Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Aku tidak akan menyerah


__ADS_3

Cindy tampak berseri-seri karena bertemu dengan Rara. Memang mereka sering bertukar kabar melalui aplikasi chatting. Karena walaupun masih dikota yang sama kesibukan membuat mereka tidak bisa bertemu tatap muka.


"Cindy senang bisa ketemu kak Rara lagi." kata Cindy sambil memeluk Rara.


Rara tersenyum dan mengacak rambut Cindy.


"Kakak juga senang. Kalian baik-baik aja kan ?"


"Kami baik kok kak. Apalagi sekarang bang Al juga sering meluangkan waktu untuk kami." kata Jimmy.


"Hem....baguslah. Kalau ada apa-apa kalian tidak usah segan menghubungi kakak."


Jimmy dan Cindy menganggukkan kepala.


Sementara Albert yang sedang berbincang dengan Rama tersenyum menyaksikan keakraban Rara dan adek-adeknya.


"Nggak usah dipandangi terus, kapan kamu akan melamarnya" tanya Rama sambil mengecek berkas yang harus ditandatangani Albert.


Ya, kafe Rama seperti kantor kedua bagi Albert dan Rama


"Maunya sekarang juga, tapi....dia masih belum bisa melupakan Pandu Jayadi." kata Albert dengan kesal.


Rama tertawa.


"Jangan tertawa Ram, aku berharap aku bisa membalasmu nanti."


"Ya...ya...silakan bermimpi."

__ADS_1


"Eh....tapi kamu masih normal kan ?" tanya Albert sambil menghadap kearah Rama.


Rama mendelik kesal ke Albert dan meletakkan penanya. kemudian melempar gulungan kertas ke Albert.


Albert tertawa walaupun tidak bisa menghindari lemparan Rama.


"Hei....sakit tahu."


"Kamu sih..kasih pertanyaan nggak berbobot."


"Eh...berbobot dong. Aku kan gak pernah lihat kamu jalab sama cewek, sampe tante juga negur aku karena ngasi kamu banyak kerjaan." kata Albert sambil mengusap dahinya yang terlena lemparan Rama.


"Kamu pikir aku nggak doyan perempuan gitu. Ngaco kamu." kata Rama sambil mengambil penanya kembali.


"Trus...gimana kabar dedek gemes yang kamu temuin dulu saat kita masih SMA." tanya Albert masih tetap menatap dokumen didepannya.


"Kamu udah coba ke taman itu lagi ?"


"Kamu pikir aku nggak ada usaha gitu ? Aku selalu kesana dan berharap dia muncul. Andai saat itu aku punya fotonya." kata Rama sambil merenung.


"Yah....kalau jodoh pasti kalian akan bertemu lagi." kata Albert.


Rama hanya menganggukkan kepala dan melanjutkan pekerjaannya.


"Tumben kamu bijak. Tapi kalau buat kamu, aku bilang, sebelum janur kuning melengkung kamu masih bisa nikung."


Albert dan Rama tertawa bersamaan.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyerah untuk membuat hati Rara berpaling ke aku. Karena sungguh aku sangat menyayanginya. Aku nggak mau kehilangan dia Ram. Lihatlah adik-adikku. Gak pernah aku lihat mereka akrab dengan wanita yang pernah dekat denganku."


Rama mengikuti arah pandang Albert. Kemudian dia menganggukkan kepala.


"Kamu benar." katanya kemudian.


Sementara itu Nicho memejamkan mata dan tersenyum.


"Yaelah...ni anak kenapa senyum-senyum sendiri sih." protes Jonathan.


Andre yang ikut bersama mereka hanya tersenyum.


"Udah deh Nick....gak usah mata-matain bang Albert dan bang Rama lagi." katanya sambil memberikan berkas untuk diperiksa.


Nicho membuka matanya.


"Hem...kamu tahu nggak Ndre...ternyata semua pertemuan itu tidak ada yang kebetulan." kata Nicho sambil mengambil berkas yang disodorkan Andre.


"Hem...aku pernah dengar kalimat itu." kata Andre.


"Dan kamu tahu Ndre, Joe. Semua sudah ditakdirkan. Mau kita memilih jalan ke kanan atau kekiri. Tujuannya tetap sama."


Jonathan menggelengkan kepalanya.


"Udah ah....aku nggak tahu masalah kayak gitu. Jalanin aja yang ada didepan kita."


"Setuju..." kata Nicho dan Andre kompak.

__ADS_1


Merekapun tertawa bersama-sama.


__ADS_2