
Rara melihat pengaturan yang sudah dilakukan oleh Phoenix Group dan dia mengakui bahwa mereka orang yang sangat profesional dibidangnya.
Dalam waktu singkat semua bisa diatur dan direncanakan dengan matang.
"Ra...aku ingin menunjukkan draft desain untuk panti." kata Albert.
Rara menoleh dan mendapati Albert menyerahkan desain yang ada di tabletnya.
Rara melihat desain itu dan sangat terkesan.
"Al....kayaknya ini nggak hanya memperbaiki bagian yang rusak deh, semuanya dirombak." kata Rara sambil menunjukkan bagian-bagian desain yang menurutnya beda.
Albert menganggukkan kepala.
"Iya benar...Phoenix udah membeli lahan itu dan menyerahkan ke panti, dan mereka ingin agar panti diperbaiki dan membuatnya jadi tempat yang lebih baik." jelas Albert.
"Tapi...jika merombak semua tentu butuh waktu yang lama Al."
"Semua sudah diatur Ra. Kamu hanya perlu memikmati prosesnya dan membantu mengurus panti ini."
"Itu sudah pasti Al. Sebisa mungkin aku akan membantu panti."
"Tenang saja Ra, akan ada orang yang membantu panti. Dan mulai sekarang kamu tidak perlu repot-repot mencari donatur lagi. Karena semua sudah ditangani oleh Phoenix."
"Puji Tuhan, ibu panti pasti akan senang sekali."
Rara tampak bahagia mendengar penjelasan Albert.
__ADS_1
Dan Albert pun tersenyum melihat wajah Rara.
"Ehm...mau sampai kapan diliatin aja bang? Ntar diduluin sama orang loh."
Albert menoleh dan melihat kedua adiknya tersenyum memperhatikannya.
"Kalian....sejak kapan kalian liatin abang ?"
Jimmy dan Cindy tertawa.
"Abang gak nyadar ya, kita dari tadi didekat abang?"
"Hah....?" Albert tidak percaya kalau dia bisa mengabaikan kehadiran adik-adiknya.
"Maklum bang Jim, pandangannya hanya tertuju ke kak Rara."
Jimmy dan Cindy menahan tertawa mereka melihat wajah merah Albert.
"Abang bingung Jim, abang takutnya kak Rara akan berubah sama abang."
"Yah...pasti akan berubah sih karena abang menyembunyikan identitas abang."
"Kenapa bicaramu seperti Rama ?"
Jimmy mengangkat bahu.
"Abang pasti akan mengatakan ke kak Rara. Doain aja semoga dia tetap bisa terima abang apa adanya."
__ADS_1
"Selamat berjuang bang." kata Jimmy sambil menepuk bahu Albert.
"Bang...boleh kan sekali-kali Cindy nginep disini?" tanya Cindy penuh harap.
"Kamu bisa datang kesini kapanpun Cin. Toh kamu punya kamar kan disini?" kata Albert sambil memeluk Cindy.
"Terima kasih bang. Aku bersyukur masih punya abang dan tante. Dan aku sangat berharap kak Rara masuk dikeluarga kita."
Albert menatap wajah Cindy dan tersenyum.
"Abang akan berusaha membawa kak Rara masuk ke keluarga kita jika itu bisa membuat kalian bahagia."
"Hanya kami yang bahagia bang? Abang sendiri ?" tanya Jimmy.
"Pasti abang bahagia jika ada kak Rara disisi abang. Lihatlah dia, abang baru bertemu dengan wanita sebaik kak Rara."
"Kami akan mendukung abang dan kak Rara."
Albert tersenyum dan menganggukkan kepala.
Sementara itu Rara sedang berkeliling rumah sementara untuk panti bersama anak-anak panti.
Semua anak-anak panti merasa senang karena bisa tinggal di rumah yang besar dan tetap tinggal bersama.
Hal yang paling mereka takuti adalah berpisah dengan penghuni panti yang lain.
Rara menanggapi celotehan mereka dengan senang hati. Hingga bunyi dering ponsel membuatnya agak menjauh dari kegembiraan warga panti.
__ADS_1
Rara menatap ponselnya dan menghela nafas.
"Ya Pan, ada apa ?"