Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Curhat


__ADS_3

"Apa maksud kamu ngirim pesan gitu ke Albert?" tanya Rara sambil menatap adiknya dengan geram.


Nicho yang sedang makan kripik pisang kesukaannya berhenti dan menatap kakaknya yang datang-datang langsung memarahinya.


"Apaan sih kak?" tanyanya sambil melanjutkan makannya.


Rara mengambil toples kripik di pangkuan Nicho dan menutup serta meletakkannya di meja terdekat.


"Jelaskan ke kakak Nick." katanya sambil melipat tangan di dada.


Nicho menghela nafas.


"Aku tahu bang Albert suka sama kakak. Dan dia serius sama kakak. Aku gak ada maksud apa-apa kok. Aku nggak mau kakak kebablasan aja."


"Kamu pikir kakak abg yang harus gitu diingetin kayak gitu."


" Aku tahu kakak kok. Makanya aku gak kirim pesan ke kakak kan ? Aku kirimnya ke bang Albert, kalau kalau kakak lupa."


"Kamu...."


Nicho tersenyum.


"Bang Albert ngadu ke kakak ?"


"Nggaklah."


Rara duduk di samping adiknya.


"Kamu pikir Albert benar mencintaiku Nick ?"


"Kenapa kakak bilang gitu ?"


"Albert punya masa lalu."


"Maksud kakak keluarganya yang ingin warisan itu ?"


Rara menggelengkan kepalanya.


"Aku melihat seseorang di masa lalunya."


"Kakak melihat wajah orang itu ?"


Rara menggeleng lagi.


Nicho menghela nafas. Kemudian dia menaikkan kakinya dan menghadap ke Rara.

__ADS_1


"Mungkin kakak bisa melihat jelas jika sudah dekat dengan bang Albert. Coba buka hati kakak buat dia."


"Aku takut Nick. Nyatanya masa lalu Pandu datang lagi. Dan sekarang Pandu tidak bersamaku."


Nicho menganggukkan kepalanya.


"Aku sudah bilang ke kakak tentang hal itu. Tapi kakak gak percaya."


"Iya..kakak salah. Tapi bukannya kita bisa merubah masa depan"


Nicho menggelengkan kepalanya.


"Mungkin jalannya atau peristiwa yang kita hadapi berbeda. Tapi bisa juga itu hanya menunda. Tergantung kemauan dari orangnya sendiri sih."


"Menurutmu, Albert gimana?"


"Aku hanya bisa lihat dia sama kakak. Tapi aku merasa aura bang Albert beda sih kak."


"Beda gimana ?"


"Dia punya sisi gelap yang agak menakutkan."


"Mungkin ada hubungannya dengan kematian orang tuanya."


"Bisa jadi. Tapi untungnya ada bang Rama yang mampu membuat dia menahan sisi gelap itu."


Nicho tersenyum.


"Yah ....setidaknya nanti dia juga akan berada dalam keluarga Wijaya."


"Maksudmu?"


Nicho tersenyum.


"Perjalanan cintanya masih belum dimulai kak."


‐-----------------------------------'xxx


"Jadi....kamu udah beneran jadian sama Rara, Al ?"


Albert tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Lalu...Nicho?"


Albert menghentikan kegiatan. Kemudian dia mendongak menatap Rama dan menghembuskan nafas.

__ADS_1


"Kamu tahu Ram, kadang kemampuannya itu menjengkelkan."


"Emang kenapa?" tanya Rama penasaran. Dia pun duduk di kursi didepan Albert.


"Baru juga kita sepakat dia udah kirim pesan biar aku gak kelamaan peluk Rara. Seakan-akan dia itu kamera CCTV, tahu aja yang kita lakuin. Padahal kemarin bukannya dia ke Semarang ya sama Joe."


Rama menganggukkan kepalanya.


"Gila ya. Tapi apa dia akan begitu seterusnya."


"Entahlah. Mungkin nanti aku tanyain ke Rara aja. Kenapa dia sinyalnya kuat banget gitu sih."


Rama tertawa.


"Oh ya, gimana perkembangan Jaya Group sama Krisna Group ?"


"Masih tahap proposal Al. Dan saat ini mereka sedang audit intern. Kita tinggal lihat laporannya sebelum ada audit external nanti."


Albert menganggukkan kepalanya.


"Trus..gimana pencarian soulmate mu ?"


Rama tertawa.


"Sialan. Soulmate apaan."


"Yah secara kamu mengabaikan banyak wanita hanya untuk mencari seseorang dimasa lalumu."


"Entahlah Al....sudah 5 tahun ya. Aku bingung. Kemarin Citra menyatakan perasaannya dan aku belum bisa jawab."


"Ya..kalo Citra hanya untuk pelarian, saranku jangan terima. Tapi kalau kamu mau buka hati buat Citra, lupain gadis itu. Siapa tahu gadis itu sudah tidak single lagi."


Rama mengerang kesal.


"Kenapa hanya mendengar jika dia tidak single lagi membuat aku kesal."


"Ya kan kita gak tahu. Lagian kalian cuma pernah satu kali bertemu kan."


"Ah..sudahlah. Aku mau ke kafe sekarang. Kalau ada apa-apa telpon aku. Hari ini tidak ada kerjaan yang mendesak."


"Ya sudah. Aku juga mau ke Sudirman. Janjian sama Rara makan siang."


"Pamer terus..."


"Biarin."

__ADS_1


Keduanya pun tertawa.


__ADS_2