
"Maksudmu apa Cit." kata Rama setelah mencerna perkataan Citra.
"Ram....bantuin aku. Aku mau dijodohin. Aku nggak mau Ram."
Rama menggelengkan kepala. Kemudian dia menghela nafas.
"Nggak salah juga kok dijodohin. Albert aja dijodohin sama tantenya. Dan mereka malah setuju buat menikah."
Citra menggelengkan kepala.
"Beda Ram. Aku mau dijodohin sama Danu. Kamu tahu Danu kan ?"
Rama memijit keningnya.
"Sudah...lebih baik kamu pulang. Aku antar. " kata Rama yang segera bergegas ke halaman.
Rama memasukkan mobilnya ke garasi. Setelah menutup pintu, dia mengajak Citra masuk ke mobil milik Citra.
Selama perjalanan mereka hanya diam.
Sebagai sahabat tentu Rama tidak ingin Citra menjalin hubungan dengan Danu.
Danu Ariyadi. Anak bos keramik didaerah mereka. Dengan wajah tampan dan harta orang tuanya, dia menjadikan hal itu untuk mempermainkan para wanita. Dan dia juga tahu bahwa Danu mengincar Citra.
Rama memutar otak supaya dia bisa membantu Citra tanpa dia terlibat dan berhubungan dengan Citra. Citra memang cantik dengan tubuh yang ideal yang bisa membuat banyak wanita iri. Tapi hati Rama sudah terpaut pada gadis yang pernah ditemuinya di taman 5 tahun yang lalu. Meskipun saat ini dia patah hati karena gadis itu ternyata sudah punya pacar.
"Masuklah. Sudah malam, jadi aku nggak mampir. Titip salam aja sama om dan tante."
Rama membukakan pintu untuk Citra dan mengantarnya sampai didepan pintu rumah putih itu.
Setelah memastikan Citra masuk ke dalam rumah, diapun berjalan keluar, tak lupa memberi salam kepada satpam rumah.
Taklama sebuah mobil hitam berhenti dan Rama masuk ke dalamnya.
"Mobilmu dirumah ?" tanya Albert.
"Hem."
"Kemana kita ?"
"Ke kafe aja, masih ada kerjaan."
"Kenapa wajahmu ?"
Rama menoleh, dan menatap teman sekaligus bos nya dengan kesal.
"Kamu pasti udah bisa tebak kan ?"
"Jangan terlalu baik Ram. Aku tahu Citra menyukaimu. Dan aku juga tahu dia lagi bermasalah sama pacarnya."
Rama hanya menatap Albert kemudian dia menganggukkan kepala.
Cafe masih tampak ramai tapi Rama mengabaikan dan mengajak Albert masuk ke dalam ruangannya.
"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Albert sambil duduk di sofa.
"Nggak tahu."
"Ayolah Ram. Kamu biasanya tahu apa yang harus kamu lakukan."
"Aku pusing Al. Disatu sisi akhirnya aku bisa bertemu dengan cewek yang aku suka. Tapi dia sudah ada yang punya. Di lain sisi ada teman yang butuh bantuan tapi bantuan itu bisa memjerumuskan dan membuat pertemananku dengan Sigit hancur. Apa yang harus aku lakukan Al?"
Rama memijit keningnya.
__ADS_1
Albert menatapnya. Kemudian menghela nafas.
"Urusan Citra bisa ditunda. Jangan mau dipaksa sama dia. Dia terlalu manipulatif Ram. Saranku, karena kamu udah tahu cewek yang kamu suka, selidiki dia. Aku juga akan bantu dan aku yakin Nicho juga bakal kasih info tentang sepupunya itu."
"Hem....aku coba. Setidaknya aku harus tahu siapa dia."
"Yap. Aku setuju."
"Oke. Thanks Al."
Albert tersenyum. "Anytime Rama....anytime."
Mereka kembali meraih berkas yang sempat ditinggalkan karena ada acara pertunangan Albert.
Notifikasi ponsel membuat keduanya saling menatap.
Nicho_Wijaya : "Rena di mall, bang Rama mau jemput ? Sudah waktunya dia pulang. Aku masih anter saudara ke hotel."
Albertus_S : "Kamu lama-lama bikin aku takut Nick."
Rama_C : "Nick....maksud kamu apa ?"
Nicho_Wijaya :" Ga ada maksud apa-apa. Kalau abang gak bisa, aku bisa minta tolong Andre."
Andreas_L : "Siap. Nunggu perintah Nick."
Rama mengumpat kesal.
