Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Jangan Minta Aku Berhenti Mendekatimu


__ADS_3

Suasana menjadi lengang...


Pandu membelalak tak percaya ucapan Albert.


Sedangkan Rara terkejut dengan pengakuan Albert.


"Ka...kamu mencintai Rara? Hah...lelucon macam apa ini ? Aku sudah tahu kalau kamu cuma mengaku-aku sebagai pacar Rara. Padahal Rara pun tak akan mengakuimu."


Albert tersenyum, menambah kejengkelan Pandu.


"Mau saya mengaku-aku atau nggak, saya rasa itu bukan urusan anda."


Pandu menatap tajam Albert, sementara yang ditatap hanya tersenyum.


"Pan...sudah, urusan kita sudah selesai. Aku harap kita tidak usah bertemu lagi dalam waktu dekat." kata Rara berusaha melerai dua pria yang saling menatap tajam.


Albert tersenyum menatap Rara. Pandu semakin naik pitam.


"Aku nggak mau kamu sama dia Ra." kata Pandu jengkel.


Rara menghela nafas dan mengusap keningnya.


"Mau nggak mau, suka nggak suka, dia bisa kesini kapanpun."


"Apa....? Kenapa ?" kata Pandu gusar.


"Karena dia pemilik butik ini." kata Rara sambil melangkah mendekati pintu dan membukanya.


"Sekarang, kamu pergi. Ada hal yang harus aku dan Albert diskusikan."


Pandu menatap Rara dengan perasaan hancur. Kemudian dia pun mendekati Rara yang berdiri didepan pintu.


"Ra...."


"Kumohon....pergilah." kata Rara.


Mau tidak mau Pandu pun keluar.


Albert melihat Rara yang masih terpaku dengan kepergian Pandu. Ada denyut tidak nyaman di hatinya.


"Apakah kamu masih mencintainya Ra, setelah apa yang dia lakukan ke kamu ?" tanya Albert.


Rara menoleh ke arah Albert, kemudian dia berbalik dan mendekati sofa dan duduk berhadapan dengan Albert.

__ADS_1


"Kenapa ?" tanya Rara.


Albert mendengus karena Rara memberinya pertanyaan alih-alih menjawab pertanyaannya.


"Kamu nggak menjawab pertanyaanku Ra."


"Pentingkah jawabanku ?"


Albert melipat tangannya dan menumpukannya di lutut.


"Sangat penting." kata Albert menatap Rara tajam.


Rara menghela nafas.


"Al.."


"Kamu tahu Ra, aku nggak main-main dengan ucapanku tadi. Aku mencintai kamu. "


"Tapi Al..."


"Dan sepertinya perasaanku tidak berbalas. It's okay Ra. Lupakan saja. Tapi jangan minta aku berhenti mendekatimu." kata Albert sambil berdiri.


Rara menatap Albert dengan terperangah.


Kemudian dia duduk di kursi di depan meja Rara.


Sementara Rara masih terbengong di sofa mencerna kalimat yang disampaikan Albert.


"Ra..." panggil Albert saat menyadari jika Rara belum juga duduk di kursinya.


"Eh ya..." jawab Rara kaget.


"Bisa kita mulai ?" tanya Albert.


"I..iya...." kata Rara segera bergegas ke kursinya.


Dengan dada yang berdebar-debar, Rara pun mencoba berkonsentrasi dengan pembahasan yang disampaikan oleh Albert. Dan Rara agak kesal saat melihat Albert dengan santai menanggapi pembahasan tersebut seolah perkataan yang disampaikannya tadi tidak mempengaruhinya.


Ya ya...ya...Albertus Syailendra, siapa yang tidak kenal namanya. Meskipun wajahnya tidak setiap orang tahu kecuali para pengusaha yang bekerja sama dengan Phoenix Group. Bahkan Rara pun tidak tahu sebelumnya.


Dan Rara yakin, banyak wanita yang mendekatinya. Karena Jimmy dan Cindy juga pernah bercerita tentang abang mereka.


Rara menghela nafas. Dan hal itu tidak luput dari perhatian Albert.

__ADS_1


"Kenapa Ra? Apa ada poin yang memberatkan kamu ?" tanya Albert.


Rara mendongak dan menatap netra hitam Albert. Kemudian dia menundukkan kepala dan menggeleng.


"Nggak Al, bahkan aku merasa semua poin sangat menguntungkan aku. Apakah selalu begini perjanjian Phoenix?" tanya Rara.


Albert tersenyum.


"Tentu saja tidak. Hanya perjanjian dengan kamu." kata Albert.


Rara kembali mendongakkan kepalanya.


"Maksudnya ?"


"Aku hanya ingin membantumu lepas dari Pandu, Ra. Mobil, Apartemen memang aku ambil alih, tapi semua bisa kamu pakai kembali kapanpun kamu mau." kata Albert sambil tersenyum.


"Al....aku gak bisa kayak gitu." kata Rara keberatan.


Albert melebarkan senyumnya.


"Bahkan jika kamu mau, kamu bisa mendapatkan 40% saham di Phoenix Group."


"Apa maksudmu Al."


"Jadilah istriku Ra. Aku akan memberikan apa yang kamu mau."


Rara menghela nafas.


"Kamu sama aja dengan Pandu. Nggak semua hal bisa dinilai dengan uang Al." kata Rara dengan kesal.


Albert tersenyum melihal kekesalan Rara.


Ah...dia nggak akan pernah melepaskan Rara. Nggak akan pernah. Dia akan minta bantuan kedua adiknya dan jika diperlukan bantuan Nicho, calon adik iparnya, meskipun agak menjengkelkan karena tanpa mengatakan dia akan tahu. Hah...menyebalkan.


Sementara itu Nicho yang sedang makan siang dengan Jonathan tersedak.


"Kamu kenapa Nick?" tanya Jonathan.


"Hah...nggak papa Joe. Hanya ada yang sedang kesal sama aku." kata Nicho sambil meminum air putih didepannya.


Jonathan tertawa.


"Aku tahu...pasti bang Albert deh."

__ADS_1


Nicho ikut tertawa.


__ADS_2