
Rara mengedikkan bahunya. "Entahlah....rasa sakit karena dkhianati mungkin mengubur dalam-dalam rasa cinta itu."
"Kamu sangat mencintainya sehingga rasa sakit itu begitu dalam." kata Albert. Ada rasa sakit saat mengetahui Rara mencintai pria lain dengan begitu dalam.
"Kumohon, jangan bahas lagi masalah ini, aku ingin melupakannya, dan anggap aja kamu gak pernah tahu tentang ini."
Albert menghela nafas. "As your wish Ra."
Rara tersenyum lemah, "Thanks Al."
Albert mengajak Rara masuk ke cafe dan dia disambut oleh Rama.
"Hai Al....kenapa telat."
Albert tertawa dan mengerlingkan mata, Rama tersenyum.
"Hai Ra, apa kabar?" sapa Rama dan mengulurkan tangannya.
Rara menyambutnya dan tersenyum. "Kabar baik pak Rama."
Rama tertawa."Jangan panggil pak lah, usiaku dan Albert gak beda jauh kok. Panggil Rama aja."
"Eh...hm....baiklah. Rama." kata Rara.
"Good. Ayo masuk...nikmati jamuannya Al, aku pesan dari catering maminya Rara. Kamu cobain dan promote buat meeting, sangat recommended. Jangan lupa toko rotinya Rara."
Albert tersenyum, "Pasti Ram, tenang aja. dan kamu Ra, prepare untuk dapat orderan yang banyak ya."
Rara tersenyum, "Beneran nih...?"
"Ya iyalah Ra...kamu belum tahu Albert siapa ya..."
"Rama bercanda Ra. Tapi aku pasti promote kok ke rekanan kantorku." Potong Albert.
Rama menatap sahabatnya bingung.
"Kamu mau minum Ra ? Aku ambilin ya, kamu duduk disana aja." kata Albert sambil menarik Rama menjauhi Rara.
__ADS_1
Rara hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua sahabat itu.
"Kenapa Al ?" tanya Rama saat mereka sudah menjauh dari Rara.
"Rara gak tau siapa aku." kata Albert masih mengawasi Rara yang sudah duduk di kursi.
"Maksudmu ?"
"Dia hanya tahu aku punya kantor di Sudirman."
"Dan kamu tidak memberitahu dia ? Hei...Al..kenapa ? Hubungan yang baik dimulai dari kejujuran."
"Ram...Rara mencintai pria lain."
Rama menatap sahabatnya. Dia tahu Albert mulai menaruh hati pada Rara.
"Walaupun mereka putus, Rara masih mencintainya."
"Dan kamu....Albertus Syailendra....menyerah ?"
Albert mengacak rambutnya. "Aku harus gimana ?"
Albert mngangguk.
"Cari tahu men...tunjukkan dong kamu...Albert Syailendra."
"Sialan kamu Ram kenapa harus harus bawa nama sih."
"Biar kamu sadar bro...kamu pasti punya cara buat Rara jatuh cinta sama kamu."
Albert menghembuskan nafas. "Thanks Ram."
Rama mengangguk. "Udah...temenin Rara, ntar disamperin cowok lain lagi." kata Rama sambil tergelak.
Albert segera menghampiri tempat duduk Rara sambil membawa makanan dan minuman.
"Sorry Ra....kelamaan ngobrol sama Rama." kata Albert sambil duduk di depan Rara.
__ADS_1
Rara tersenyum, "Gak papa, aku juga gitu kalo ketemu sahabatku."
Albert menatap Rara, "Rama lebih dar sekedar Sahabat, Ra..."
Rara berkedip, "Kalian...??"
"Apa....?"tanya Albert sambil mencomot pisang caramel yang dbawanya tadi.
Rara berdehem, "Kalian bukan pasangan kan ?"
Uhuuukkk......Albert tersedak dan meraih gelas minumannya.
"Ra...." kata Albert "Kok kamu ngomongnya gitu sih?"
Rara menatap Albert, "Aku salah apa Al ?"
Albert kesal dengan tuduhan Rara. "Bercandamu keterlaluan Ra, emang tampangku ada tampang gay apa?"
"Loh...sekarang kan banyak pasangan sesama jenis Al, lagian tadi juga kalian main rahasiaan segala, aku pikir ada sesuatu diantara kalian dan barusan kamu bilang kalau Rama lebih dari sahabat."
Albert menghela nafas, "Maksud aku lebih dari seorang sahabat itu, dia udah seperti saudara aku."
"Owh...." kata Rara sambil manggut - manggut.
Hadeh....coba aja kalau Albert gak tertarik udah ditinggalin aja nih cewek, untung sayang...eh....Albert menggelengkan kepala.
"Kenapa lagi Al? Pusing ?" tanya Rara.
"Pusing mikirin kamu." jawab Albert sambil mencomot pisang caramel lagi.
Uhuukkkk...gantian Rara yang tersedak.
"Tolong ya pak...ucapannya djaga." kata Rara setelah meminum air yang disodorkan Albert.
"Kita impas kan." kata Albert tersenyum.
Rara menghela nafas. "Iyaaa...aku minta maaf."
__ADS_1
"Dimaafin, aku juga minta maaf ya."
Rara menganggukkan kepala.