
Albert menyudahi meeting dengan para manager dan meminta laporan perkembangan anak perusahaan Phoenix.
Diapun kembali ke ruangannya bersama Rama. Baru saja dia minum air dia melihat banyak sekali pesan di ponselnya. Dan dia merasa heran karena Jimmy mengiriminya pesan.
"Kenapa Al. Kok kayaknya ada sesuatu sampai lihat ponsel kayak gitu" tanya Rama penasaran melihat kerut di dahi atasan sekaligus sahabatnya itu.
"Hem. Tumben Jimmy kirim pesan banyak banget." kata Albert sambil meletakkan gelas yang isinya hampir habis.
"Bukannya Jimmy lagi sama Rara dan Cindy ?"
Albert menganggukkan kepala. Dia pun membuka pesan dari Jimmy karena penasaran.
"Apa katanya ?" tanya Rama kepo melihat wajah Albert yang semakin keruh.
"Mereka ketemu Nadia di cafe"
"Dan...?" tanya Rama lagi.
"Nadia bilang kalau aku sama dia deket sampai aku cerita masalah butik ke Nadia."
"Kamu cerita ke Nadia emangnya ?"
Albert menggelengkan kepala. "Nggak."
"Hem....kayaknya Nadia sengaja bikin masalah Al. Kamu sebaiknya jauhi dia." kata Rama.
"Padahal aku gak pernah memberi dia harapan. Lagipula Jimmy dan Cindy juga gak sreg ama dia."
"Heh...kenapa juga kau kambing hitamkan adik-adikmu. Jangan-jangan saat kamu sama Rara kamu juga bilang gitu."
"Eh...bilang apaan."
"Kalau kamu mau nikah sama Rara karena adik-adikmu menyukai Rara."
"Ya emang gitu faktanya kan."
Rama melempar bolpoin kearah Albert. Untung Albert sempat menghindar.
"Hah....kalau kamu bilang gitu, itu berarti kamu hanya ingin cari baby sitter buat Jimmy dan Cindy. Kamu cinta gak sih sama Rara?"
"Ya cinta dong Ram. Kalau gak ngapain juga aku ajakin nikah."
__ADS_1
"Jangan jadikan adik-adikmu untuk mengikat Rara."
"Kenapa?"
Rama menghela nafas kesal.
"Karena kalau kamu bilang karena adik-adikmu, kesannya kamu terpaksa gitu."
"Nggak kok. Aku nggak terpaksa malahan aku yang maksa Rara."
"Terserah Al...terserah." kata Rama kesal.
Albert yang melihat sahabatnya kesal tertawa.
"Eh...bukan itu permasalahannya." kata Albert kemudian.
"Apa." Rama masih kesal.
"Jimmy bilang aku harus siap-siap karena Rara kelihatan kesal."
"Jelasin aja sebenarnya. Tapi aku penasaran juga. Darimana dia tahu kamu mendanai butik Rara."
"Aku gak tahu. Apa dia sempat mendengar atau curi dengar. Entahlah."
"Ya sering. Kan aku juga harus cek laporan-laporan disana."
"Kayaknya kamu harus cari orang gantiin kamu."
"Hah....kenapa?"
Rama menggulung kertas kemudian dia berjalan mendekati Albert dan memukul kepalanya.
"Heh....kurang ajar banget sih sama atasan."
"Bodo...kepalamu emang harus digetok dulu baru nyambung ya. Pertanyaanmu gak bermutu."
"Wes....wes..anak buah kurang ajar kowe* Ram."
"Ben....salahmu dewe* ora mudengan*"
"Siapa yang bisa dipercaya buat urus bengkel."
__ADS_1
"Ya adik iparmu lah. Siapa lagi."
"Nicho ?"
Rama menganggukkan kepala.
Albert menganggukkan kepalanya.
"Akan aku pertimbangkan. Thanks Ram."
"Hem."
Saat jam kantor selesai, Albert segera pulang ke rumah, karena Jimmy mengirim pesan kalau Rara ada di rumah untuk makan malam.
Sampai di rumah Albert bergegas masuk dan saat sampai di ruang makan dia mencium aroma masakan yang menggugah selera.
Di dapur dia melihat Rara yang sedang memasak dibantu Cindy dan bi Nani.
Saat akan mendekati mereka, Jimmy menarik tangannya dan membawanya ke ruang keluarga.
"Abang udah baca pesanku kan?"
"Iya..."
"Trus..."
"Tenang Jim. Abang udah ada solusinya."
Jimmy menghela nafas lega.
"Syukurlah."
"Eh emang kak Rara marah banget ya?"
"Enggak sih. Cuma kayak kesal aja gitu."
"Oh...ya sudah..kita..."
Belum selesai Albert bicara terdengar teriakan Cindy memanggil mereka untuk makan.
"Abang bersih-bersih dulu. Kamu ke ruang makan."
__ADS_1
Jimmy mengangguk dan meninggalkan Albert.