Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Jebakan


__ADS_3

Albert tampak menekuni dokumen didepannya.


Rama juga melakukan hal yang sama.


Suasana sepi hanya terdengar pergerakan kertas yang disibak.


"Kamu sudah baca proposal Jaya Group dan Krisna Group, Al ?" tanya Rama tanpa melepas pandangan dari dokumen yang ditekuninya.


"Belum. Apakah urgent ?" tanya Albert.


"Urgent sih nggak. Cuma mereka memang butuh investor. Kayaknya ada masalah di perusahaan mereka."


"Kamu udah dapat kabar kenapa ?"


"Belum."


"Coba minta Jonathan dan Nicho pelajari dulu berkasnya." kata Albert sambil berdiri dan berjalan mendekati meja Rama.


Rama menganggukkan kepala.


"Rencanaku juga seperti itu."


Albert meletakkan dokumen yang sudah diperiksanya di meja Rama.


"Bagaimana hubunganmu dengan Rara ?" tanya Rama sambil menyandarkan punggungnya dikursi.


Albert mengangkat bahu.


"Kamu belum mengatakan yang sebenarnya ?"


Albert duduk di kursi didepan meja Rama.


"Aku bingung Ram. Kalau dia gak mau lagi ketemu aku gimana ?"


" Hah...masak kamu nyerah gitu aja sih Al. Eh....coba liat status Nicho....bukannya ini mobil Rara?" kata Rama sambil menunjukkan status Nicho di ponselnya.


"Hem...iya. Knapa Rara jual mobilnya ?" tanya Albert.


"Entahlah" jawab Rama.


Albert segera menghubungi Nicho.


"Halo bang."


"Itu bukannya mobil kakakmu. Knapa dijual"


"Kak Rara baru butuh uang bang."


"Buat apa?"


"Balikin modal."


"Hah ?"


"Abang tanya aja sama kak Rara."


"Kenapa kamu gak mau bantuin aku sih." kata Albert kesal.


"Hem...sebenarnya mau bantu. Tapi aku takut kak Rara marah le aku bang."


"Ya sudah. Keep aja mobilnya. Kirim ke rumah."


"Nggak bisa gitu juga kali bang."


"Kenapa nggak ?"


"Kak Rara pasti gak mau terima bantuan abang apalagi abang suka sama dia."


"Yang penting, kamu bawa mobilnya ke rumah. Untuk harga biar aku nego sama Rara."


"Baiklah."


"Thanks Nicho."


"Sama-sama bang."


Rama menatap sahabatnya.


"Kamu...beneran suka ya sama Rara."


Albert hanya mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin membuat dia bahagia."


Rama tersenyum.


"Emang kamu tahu apa yang bisa buat dia bahagia?".


"Entah."


Rama berdiri kemudian dia mendekati Albert yang duduk di tepian mejanya.


"Bicaralah dengan Rara. Aku akan mengatur waktu pertemuan kalian. Katakan yang sebenarnya Al. Sebelum terlambat."


Albert menganggukkan kepalanya.


"Thanks Ram."


‐---------------------------------------------------------


"Kakak mau kemana ?" sapa Nicho saat melihat Rara sudah berpakaian rapi.


"Hai Nick, kakak ada janji dengan orang yang mau beli flat." kata Rara sambil mengecek tas kecilnya.


Nicho menghela nafas.


"Harus ya kak, kakak lepas semua aset kakak ?"


"Yah mau gimana lagi Nick, kakak gak mau berhubungan sama Pandu lagi."


"Saskia masih neror kakak ?"


"Hem....nggak sih. Cuma kakak gak mau ribut lagi. Dan jangan coba baca kakak."


"Kak...kenapa kakak gak minta bantuan bang Albert ?"


Rara menatap Nicho.


"Albert udah banyak bantu kakak Nick. Masalah donatur panti, renov panti. Masak kakak harus minta tolong lagi. Lagian ini kan urusan pribadi. Bukan panti."


"Tapi setidaknya kan bang Albert bisa bantu invest kak."


"Kita lihat aja nanti Nick. Aku gak mau merepotkan Albert. Dia masih ada tanggungan adik-adiknya."


"Aku bisa bantu kakak. Tidak banyak sih."


"Kamu udah bantu kakak banget Nick. Harga mobil kemarin aja tinggi loh. Lumayan banget hasilnya."


"Itu...." kata Nicho sambil menggaruk leher belakangnya.


"Eh udah dulu ya Nick, taxinya udah datang."


Rara melambaikan tangan ke arah Nicho.


