
"Kamu kalo ngegombal bisa aja ya." kata Rara tersipu.
Albert tertawa.
"Baru kamu loh cewek nggak suka gombalanku. Padahal aku nggak pernah ngegombal juga sih."
Rara mendengus mendengar kata-kata Albert.
Albert menikmati makanan yang dihidangkan Rara.
"Aku berterima kasih sama kamu Ra, mewakili teman-teman disini."
Rara mengangguk dan tersenyum.
"Oh ya...aku pengen tahu deh. Kenapa kamu buat kantor ini ? Kayaknya karyawan disini nggak tahu kalau kamu pemilik Phoenix Group."
Albert terdiam.
"Kok aku ngerasa kamu punya kemampuan membaca sesuatu. Seperti Nicholas."
Rara tersenyum.
"Beneran Ra ?"
"Nggak setajam Nicho. Aku hanya bisa lihat masa lalu seseorang dengan menyentuhnya."
"Seperti berjabat tangan? Seperti yang kamu lakukan sama Nadia?"
Rara memperbaiki duduknya dan menghela nafas.
"Kalau dia nggak membuka pikirannya aku juga gak bakal tahu Al. Hanya saja tadi aku mendengar sekilas dia yang suka sama kamu. Dia yang sudah ngarepin kamu dari lama."
Albert terdiam.
__ADS_1
"Kamu....nggak suka ya. Atau kamu takut sama aku?"
"Nggak Ra. Aku malah semakin kagum sama kamu."
Blush....dan memerahlah pipi Rara.
"Kamu selalu berkata manis ya sama cewek. Pantesan banyak yang salah paham dengan sikap kamu."
"Lah aku harus gimana coba sama cewek-cewek diluar sana ?"
"Yah...kamu kan harus tegas Al...kalau memang gak mau ya udah. Jangan kasih harapan dong."
Albert tertawa.
"Yakinlah Ra. Aku selalu menjaga jarak dengan mereka. Tapi mereka yang mau mendekati aku."
"Iya....aku percaya."
Rara yang baru minum tersedak mendengar perkataan Albert.
Albert menepuk pelan punggung Rara.
"Kenapa harus sama tante Debby?" tanya Rara setelah merasa lebih baik.
"Ya kan aku mau minta kamu jadi istri aku Ra. Dan tante Debby udah seperti ibu aku. Beliau yang akan dampingi nanti."
"Al....kamu serius."
"Serius Rara."
"Ta....tapi...."
"Kenapa kamu yang jadi ragu ? Kamu masih cinta sama Pandu ?"
__ADS_1
Rara memukul lengan Albert pelan.
"Ya nggak lah. Maksudku...kita aja kenal baru, dan dekat karena ada masalah kemarin. Bagaimana kamu bisa secepat itu ngambil keputusan buat menikah sama aku."
Albert menatap Rara dan tersenyum.
"Karena sejak pertama kali bertemu dengan kamu, aku sudah jatuh hati. Dan adik-adikku juga dekat sama kamu. Itu hal yang nggak biasa Ra. Aku sayang adik-adikku. Dan Adik-adikku sayang sama kamu. Nggak ada penghalang dari pihakku."
"Al...aku...."
"Aku nggak akan melakukan hal seperti Pandu, karena aku nggak pernah ada hubungan khusus dengan wanita manapun. Kamu bisa tanya ke Rama. Meskipun banyak yang dekat tapi tidak ada yang istimewa. Dan lagi tidak ada restu dari adik-adikku."
"Tapi...."
"Apalagi yang membebani kamu Ra?"
"Apakah Jimmy dan Cindy akan nerima aku jadi istri kamu Al."
"Kamu nggak usah khawatir. Mereka yang dorong aku buat jadiin kamu istri aku."
"Kamu siap jadiin aku satu-satunya Al? Sekali melangkah ke jenjang pernikahan, tidak ada jalan buat balik arah. Kita hanya harus berjalan terus."
"Iya Ra. Hanya kamu satu-satunya."
"Pernikahan itu komitmen seumur hidup Al. Apa kamu terima risikonya"
"Aku yakin aku bisa Ra. Jika kamu mempelainya. Kita hanya harus saling mengingatkan dan menjalaninya bersama-sama."
Rara menatap Albert. Mempertimbangkan pilihannya kali ini.
"Baiklah. Ayo kita menikah"
Albert menggenggam erat jemari Rara dan tersenyum senang.
__ADS_1