Rama_C : " Aku berangkat.!!!"
Nicho_Wijaya : "Ok. Aku info ke Rena. Thanks bang."
Albert tertawa terbahak setelah menutup chat grup. Rama mendelik kesal.
"Selamat menikmati cctv hidup." kata Albert sambil menyerahkan kunci mobilnya.
Rama menghela nafas. Jantungnya berdebar kala dia harus menjemput gadis yang mencuri hatinya 5 tahun yang lalu. Meskipun dia sudah punya pacar sih.
15 menit Rama sudah sampai di mall. Dia memarkir mobil Albert di basement dan diapun naik ke lantai 3.
Nicho menginformasikan bahwa Rena sedang makan dengan kekasihnya.
Rama pun bergegas ke foodcourt. Sebelum mencari tempat duduk Rena dia mampir ke toilet dan di berdecak kesal karena ada sepasang kekasih yang sedang berciuman.
"Hah....kayak gak ada tempat aja sih." gerutunya.
Setelah menyelesaikan keperluannya di toilet, Rama bergegas mencari Rena. Karena tidak melihat orang yang dicarinya, Ramapun menelpon Rena.
"Halo...."
"Halo, Ren. Saya temannya Nicho."
"Oh...bang Rama ya."
"Hem. Kamu duduk dimana"
"Aku di depan SayStory bang"
"Okay. Saya kesana"
Rama mendekati tempat duduk Rena. Semakin dekat jantungnya semakin berdebar kencang. Tapi dia tertegun saat melihat cowok yang duduk didepan Rena.
"Kamu lama banget sih di toiletnya." protes Rena.
__ADS_1
"Kan antri sayang." kata cowok itu sambil meminum pesanannya.
"Udah tahu aku ada jam malam juga. Percuma juga kan kita ketemuan. Gak jadi nonton juga"
"Maaf deh. Habisnya tadi ditelpon orang kantor. Nanyain kerjaan. Ga enak kan kalau gak diangkat."
Rama yang gerah mendengar perkataan cowok itu segera mendekati Rena.
"Rena...sudah waktunya pulang" katanya.
Rena menoleh dan mendapati Rama didekatnya.
"Bang Rama ?" tanyanya.
Rama menganggukkan kepala.
"Ya udah. Aku balik dulu Bas. Daripada besok-besok nggak dibolehin sama bang Nicho."
"Hah....ya sudah. Besok aku juga harus masuk kantor. Telpon kalau dah sampai." kata Bastian.
Rama mengepalkan tangannya karena geram.
Rena berdiri dan mengajak Rama pergi. Ramapun mengikuti Rena.
Saat mereka akan turun, Rama melihat Bastian melambaikan tangannya dan seorang cewek berjalan mendekatinya. Cewek yang dilihat Rama didepan toilet dan sedang berciuman dengan Bastian.
Rama mengantar Rena ke rumah orang tua Rara karena ayah dan ibu Rena juga menginap disana.
"Makasih ya bang Rama, udah anterin aku." kata Rena sambil tersenyum.
"Hem... Saya balik dulu. Salam buat Om dan tante Wijaya"
"Siap bang." kata Rena sambil memberi hormat.
Rama tersenyum kemudian dia menjalankan mobilnya meninggalkan rumah keluarga Wijaya.
Sampai di cafe, Albert masih berkutat dengan dokumen disofa.
"Hai Ram."
Rama mendekat dan mengembalikan kunci mobil Albert.
Albert menaruh kunci di meja dan melanjutkan kesibukannya.
Sementara Rama masih memikirkan kejadian di mall tadi.
Akhirnya dia mengambil ponselnya dan membuka chat dengan Nicho.
Rama_C : " Kamu tahu kelakuan Bastian, Nick ?"
Nicho_Wijaya : " Kenapa bang ?"
Rama_C : " Sial...aku lihat dia ciuman dengan cewek lain didepan toilet. Bahkan saat dia sedang berdua dengan Rena."
Nicho_Wijaya : " Aku udah kasi tahu Rena? Tapi dia gak percaya."
Rama_C : " Gila kamu Nick..."
Nicho_Wijaya : " Rena tu keras kepala bang. Kalau gak lihat sendiri gak bakal percaya. Makanya aku hanya bisa awasi dia. Aku tahu kelakuan Bastian diluar kayak apa."
Rama_C : " Kamu gak takut adik sepupumu dipermainkan cowok itu ?"
Nicho_Wijaya : "Tunggu aja nanti bang. Rena yang bakal putusin dia kok."
__ADS_1