Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Bertemu


__ADS_3

Rara masuk ke kamar untuk mengambil dompet. Setelah memastikan bahwa Cindy sudah tidur, dia ke kamar tamu yang ditempati Jimmy.


"Belum tidur Jim ?" tanya Rara saat melihat Jimmy masih membereskan buku pelajarannya.


"Bentar lagi kak, ini juga baru selesai kerjain tugas." kata Jimmy.


"Ehm...Jim, kakak ada keperluan dibawah sebentar. Kakak tinggal ga papa kan ?"


Jimmy meletakkan tas di atas meja.


"Kak Rara nggak usah sungkan gitu, kita yang ganggu kak Rara karena menginap disini. "


"Bukan gitu Jim, kakak gak keberatan kok kalian disini. Kakak hanya perlu kebawah karena ada teman yang ingin ketemu."


"Iya kak, ga papa kok. Kami akan baik-baik aja." kata Jimmy sambil tersenyum.


"Baiklah. Jaga Cindy ya. Kalau ada apa-apa telpon kakak."


"Iya kak, santai aja."


Rara mengacak rambut Jimmy. Kemudian dia pun keluar dari kamar Jimmy.


Rara sampai di cafe dan dia melihat Pandu duduk di tempat mereka biasa bertemu.


Pandu melihat Rara mendekat dan ia pun bangkit berdiri hendak memeluk Rara, tapi Rara menolak secara halus dan langsung duduk di kursi.


Pandu mencoba memakluminya.


"Gimana kabarmu Ra ?"


"Sangat baik. Kamu sendiri ?"


"Hem....aku pernah lebih baik saat bersamamu."

__ADS_1


Rara menatap Pandu jengah.


"Sudahlah, aku tidak bisa lama-lama, ada apa kamu ingin bertemu ?"


Pandu tersenyum sinis.


"Bahkan untuk bertemu denganku, kamu tidak punya waktu ?"


"Oh ayolah Pan, kamu tahu yang terjadi, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Untuk apa lagi kita bertemu. Urusan kita hanya masalah pekerjaan dan itu bisa dibahas di kantor pada Jam Kerja."


"Secepat itu kamu melupakan hubungan kita Ra. Bahkan itu belum ada 2 bulan, dan kamu sudah mendapatkan penggantiku ?"


"Aku rasa itu bukan urusanmu. Lagian aku bertemu dengannya setelah kita putus. Aku tidak pernah mengkhianati hubungan kita."


Pandu menghela nafas.


"Maaf, maaf sudah mengkhianatimu. Tapi aku masih mencintaimu Ra."


"Ra...please."


Rara mendengus kesal. Tapi dia akhirnya duduk lagi.


"Sekali lagi maaf Ra, aku nggak rela putus dari kamu."


Rara tersenyum sinis.


"Nggak rela katamu. Lebih nggak rela mana aku sama kamu Pan, kamu menghianatiku, membohongi aku. Aku lebih nggak rela jika masih bersamamu."


"Saskia hamil Ra." kata Pandu dengan wajah tertunduk.


Rara terkesiap.


"Jadi kamu menghianatiku karena kamu keberatan dengan hubungan kita yang tanpa sentuhan fisik? Brengsek kamu Pan." kata Rara mengusap wajahnya.

__ADS_1


"Maaf Ra...aku menghormatimu, tapi aku tergoda dengan Saskia."


"Karena kamu masih ada rasa dengannya."


Rara menghela nafas lelah.


"Sudahlah Pan, kita lupakan semuanya. Kamu punya tanggung jawab sekarang. Dan hubungan kita hanya masa lalu."


"Maafkan aku Ra, tapi aku nggak bisa lupain kamu."


"Jangan jadi pria brengsek Pan. Jika kamu menikah dengan Saskia maka setialah. Jangan memikirkan wanita lain karena itu juga berarti kamu selingkuh dengan pikiranmu."


"Aku pikir kita sudah banyak bicara. Maaf aku harus balik karena ada adik Albert di tempatku."


"Adik Albert ? Jadi pria itu menggunakan adiknya untuk mendekatimu?"


"Itu bukan urusanmu." kata Rara kesal.


"Ra...kamu belum kenal Albert, bagaimana bisa kamu berhubungan dengannya ?"


"Meskipun kita kenal lama tidak menjamin aku mengenalmu dan mengetahui semua tentang kamu"


"Aku akan menarik semua modal yang aku tanam. Tapi jika kamu masih mau memberi aku kesempatan untuk bersama hal itu tidak akan kulakukan."


Rara tersenyum.


"Lakukan sesukamu. Walaupun aku harus memulai usaha dari nol lagi, tidak ada kesempatan itu Pandu Jayadi. Selamat tinggal."


Pandu menggenggam tangannya erat, menahan amarah.


Sementara Rara pergi meninggalkannya dengan penyesalan dan kemarahan.


Tak jauh dari mereka dua pasang mata melihat kejadian dan mendengar hampir semua yang mereka katakan.

__ADS_1


__ADS_2