Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Saya Mencintainya


__ADS_3

"Ini gak mungkin, belum 3 bulan dan Rara udah bisa balikin semua modal." kata Pandu gusar.


Dia berjalan mondar mandir di ruang kerjanya.


Pandu menyambar kertas yang berisi laporan keuangan yang dikelola Rara.


"Sialan...sekarang bagaimana aku bisa membuat dia berpaling lagi ke aku."


Pandu mendongak saat mendengar pintu dibuka dan dia melihat Saskia berdiri dan tersenyum manis padanya.


"Halo sayang....kenapa wajahmu begitu? Kamu kesal sama siapa sih ?"


Pandu duduk kembali di kursinya dan mengabaikan Saskia.


Saskia kesal kemudian dia mendekati Pandu dan dia melihat berkas yang tersebar di meja Pandu. Dia juga melihat bukti transfer yang bernilai ratusan juta.


Dia mengambil kertas itu dan membaca beritanya.


"Oh...jadi Rara sudah membayar ke kamu. Darimana dia dapat uang sebanyak ini sayang? Jangan-jangan dia menjual diri lagi" kata Saskia.


Brak.....


"Tutup mulutmu Saskia, Rara bukan wanita seperti itu." kata Pandu marah.


Saskia tersenyum sinis.


"Benarkah...kamu terlalu menganggap Rara wanita suci."


"Ya...dia memang seperti itu."


Saskia mengepalkan tangannya, menahan kekesalannya.


"Aku penasaran, apakah pendapatmu masih sama setelah melihat video ini."


Saskia mengangsurkan ponselnya ke Pandu.


Pandu menerima ponsel Saskia dan melihat video yang dimaksud Saskia.


Rahang Pandu menegang selama melihat ponsel Saskia.


"Dia bisa mengembalikan uangmu karena menjual dirinya. Masih saja kau sanjung dia."


"Ini tidak mungkin." kata Pandu lirih.


"Bahkan dengan melihat bukti nyata seperti itu, kamu masih membelanya." geram Saskia.


"Aku tidak percaya Rara akan melakukan hal itu Sas. Dan bisa jadi kamu merekayasa video itu karena kamu ingin membuatku membencinya."


"Hah...buat apa aku benci dia, toh aku yang akan kamu nikahi."


"Hem...benar, aku akan menikahimu. Terus saja kamu ungkit-ungkit hal itu."


"Karena aku ingin ingatkan kamu bahwa kamu akan menjadi suamiku, papa dari anak yang aku kandung. Jadi, aku minta kamu lupain masa lalumu. Lagian...kalian juga udah gak ada hubungan bisnis."


Pandu menghela nafas kesal. Kemudian dia bangkit dari kursinya.


"Kamu mau kemana ?" tanya Saskia saat melihat Pandu berjalan menuju pintu.


"Tolong...biarkan aku sendiri dulu." kata Pandu menghentikan langkahnya dan menoleh ke Saskia.


"Pan...aku mau ajak kamu makan siang." kata Saskia.


"Lain kali aja."


"Kamu mau temuin Rara kan" kata Saskia semakin kesal.


"Sas...aku mohon. Jangan bawa-bawa Rara dalam hubungan kita."


"Kenapa kamu selalu begini Pan, lupakan dia, aku mohon." Saskia berdiri menghadap Pandu.


"Tolong Sas, aku butuh sendiri sekarang. Aku akan balik ke apartemen. Kamu bisa tunggu aku disana."

__ADS_1


Pandu mendekati Saskia dan mencium keningnya.


"Jaga anak kita. Kamu istirahat, jangan stress ya"


Pandu pun berbalik dan meninggalkan Saskia.


Saskia mengepalkan tangannya dan menghapus air mata yang jatuh ke pipinya.


"Walaupun aku bisa mendapatkan ragamu tapi hatimu tidak utuh untukku." kata Saskia dalam hati.


Sementara itu, Pandu melajukan mobilnya ke butik Rara.


Setelah memarkir mobilnya, dia masuk ke ruangan yang biasanya dipakai Rara tanpa menghiraukan panggilan dari anak buah Rara.


Brak....


Rara terkejut karena pintu ruangannya terbuka dengan keras.


"Pandu...." katanya terkejut melihat siapa yang melakukan hal itu.


Pandu mengunci pintu ruangan Rara. Kemudian mendekati Rara yang berdiri di belakang meja.


"Apa yang mau kamu lakukan Pandu." kata Rara sambil menatap tajam kearahnya.


Pandu tersenyum sinis.


"Aku....tentu saja mau memberimu uang, dan meminta pelayanan yang memuaskan."


