
Albert dan Rara masih berdiskusi untuk pengembangan butik mereka. Salah satu hal yang dibahas adalah menambah suplier kain yang semula hanya didominasi oleh Jaya Group. Karena Albert menghindari sabotase dari pihak Pandu.
Albert mengangkat ponselnya saat melihat nama Cindy muncul di layar ponsel.
"Ya Cin."
"Abang dimana ?"
"Di butik kak Rara."
"Wah....abang lagi sama kak Rara ya. Mau dong ngomong sama kak Rara." teriak Cindy kegirangan.
Albert agak menjauhkan ponselnya karena teriakan Cindy.
Kemudian dia menatap Rara.
"Ra, Cindy mau ngomong, bisa ?" tanya Albert.
Rara tersenyum dan mengangguk.
Albert mengulurkan ponselnya ke Rara.
"Hai, Cindy." sapanya.
"Yeaaayyyy....bang Albert beneran lagi sama kakak?" tanya Cindy dengan girang.
"Hem...iya. Lagi bahas masalah butik." kata Rara.
"Wah....masih lama gak bahasnya kak ?"
"Kenapa ?"
"Cindy kangen sama kakak. Gimana kalau kita makan bareng di cafe bang Rama."
"Ehmmm....gimana ya ?"
"Please kak...please....mau ya. Bang Jimmy juga pasti senang ketemu kakak."
"Bentar, kakak tanya sama bang Al dulu ya."
"Yeaaaay..." kata Cindy senang.
Rara menjauhkan ponselnya dan mendapati Albert sedang menatapnya sambil tersenyum. Rara menjadi tersipu.
"Ehm....Al, Cindy ngajak makan di cafe Rama." kata Rara berusaha mengurangi kegugupannya.
__ADS_1
Albert tersenyum.
"Ok. Satu jam lagi kita kesana." kata Albert tanpa melepaskan pandangannya ke Rara.
Rara berdehem, kemudian memdekatkan ponselny kembali.
"Cin, kita ketemu di cafe bang Rama satu jam lagi ya."
"Yes..." sorak Cindy. "Cindy tunggu ya kak. Da....."
Rara menatap ponsel Albert karena Cindy memutus panggilannya. Dan mendapati fotonya yang diambil candid menjadi wallpaper ponsel Albert.
"Al....."
"Maaf, aku suka foto itu, jadi aku pakai sebagai wallpaper."
Rara mengembalikan ponsel Albert dan merasaka getaran hangat didadanya.
"Terima kasih mau membantu butik ini Al." kata Rara kemudian.
"Hem....karena aku tahu, butik ini cukup ramai dan dari laporan keuangannya pun profitnya lumayan. Jadi aku gak rugi kan kalau ikut menanam modal." kata Albert seraya membereskan berkas yang ada di meja Rara.
"Iya....aku yakin, butik ini akan semakin berkembang."
"Pasti...dan project pertama adalah, kamu harus membuatkan seragam untuk karyawan Phoenix Group."
"Tentu saja, untuk detailnya kamu bisa hubungi Rama. Dia yang tahu."
"Tentu saja pak Bos." kata Rara sambil tertawa dan menular ke Albert.
"Ok Ra, sebaiknya kita siap-siap ke cafe Rama. Kalau nggak, Cindy akan marah ke aku." kata Albert sambil berdiri.
"Hahahaha.....iya, aku ke toilet duiu bentar ya." kata Rara yang dibalas dengan anggukan oleh Albert.
Baru saja Rara keluar dan menutup pintu, ponsel Albert bergetar.
"Hem..." jawab Albert.
"Hah...bisa nggak sih abang balas dengan sapaan yang pantas."
"Ada apa Nicho...gak usah berbelit-belit."
"Abang udah gak butuh bantuanku buat deketin kak Rara?"
Albert terdiam.
__ADS_1
"Aku tahu pikiran abang. Jangan memakiku ok."
"Terserah kamu Nick." kata Albert kesal.
Nicho tertawa dan semakin membuat kesal Albert.
"Hari ini aku dinas luar bang. Kak Rara ga ada temen di apartemen abang. Mungkin Cindy dan Jimmy bisa menemani kak Rara." kata Nicho.
"Kenapa harus Jimmy dan Cindy ?"
"Aku tahu abang juga bakal nginap. Dan aku harap ada Jimmy dan Cindy. Jadi abang gak bisa macam-macam."
"Oh ayolah Nick."
"Aku tahu, hanya pencegahan bang."
"Hah....ok ok. Apalagi."
"Tahan diri abang, jangan melewati batas, walaupun aku tahu abang akan tanggung jawab."
"Sialan kau Nick....kamu bikin aku mikir kesana jadinya."
Tawa Nicho semakin keras.
"Memang itu tujuanku." kata Nicho sambil menutup panggilannya.
Sedangkan Albert menatap ponselnya dengan kesal.
"Kalau saja kamu bukan adik Rara...aku akan minta Andre menghajarmu." kata Albert dalam hati.
Ting.....bunyi pesan masuk di ponsel Albert.
Nicho_Wijaya : "Andre gak bakal mau abang minta menghajarku. 😃😃😃"
Albertus_S : "🤬🤬"
Nicho_Wijaya : " 🤣🤣🤣"
Bunyi pintu dibuka mengalihkan Albert dari ponselnya.
Dan tampak Rara masuk dan tersenyum menghampiri Albert.
"Ayo Al...." katanya.
Sementara Albert terdiam menatap wajah Rara yang lebih segar.
__ADS_1
Hah....bocah itu meracuni pikiranku.