Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Nadia Resha


__ADS_3

Namaku Nadia Resha, anak tunggal dari pasangan Simon Resha dan Florentina Alba.


Secara finansial keluargaku bisa dikatakan kaya. Tidak ada yang tidak bisa aku dapatkan. Dengan uang hampir semua bisa didapat.


Saat ini hanya satu yang tidak bisa aku dapatkan. Perhatian dari seorang Albertus Syailendra.


Sudah lama aku kenal dengan dia. Bahkan aku selalu ikut papa saat dia mendatangi rumah keluarga Syailendra.


Aku selalu berharap bahwa aku bisa mendapatkan perhatian dan hatinya.


Dia laki-laki yang ramah, sama seperti papa dan mamanya. Tapi dia tidak pernah berinteraksi berlebihan sehingga hanya sedikit yang bisa menjadi temannya.


Saat orang tuanya meninggal, ingin sekali aku menghiburnya. Sayang sekali, adik-adiknya selalu bersamanya.


Aku tidak terlalu suka dengan anak kecil karena aku anak tunggal sehingga aku selalu minta perhatian papa dan mama. Hanya aku satu-satunya.


Kesempatan untuk dekat dengan Albert akhirnya bisa aku dapatkan. Karena dia akan membuka bengkel dan aku yang sedikit tahu tentang seluk beluk bengkel mengajukan diri untuk menjadi partner bisnisnya.


Apapun untuk bisa dekat dengan Albert. Bahkan saat aku harus berada di tengah-tengah adik-adiknya.


Kenapa sih harus ada mereka diantara aku dan Albert. Sangat menyebalkan. Tapi untuk mengambil hati Albert tentu saja aku harus bersikap baik pada mereka.


"Abang kenapa selalu telat sih jemput kami." gerutu Cindy, adik bungsu Albert.


"Maaf Cin. Abang tadi ada meeting dengan client." kata Albert dengan nada lembut.


Sementara Jimmy hanya diam dan menatap jendela.


"Hari minggu kita jalan-jalan. Mumpung abang ada waktu" kata Albert sambil memotong daging di piring, kemudian menggeser piring ke depan Cindy.


"Beneran bang? Jangan PHP lagi loh." Cindy mulai menyuap makanannya.


"Iya.....abang udah kosongin jadwal buat hari minggu nanti."

__ADS_1


Albert tampak ingin lebih dekat dengan adik-adiknya.


"Jadi minggu nanti meeting di bengkel gak jadi Al?" tanyaku karena perhatian Albert hanya tertuju ke adik-adiknya.


Albert menoleh, kemudian dia mengambil air minum dan meneguknya.


Siapa juga yang gak akan tertarik dengan Albert. Seorang pengusaha muda, dengan wajah diatas rata-rata dan kekayaan yang tidak akan habis sampai beberapa turunan.


"Bisa diganti hari lain Nad. Nanti atur aja dengan Rama dan Andre."


Hah....kenapa harus mereka lagi sih batinku. Selalu seperti ini. Albert selalu mengandalkan mereka berdua. Dan mereka termasuk orang-orang kepercayaannya. Juga teman dekatnya.


Pernah terpikir untuk menjebak Albert tapi selalu gagal karena ada mereka.


Sebagai putra sulung keluarga Syailendra, Albert sangat dijaga oleh orang tuanya.


Interaksiku dengan Albert pun hanya sebatas rekan kerja. Walaupun aku bisa ikut bersamanya saat meeting maupun membahas perkembangan bengkel. Albert tetaplah Albert, pria yang sangat sopan dan kolot. Tidak pernah aku melihat Albert berlaku tidak sopan pada wanita. Bahkan dengan asisten rumah tangganya.


Tapi saat aku melihat undangan di meja kerja papa. Rasanya hatiku sakit sekali. Undangan pernikahan Albert dan Rara. Wanita yang pernah aku temui di kantor Albert.


Aku benci dia. Tapi aku tidak ingin Albert membenciku kalau sampai aku melukainya. Jika aku mau aku bisa membuat dia hilang dan memaksanya meninggalkan Albert. Tapi aku nggak siap jika Albert mengetahui perbuatanku.


Aku akan memastikan perasaannya padaku sebelum aku mengambil tindakan selanjutnya.


Aku mengirimkan pesan bahwa aku akan menemui Albert di kantornya. Dengan dalih urusan bengkel.


Albert tidak suka saat aku menanyakan tentang pernikahannya alih-alih masalah bengkel.


"Apakah kamu sama sekali tidak ada perasaan sama aku Al? Sedikitpun ?" tanyaku untuk memastikan apakah dia benar-benar mencintai calon istrinya.


"Maaf Nad."


Hancur sudah harapanku. Mataku pedih menahan airmata yang ingin keluar.

__ADS_1


Kuhela nafas. Kemudian aku berdiri.


"Maaf mengganggumu pak Albert." kemudian aku berjalan meninggalkan Albert.


"Maaf karena aku sangat mencintainya."


Saat aku akan sampai di pintu kudengar perkataannya.


Tanpa ijinku air mata ini mengalir membasahi pipi.


Kemudian kulanjutkan langkahku meninggalkan ruangan Albert.


Aku kalah. Hati Albert bukan untukku.


Dan disinilah aku berada bersama adik sepupuku, Sandra.


"Kakak gak ingin gitu maki-maki wanita itu." katanya sambil mengaduk strawbery float nya.


Aku menggelengkan kepala.


"Nggak San. Seandainya saja, Albert ada sedikit perasaan sama aku. Aku akan melakukannya. Tapi aku bukan wanita bodoh yang tidak bisa melihat perasaannya ke aku. Dia nggak anggep aku lebih dari partner bisnis."


"Tapi kan kak..."


"Aku ajak kamu bukan untuk memanas manasiku. Aku hanya ingin ditemani."


Sandra hanya mengangguk dan meminum floatnya.


Dan aku melihat, tiga orang masuk ke cafe. Orang-orang yang sangat Albert kasihi.


Menyebalkan sekali. Ternyata Calon Istri Albert sangat akrab dengan kedua adiknya.


Pasti hanya akal-akalan dia aja untuk meraih hati Albert.

__ADS_1


Aku akan menunggu saat itu datang. Saat Albert sendiri yang mencampakkan wanita itu.


Aku akan selalu menunggumu Al.


__ADS_2