
"Kok Cindy gak pernah tahu abang punya rumah disini" kata Cindy dengan wajah kesal.
Albert hanya tersenyum sambil mengusap lehernya.
"Maafkan abang ya Cin. Sekarang kan Cindy udah tahu." kata Albert sambil mengacak rambut Cindy.
Cindy menepis tangan Albert.
"Kenapa dulu abang gak kasi kita tinggal disini. Malah nyusahin kak Rara." Jimmy ikut protes.
Albert diam, bingung untuk menanggapi protes kedua adiknya.
"Mungkin bang Albert lupa Jim, kan waktu itu juga abang juga panik karena tante harus dirawat." kata Rara.
Jimmy dan Cindy saling berpandangan.
"Trus....kak Rara kok tinggal disini ? Berdua sama abang ?" tanya Cindy lagi.
"Nggak kok. Kakak gak tinggal sama abang. Kakak sama adik kakak. Bang Albert bantu kakak. Soalnya kan tempat kakak udah dijual." kata Rara menjelaskan.
"Kenapa tempat kakak dijual ?" tanya Jimmy.
"Ehm...kakak perlu uang buat bayar butik Jim." kata Rara sambil menggaruk alisnya.
"Itu urusan orang dewasa Jim, yang jelas, kak Rara sementara tinggal disini. Dan karena hari ini adik kak Rara keluar kota, kita yang temenin kak Rara disini." kata Albert sambil menepuk pundak Jimmy.
Senyum lebar Cindy dan anggukan Jimmy membuat Rara dan Albert tersenyum.
"Yeaaaayyyy....Cindy mau tidur sama kak Rara."
Rara tertawa melihat Cindy kegirangan.
Albert tersenyum melihat tingkah adiknya. Namun saat melihat Jimmy senyumnya perlahan menghilang.
Didekatinya Jimmy saat Rara dan Cindy masuk ke kamar.
"Kenapa Jim ? Kamu nggak suka kak Rara disini ?" tanya Albert.
__ADS_1
Jimmy menatap abangnya.
"Nggak kok bang. Jimmy suka, hanya saja..."
"Kenapa ?"
"Abang udah resmi pacaran dengan kak Rara ?"
"Ehm....belum sih."
Jimmy menghela nafas.
"Kapan ?"
Albert merasa seperti remaja yang diintimidasi orang tuanya.
"Jim...kenapa abang merasa abang yang jadi adek ya " protes Albert.
"Bang...." desak Jimmy.
"Abang juga lagi usaha Jim. Tapi...kak Rara baru aja putus. Abang masih nunggu dia buka hati buat abang."
"Iya abang tahu. Kamu dan Cindy doain aja abang. Dan kalau bisa bantuin."
"Hahahaha....kenapa aku geli ya dengar kalimat abang."
"Emang kenapa" tanya Albert sambil melipat tangan didada.
Jimmy malah menyalakan TV dan duduk di sofa.
"Kenapa sikapmu sama seperti Nicho sih ?" gerutu Albert.
"Nicho siapa bang ?" tanya Jimmy tanpa menoleh ke arah Albert.
"Adik kak Rara."
"Ohhhh...."
__ADS_1
Hanya itu jawaban Jimmy. Albert menatap kesal adiknya. Kemudian dia masuk ke kamarnya sendiri.
Jimmy menahan tawanya. Tapi dia senang karena Albert memang ada hati ke Rara. Dan dia sangat berharap Rara membalas perasaan abangnya.
Sementara itu, di kamar Rara, tampak Cindy berbaring dan mengamati ruangan itu.
"Sejak kapan kak Rara tinggal disini ?" tanya Cindy.
Rara menghentikan kegiatannya dan meletakkan laptop di meja. Kemudian dia berbalik dan menghampiri Cindy dan ikut berbaring di sampingnya.
"Hem....kira-kira satu mingguan. Kenapa Cin ? Kamu...keberatan kakak tinggal disini ?" tanya Rara ragu.
"Nggak kok kak, Cindy gak keberatan sama sekali. Cindy malah senang kalau kakak deket sama bang Al."
Rara mengusap alisnya pelan.
"Cin....kak Rara dan bang Al hanya teman." kata Rara.
"Gak papa kak. Sekarang mungkin hanya teman, tapi Cindy berharap kedepannya bisa lebih deket lagi. Cindy sayang kak Rara. Dan setahu Cindy sih, abang memang belum ada pacar." kata Cindy
Rara termangu sesaat dengan perkataan Cindy.
"Emang kenapa kalau bang Albert belum ada pacar?" tanya Rara sambil merebahkan tubuhnya disamping Cindy.
"Cindy mau kak Rara jadi pacar abang, biar Cindy ada alasan buat main ke tempat kakak."
"Nggak perlu jadi pacar abang juga kamu bisa main ke tempat kakak kan ?"
Cindy menganggukkan kepalanya.
"Tapi beda rasanya kalau kakak pacar abang. Apalagi kalo kakak jadi istri abang."
"Cin...."
"Dari kecil Cindy udah gak punya mama kak. Papa juga pergi saat Cindy masih kecil. Bang Albert udah seperti papa buat Cindy, meskipun tante Debby selalu hadir buat kami, tapi lihat abang deket sama kakak. Cindy merasa seperti punya mama dan papa."
Rara memeluk Cindy yang sudah mulai terisak.
__ADS_1
"Iya Cin...maafin kakak. Kasi kakak waktu ya."
Cindy tersenyum dalam pelukan Rara dan menganggukkan kepala.