Nicho berbalik, tapi kemudian dia terdiam dan menutup mata.


Diapun mengambil ponsel dan menghubungi Albert.


"Abang dimana ?"


"Masih di rumah. Kenapa Nick ?"


"Bukan abang yang mau beli flat kak Rara?"


"Flat Rara mau dijual juga ?"


"Jadi benar bukan abang yang mau ketemu kak Rara?"


"Ada apa Nicho ?"


"Aku punya firasat kak Rara akan mengalami hal buruk bang."


"Hah...dimana dia sekarang?"


"Ke apartment K, mau bertemu dengan pembeli flatnya."


"Aku kesana sekarang."


"Iya...ketemu disana bang."


Nicho menutup panggilannya dan segera mengambil mobil ayahnya.


"Pi...pinjem mobil." teriaknya dan ayahnya hanya bisa menggelengkan kepala.

__ADS_1


Nicho memacu mobilnya dengan cepat.


"Harusnya aku tahu, Pandu tidak akan membiarkan kakak berhasil mengembalikan uangnya. Hah...aku lengah.. Semoga bang Albert tiba lebih cepat."


Nicho mengetuk kemudi karena harus menghadapi kemacetan jalan.


Sementara itu, Albert juga memacu mobilnya dengan cepat menuju apartmen K. Dia sudah menghubungi Rama untuk meminta anak buahnya mengawasi Rara.


Sayangnya orang yang biasanya mengawasi Rara sedang cuti.


Tiga mobil dari tempat yang berbeda melaju dengan cepat menuju apartment K.


Sementara itu Rara sedang berbincang di cafe dengan pasangan yang rencananya mau membeli flat nya.


"Kenapa mbak Rara mau jual flatnya ?" tanya si istri.


Rara tersenyum.


"Saya perlu uang bu, untuk modal usaha." kata Rara.


Pasangan tersebut saling berpandangan.


"Boleh kita lihat flatnya sekarang mba? Suami saya ada keperluan selepas ini."


Rara menganggukkan kepalanya.


"Mari." kata Rara sambil berdiri.


Merekapun meninggalkan cafe menuju flat Rara.


Saat berada dalam flat Rara, pasangan suami istri itu pun melihat semua ruangan yang ada. Dan saat si istri ijin ke kamar mandi, si suami mendekati Rara.


"Saya bisa bayar lebih ke mba Rara kalau mba Rara mau jadi kekasih saya." kata si suami.


Rara tertegun mendengarnya.


"Maksud bapak apa ya ?" tanya Rara gusar.


"Berapa yang mbak Rara butuhkan." kata si suami sambil melihat Rara dari atas ke bawah.


Rara menghela nafas.


"Saya anggap saya tidak mendengar perkataan bapak." kata Rara menjauh dari si suami.


"Gak usah munafik mbak. Saya sudah dengar reputasi mba Rara. Butik yang mbak kelola hanya sebagai kedok kan buat menjual diri mbak." kata pria itu sambil mendekati Rara.


Wajah Rara merah menahan amarah.


"Sebaiknya, bapak tinggalkan tempat ini sekarang." kata Rara sambil menggenggam tangannya erat.


"Hahahha.....munafik." kata pria itu.


"Ada apa sayang?" tanya si istri yang sudah kembali dari kamar mandi.


"Dia menggodaku sayang." kata pria itu dengan enteng.


Mata Rara membelalak.


Wanita itu menatap marah Rara.


"Oh....ternyata menjual apartment hanya kedok untuk menjual diri anda ? Dasar pelakor." kata wanita itu marah.


Hampir saja Rara kena tampar jika dia tidak menghindar.


"Saya tidak menyangka wanita yang terlihat baik hanyalah seorang jxxxxx."


Pria itu hanya tersenyum sinis melihat Rara mendapat amarah dari istrinya.


"Ibu salah paham." kata Rara sambil mengepalkan tangannya. "Suami ibu yang kurang ajar."


"Jangan memutar balik fakta. Suami saya orang baik dan terhormat."


"Sudah sayang, ayo kita kembali. Aku masih ada urusan" kata pria itu sambil meraih tangan istrinya.


"Iya..aku tidak sudi berada disini lama-lama." kata si istri dan bergegas keluar flat.


Si suami mengikuti sebelum keluar dia menoleh.


"Tawaran saya masih berlaku. Anda bisa hubungi saya kapan saja."


Kemudian diapun keluar flat.

__ADS_1


Rara menutup kedua matanya. Tubuhnya gemetar karena menahan amarah.


Perlahan bulir bening menetes dari matanya.


__ADS_2