
Nicho tersenyum membaca pesan Albert.
Kemudian dia mengetik pesan membalas Albert.
Nicho_Wijaya : " Pede amat bang, belum tentu juga kak Rara mau."
Albertus_S : "Pasti mau dong. Hah....kenapa juga dia harus nolak?"
Nicho_Wijaya :"Hahahaha...ada 2 kemungkinan."
Albertus_S : "Apa ?"
Nicho_Wijaya : " Satu, kakak nolak abang karena kakak tahu siapa abang sebenarnya."
Albertus_S : " Fatal banget ya karena aku belum ngomong aiapa aku sebenarnya ?"
Nicho_S : "Buat cewek lain mungkin nggak. Buat kak Rara, dia sangat nggak suka dibohongi."
Albertus_S : " Aku nggak bohong."
Nicho_Wijaya : " Hanya belum mengatakan kebenaran."
Albertus_S : " Yang kedua ?"
Nicho_Wijaya : " Kakak trauma sama orang kaya."
Albert berkali-kali menatap pesan yang disampaikan Nicho.
Lalu dia menghela nafas.
"Kenapa Al ?" tanya Rama penasaran karena Albert menatap ponselnya serius.
"Nicho bilang, Rara trauma sama orang kaya." katanya lirih.
Rama tertawa mendengar perkataan Albert.
Albert menatapnya tak suka.
"Kenapa ketawa ?" tanyanya kesal.
"Pinter juga tuh anak ngerjain ABG tua." kata Rama masih tetap tertawa.
"Apa maksudmu ?"
__ADS_1
Rama berusaha meredakan tawanya.
"Intinya...kalau kamu ngomong siapa kamu, Rara bakal mundur, kalau kamu nggak ngomong dan Rara tahu kamu siapa, dia juga bakal mundur. Jadi...terserah kamu mau pilih yang mana."
"Tapi...Rara tidak suka dibohongi."
"Hah....dia juga memberi petunjuk juga ke kamu."
"Sialan...intinya kan aku tetap harus ngomong ke Rara. Kenapa dia suka kasi teka-teki si. Hem...aku tahu dia mirip siapa."
"Siapa ?"
"Ya kamu lah." kata Albert kesal.
"Hahahahha....akhirnya aku bisa ketemu orang yang setipe sama aku."
"Puas kamu....semoga Jonathan nggak seperti kalian."
"Wkwkwkwkwk....." Rama tertawa puas melihat wajah kecut Albert.
‐------------‐------------------------------------------------
Rara tampak gusar saat melihat surat yang dilayangkan oleh Pandu untuk menarik modal yang sudah disetornya.
Ponsel Rara berdering, membuat lamunanya buyar.
Rara memejamkan mata dan menghembuskan nafas sebelum menerima panggilan.
"Halo.."
"Sudah terima surat Ra."
"Iya...."
"Tawaranku masih berlaku Ra."
Rara tersenyum kecut.
"Maaf Pan...jawabanku masih sama."
"Hem....baiklah. Sesuai surat itu, maksimal 3 bulan, semua modalku harus aku terima."
"Apa kamu nggak bisa pertimbangin nasib karyawan butik dan tokoku ?"
__ADS_1
"Aku sudah memberimu penawaran Ra, terima atau tidak."
"Baiklah. Masih ada 3 bulan. Aku akan usahakan mengembalikan semua modal kamu."
"Aku tunggu. Dan jika kamu berubah pikiran. Kamu bisa menghubungiku."
"Dalam mimpimu." kata Rara sambil menutup panggilannya.
Rara mengusap dahinya dan menghela nafas lelah. Darimana dia bisa mendapatkan uang dalam waktu 3 bulan.
Rara melihat ponselnya, kemudian diapun melakukan panggilan.
"Halo Nick..."
"Iya kak."
" Kalo mobilku dijual laku berapa ya ?"
"Kakak serius mau jual mobil itu ?"
"Yah....kakak perlu uang Nick."
"Buat balikin modal bang Pandu ?"
"Heem."
Terdengar hela nafas Nicho.
Rara menunggu sambil memainkan bolpoint.
"Aku akan coba tawarkan ke temenku kak. Tapi sisanya, kakak dapat darimana ?"
"Aku juga belum tahu Nick."
"Kalo kakak gak keberatan aku bisa ngomong ke Jonathan buat pinjemin modal."
"Ya...nanti aku pertimbangkan. Makasih ya Nick."
"Anytime kak. Jika aku bisa aku akan bantu kakak."
"Kakak sayang kamu Nick."
"Aku juga kak."
__ADS_1