
"Selamat ya Pan....akhirnya kamu menikahi cinta pertamamu. Semoga kalian selalu bahagia" kata Rara sambil tersenyum.
Pandu menatap Rara yang terlihat tegar dihadapannya.
" Terima kasih Ra. Semoga kamu juga bahagia." kata Pandu.
Rara kemudian menyalami Saskia yang terlihat enggan membalasnya.
"Selamat ya Sas, sehat-sehat selalu untuk kamu dan calon bayimu." kata Rara.
Dan Saskia semakin kesal dibuatnya.
"Selamat pak Pandu. Semoga berbahagia. Kami pasti akan segera menyusul." kata Albert ramah.
Pandu hanya membalasnya dengan senyuman kecut di wajahnya.
Rara dan Albert pun meninggalkan pelaminan setelah memberi selamat kepada Pandu dan Saskia.
Di lobby, Jimmy dan Cindy sudah menunggu. Setelah mobil Albert sampai mereka pun segera masuk.
Selama perjalanan Jimmy dan Cindy saling bercerita yang ditanggapi oleh Rara. Sementara Albert fokus mengemudi.
Sampai di apartment, Jimmy dan Cindy pamit masuk kamar. Albert duduk di sofa ruang tamu. Sementara Rara pun masuk ke kamar.
Albert membaringkan tubuhnya di sofa dan menutup matanya dengan lengan. Taklama dia pun tertidur.
Albert terjaga saat mendengar suara. Ia kemudian membuka mata dan perlahan bangun dari sofa. Diapun menajamkan telinganya untuk mencari suara yang mengusiknya.
Mengikuti pendengarannya diapun beranjak mendekati pantry tempat asal suara. Saat mencapai pintu dia berhenti demi dilihatnya Rara yang masih memakai baju tidur dengan rambut yang hanya diikat dibelakang.
__ADS_1
Albert menyandarkan tubuhnya dipintu penghubung dan melihat Rara yang sedang memanggang adonan di oven.
Albert mendekat saat Rara mulai mencuci panci. Dengan sengaja Albert mendekat dan berdiri di belakang Rara. Tetapi tangannya membuka laci diatas Rara untuk mengambil cangkir.
Rara terkejut saat merasakan ada orang dibelakangnya. Dan tubuhnya menegang karena menyadari aroma parfum maskulin yang dia kenali.
"Al....." katanya.
"Hem...." jawab Albert yang setelah mendapatkan cangkir tidak langsung menjauhi Rara.
"Al....bisa mundur dikit gak.." kata Rara yang mulai tidak nyaman dengan posisi yang membuat jantungnya berdebar-debar.
Albert yang merasakan debaran jantungnya bertalu pun segera mundur dan membawa cangkirnya ke meja.
Rara menoleh dan mendapati Albert yang hanya menatap cangkirnya.
"Kamu...mau minum apa?" tanya Rara.
Rarapun ikut tersenyum.
"Aku buatin. Kalau mau sarapan, tunggu bentar ya, aku baru panggang roti."
" Ok." jawab Albert.
Diapun duduk di kursi sambil melihat Rara yang membuatkannya minuman.
Setelah siap, Rara membawa dua cangkir ke meja. Dan diapun duduk di kursi berhadapan dengan Albert.
" Kok kamu tidur di sofa semalam ?" tanya Rara.
__ADS_1
" Ketiduran Ra." Albertpun menyesap kopinya.
"Maaf ya Al, aku gak bangunin. Aku juga langsung tidur semalam." kata Rara.
Albert menganggukkan kepala. " Gak papa Ra. Bukan salah kamu juga kok."
Ting....bunyi timer oven.
Rara berdiri dan mendekati oven. Kemudian dia menata roti di piring saji tak lupa dia membawa piring kecil untuk tempat roti. Dia pun menempatkan dua buah roti di piring kecil itu dan membawanya ke Albert.
"Ini Al...buat pengganjal perut." katanya sambil tersenyum.
"Harum Ra, makasih ya."
Rara menganggukkan kepala dan mengambil roti untuk dirinya sendiri.
"Aku minta maaf semalam ya Ra, udah maksa kamu ke resepsi Pandu." kata Albert sambil menikmati roti buatan Rara.
Rara menatap Albert dan tersenyum.
"Aku berterima kasih sama kamu, karena kamu ada disamping aku saat itu."
Albert balas menatap Rara.
"Aku akan selalu ada disampingmu Ra. Untuk support kamu."
"Terima kasih juga karena membela aku dihadapan teman-teman Saskia."
"Aku senang melakukannya karena aku memang berharap menjadi kekasihmu."
__ADS_1
"Al...."
"Aku gak maksa Ra. Take your time. Aku akan menunggu."