
Albert kembali ke penthouse nya setelah selesai bertemu dengan Rama. Dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Setelah melihat kejadian tadi di cafe, membuat dia semakin ingin mendekati Rara.
Rasanya tidak rela jika wanita sebaik Rara disakiti oleh siapapun.
Albert meraih ponselnya dan memberikan instruksi ke anak buahnya untuk menyelidiki tentang Pandu. Hanya untuk memastikan bahwa ia bisa melindungi Rara.
Senyum tersungging di wajahnya saat dia mendapatkan informasi dari anak buahnya.
"Ram....kenapa kamu gak bilang kalau Jaya group mengajukan proposal ke kita."
"Hem...kamu udah tahu kalau Pandu ada hubungannya dengan pemilik Jaya group ?"
"Hem....Andre yang info. Dan dia bilang kamu sudah tahu."
"Trus...rencana kamu apa ?"
"Kita lihat dulu pergerakan Pandu dan Jaya group. "
"Okay. Aku tinggal tunggu perintah aja."
"By the way....kamu udah dapat personnel buat bantuin kerjaan kamu ?"
"Hem....ada beberapa kandidat. Dan ada dua calon yang bagus. Salah satunya teman si Andre."
"Oh ya, kamu udah cek latar belakang mereka ?"
"Satu udah, dia pemilik bengkel Joe's di Semarang. Satunya Andre masih belum kasih info."
"Oke. kamu atur waktu biar aku ketemu mereka."
"Okay."
"Thanks Ram."
"Sudah tugasku Al. Dan aku akan selalu bantu kamu selama aku mampu."
Albert tersenyum dan merasa beruntung mempunyai sahabat seperti Rama.
__ADS_1
--‐-------‐-----------------------'
Rara membuka pintu flatnya saat bel berdering dan mendapati Albert sudah berdiri di depan flatnya dengan senyum lebar.
"Pagi Ra, gimana kabarmu ?"
"Hai....pagi. Aku baik."
"Boleh masuk ?"
"Oh...maaf, silakan." kata Rara canggung.
Albert tersenyum dan mendapati kedua adiknya keluar dari kamar dengan seragam sekolah mereka.
"Bang Al....pagi banget kesininya ?" sapa Jimmy.
"Iya....abang gak pulang?" tanya Cindy.
"Kalian ini...abang care salah, gak care juga salah." kata Albert cemberut.
"Abang bawain sarapan buat kita." kata Albert sambil meletakkan bungkusan yang dia bawa.
Rarapun mengajak mereka ke meja makan dan menyiapkan peralatan makan untuk mereka pakai.
Baru beberapa suap, ponsel Rara berbunyi.
"Maaf, sebentar ya. "
Rara agak menjauh dari ruang makan dan duduk di sofa.
Albert menatap penasaran.
"Ya Nick..."
"Kak....aku ada interview nanti siang, bisa ketemuan gak bentar."
"Boleh....ketemu dimana ?"
__ADS_1
"Di cafe daerah bundaran aja kak."
"Oh...kamu interview di sana ?"
"Iya..."
"Oke deh. Jam 12 ya, sekalian makan siang."
"Ok...aku sayang kakak."
"Iya...sayang kamu juga."
Rara tersenyum menatap ponselnya, dan hal itu tidak luput dari perhatian ketiga pasang mata Syailendra.
Rara mendekati meja makan dan duduk ditempatnya.
"Jim, Cin....nanti kakak gak bisa jemput kalian ya. Kakak ada janji."
"Oh...gak papa sih kak. Nanti kami juga langsung balik rumah kok. Udah ada temen di rumah."
"Al...kamu gak bisa jemput mereka ?" tanya Rara sambil menatap Albert yang mengunyah roti dengan agak kesal.
"Nanti mereka dijemput sopir Ra." jawabnya.
"Oh...baiklah. Kamu banyak kerjaan ya hari ini"
"Hem....begitulah." jawab Albert dengan agak kesal.
"Huh....siapa lagi ini....sainganku banyak banget sih...mana pakai sayang-sayangan lagi."
Jimmy menepuk pundak Albert saat melihat abangnya menggigit roti dengan kesal.
"Abang buntuti aja kak Rara hari ini, biar gak penasaran. Siapa tahu kak Rara ketemu sama pacarnya." kata Jimmy yang membuat Albert menoleh dan menatap tajam ke arahnya.
Jimmy tersenyum sambil membuka dua jarinya.
"Ayo aku antar kalian." kata Albert sambil berdiri.
__ADS_1