. Padahal saat aku kirim ke Jaya Group meskipun ada Pandu tidak akan secepat itu."


"Jangan samakan Phoenix Group dengan Jaya Group." kata Albert kesal.


Rara mengabaikannya.


"Aku sangat ingat, saat aku pergi sama kamu untuk belanja kebutuhan Panti. Hari itu juga barang dikirim ke Panti dan barang-barang yang datang sama persis dengan catatan yang aku kasi lihat ke kamu."


Albert menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Belum lagi, saat pindahan. Aku melihat Jimmy dan Cindy tidak asing dengan tempat penampungan Panti."


"Siapa kamu Al ?" tanya Rara sambil menatap Albert tajam.


"Hem...ya Ra, aku Albertus Syailendra. Pemilik Phoenix Group."


Rara tertegun.

__ADS_1


"Aku Albertus Syailendra, kakak dari Jeremy dan Cindy Syailendra."


"Aku Albertus Syailendra, keponakan tante Debora."


"Dan aku, Albertus Syailendra, orang yang ingin dikenalkan mami kamu."


Rara tertegun.


"Terima perjodohan yang ditawarkan mami"


"......kakak juga sudah dekat dengan dia"


Ingatan Rara tentang ucapan Nicho saat awal dia bertemu dengan Albert berkelebat.


"Apakah sejak awal kamu tahu kalau ...."


Albert menganggukkan kepala.


"Yah....aku tahu Ra, kalau tante Deby dan mami kamu mau jodohin kita."


"Kamu nggak nolak rencana itu ?"


Albert menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Bahkan saat aku ketemu sama kamu, aku ingin perjodohan ini berlanjut."


"Yah..aku akhirnya tahu bahwa kamu yang menolak."


"A...aku."


"Sudah lupakan. Yang penting kita bisa temenan. Sekarang bagaimana dengan penawaranku tadi."


"Eh.....penawaran ?" tanya Rara agak linglung.


"Aku akan kirim orang ke butikmu untuk membantumu menghitung berapa yang harus kamu balikin ke Pandu. Aku yang akan menggantikannya."


"Tapi Al....."


"Tenang saja, ini murni bisnis dan aku akan minta pengacara untuk mengurusnya. Jadi jika hubungan kita tidak baik, semua bisa diselesaikan tanpa merugikan kedua belah pihak." kata Albert tegas.


"Al...."


"Kamu tenang aja, aku dan Nicho akan berusaha menjaga dan membantumu."


Terdengar pintu terbuka dan muncul Nicho membawa koper Rara.


"Kak, bang....sudah selesai kan bicaranya."

__ADS_1


Albert berdiri dan menganggukkan kepala.


"Aku pulang dulu. Jaga kakakmu baik-baik, Nick. Jika perlu sesuatu kabari aku."


"Ya bang." kata Nicho.


Albert mendekati Rara.


" Hubungi aku jika ada apa-apa."


Albert membelai rambut Rara, kemudian dia pun melangkah meninggalkan Rara.


Rara menghempaskan dirinya di sofa.


"Kamu udah tahu ya dek, kalau Albert adalah pemilik Phoenix Group."


"Hem...tau pas interview kemarin kak."


"Ih...tapi kan kamu pernah bilang kalau orang yang dijodohkan mami sudah dekat dengan aku."


"Kak....aku hanya tahu itu, tidak bisa detail kalau belum ketemu orangnya."


"Iya deh iya...."


"Masih sakitkah kak?" tanya Nicho saat melihat lebam di pipi kakaknya.


Rara memegang pipinya.


"Nggak kok." kata Rara sambil tersenyum.


"Nggak tapi nyeri kan...kakak gak usah bohong sama aku."


"Hem..kamu bilang apa ke mami sama papi ?"


Nicho menggaruk lehernya.


"Aku bilang kakak keluar kota, nyari suplier kain."


"Makasih ya Nick, jika bukan karena kamu, aku nggak tahu gimana nasibku."


"Nggak kak, aku yang lengah. Aku harusnya tahu dan memperingatkan kakak. Maaf kak."


"Nggak Nick. Kamu gak salah kok. Tuhan masih melindungi aku. Jika tidak, mungkin aku nggak akan bertahan."


"Ya...yang penting kakak harus lebih hati-hati. Akan banyak rintangan didepan kak. Apalagi kalau kakak jadi dengan bang Albert."


"Kakak gak tahu perasaan kakak sekarang Nick. Kakak juga gak tahu siapa yang menjual kakak."

__ADS_1


"Kakak tenang saja, aku akan menemukannya."


__ADS_2