Wajah Rara memerah.


"Apa maksud kamu ?" katanya berang.


"Aku melihat videomu menjual diri Ra. Kenapa ? Hanya karena ingin lepas dari aku, kamu rela melakukan hal itu ?"


"Saat menjadi kekasihku, kamu nggak mau aku sentuh. Lalu kamu membiarkan orang lain menyentuhmu?"


Rara mengepalkan tangannya. Satu tetes air mata yang turun ke pipi segera dihapusnya.


"Apa yang telah diperlihatkan Saskia sama kamu ? Dengan gampangnya kamu mempercayai cinta pertamamu itu. Aku tidak akan melakukan pembelaan atau pembenaran karena aku tidak melakukan apapun."


Rara mencengkeram pinggiran meja untuk meredam amarahnya.


Pandu tertawa sumbang.


"Lalu bagaimana kamu bisa mengembalikan uangku dengan begitu cepat. Aku tahu aset yang kamu miliki Ra."


Rara tersenyum sinis.


"Orang kaya disini nggak hanya keluargamu dan keluarga Saskia. Ada orang kaya lainnya yang tentu saja bisa menjadi investor untuk butik ini." kata Rara.


"Dan kamu menawarkan dirimu untuk itu?" kata Pandu keras.


"Dengar Pandu, apapun yang dikatakan Saskia tidak benar. Dan jika hal ini sampai mengganggu ketenanganku bahkan bisnisku, aku akan membawanya ke ranah hukum. Sampaikan itu ke Saskia, aku yakin dia paham masalah ini." kata Rara.


"Apa maksud kamu Ra. Kenapa melibatkan Saskia?"


"Kamu cari tahu sendiri kelakuan calon istri kamu."


Pandu mengacak rambutnya dan memilih duduk di sofa.


"Maafkan aku Ra, tidak bisakah kamu kembali ke aku ?" tanya Pandu sambil menundukkan kepalanya.


Rara menatap wajah sendu Pandu. Pria yang pernah menemani hari-harinya selama 5 tahun. Pria yanh pernah mempunyai impian yang sama dengannya. Tapi semua impian itu hancur karena cinta pertama pria itu.


Rara menghela nafas. Diapun duduk di kursinya kembali.


Panggilan telepon mengalihkan perhatiannya.


Keningnya berkerut tapi dia tetap mengangkat ponselnya.


"Halo..."

__ADS_1


"Kamu nggak papa Ra ?"


"Aku baik-baik aja."


"Bisa kamu buka pintu ruanganmu?"


Rara mengerjapkan matanya. Darimana dia tahu pintu terkunci ? pikir Rara.


"Sekarang Ra."


"Eh...iya, bentar."


Rara berjalan menghampiri pintu dan membuka kuncinya.


Dan dia terkejut saat melihat Albert berdiri didepan pintu, sementara pegawai butik berdiri dibelakang Albert.


"Al....apa yang kamu lakukan sini?" tanya Rara.


Albert menatap Rara, memindai Rara dari atas ke bawah.


Rara memjadi risih karenanya.


"Al.."


"Maaf, kamu baik-baik aja kan ?"


Rara menganggukkan kepalanya.


"Boleh aku masuk ?" pintanya.


Rara membuka pintu lebih lebar dan bergeser sehingga Albert bisa melewatinya.


Albert melihat ruangan Rara dan menemukan Pandu sedang duduk dengan wajah yang.....berantakan.


"Duduk Al." kata Rara.


Pandu mendongak dan melihat Albert dihadapannya.


"Hai..." sapa Albert.


Pandu mendengus kesal.


Kenapa di saat seperti ini malah dia melihat orang yang mengaku pacar Rara.


"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Rara?" tanya Pandu.


Albert tersenyum.


Rara kesal.


"Apa maksudmu menanyakan hal itu Pandu ?" tanya Rara kesal.


"Apapun hubungan saya dengan Rara, apakah penting untuk anda? Saya dengar anda juga akan menikah, saya rasa tidak baik jika calon pengantin masih menyambangi mantan pacarnya." kata Albert dengan tenang.


Wajah Pandu memerah.


"Aku mencintai Rara." kata Pandu kemudian.


"Tapi anda akan menikah dengan wanita lain."


"Aku tidak peduli."


"Saya peduli."


Pandu menatap Albert dengan tajam.


"Kenapa kamu peduli dengan Rara." kata Pandu.


Albert diam. Kemudian dia menarik nafas dan menghembuskannya.


"Saya peduli dengan Rara, karena saya mencintainya."

__ADS_1


__ADS_2