Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Pandu Jayadi#2


__ADS_3

Meskipun malas kembali ke apartemen tapi aku akhirnya pulang juga. Kalaupun masih di rumah ayah, aku pasti juga akan diabaikan.


"Akhirnya kamu pulang juga." Kata Saskia saat aku baru membuka flat tempat tinggalku.


Kulangkahkan kaki ke kamar dan aku tahu Saskia mengikutiku. Hal yang tidak pernah dilakukan Rara saat berada disini.


Kuhela nafas lelah. Aku sangat merindukan Rara. Tapi kami hanya berbicara di telpon. Karena masalah dengan Saskia aku tidak berani langsung bertemu dengannya.


Saat berbalik, Saskia memelukku.


"Kumohon...jangan tinggalkan aku Pan. Aku mencintaimu."


Kurasakan basah dikemejaku.


Yah....seperti kata ayah, aku harus menikahi Saskia.


"Tidak...kita akan menikah Sas..demi anak kita."


Saskia melonggarkan pelukannya.


"Kamu...tidak mencintaiku ?" Tanyanya kecewa.


Aku mundur dua langkah, memberi jarak dan menatap Saskia.


"Dulu aku sangat mencintaimu. Tetapi kamu memilih putus dan meninggalkan aku."


"Dan aku kembali untukmu Pandu...aku menyerahkan diriku ke kamu."


"Iya...aku tahu. Tapi hatiku sudah diisi oleh seseorang."

__ADS_1


Wajah Saskia memerah. Menahan geram dan amarah.


"Dan wanita itu adalah Rara ? Kamu tahu Pan, aku lebih segalanya dari Rara...apa yang kamu lihat dari dia. Bahkan jaman kuliah dulu kamu tidak meliriknya."


"Hem...." Pandu menganggukkan kepalanya.


"Kamu benar...karena saat kuliah dimataku dan hatiku hanya ada kamu. Aku buta karena kamu. Tapi saat kamu menjauh...aku menemukan cahaya itu."


"Dan kenapa kamu mau melakukannya denganku. Kenapa kamu melakukan hal itu ke aku."


Kulihat Saskia meneteskan air mata lagi.


Berkali-kali dia menghapus air matanya.


Aku merasa menjadi pria paling brengsek. Harus aku akui, saat melakukan dengan Saskia, Rara yang ada dibenakku.


Saskia tersenyum sinis melihat aku terdiam dan menatapnya.


Aku menghembuskan nafas.


"Karena Rara tidak mau melakukan hal itu sebelum ada pernikahan." kataku sambil meninggalkan Saskia.


Kulangkahkan kakiku ke pantri.


Aku mengambil air mineral dan menenggaknya.


Aku perlu mendinginkan isi kepalaku.


Kulihat Saskia keluar dari kamar dengan wajah uang masih sembab. Dia melangkah menuju pintu keluar.

__ADS_1


"Maaf...." kataku menghentikan langkahnya.


Saskia tidak membalikkan badannya.


Aku mendekatinya dan meraih bahunya.


"Aku akan tetap menikahimu Saskia."


Saskia menepis tanganku yang berada di bahunya.


Dia membalikkan badan. Kemudian menghapus sisa air matanya.


"Kamu nikahin aku hanya karena anak yang kukandung. Dan kamu akan minta aku untuk membiarkanmu berhubungan dengan Rara ?"


Aku tercengang dengan pemikiran wanita dihadapanku. Sebrengsek itu aku dimatanya.


"Beri aku waktu untuk melupakan Rara, beri aku waktu untuk memjelaskan keadaan kita."


"Seolah aku adalah pelakor yang merebut kamu dari Rara. Tidak Pan, lanjutkan hubunganmu dengan Rara, aku akan pergi dari hidupmu sekali lagi. Dan anak ini tidak perlu kamu khawatirkan. Aku akan menggugurkannya."


Deg....jantungku terasa berhenti.


Aku memang tidak menginginkan anak sekarang. Tapi saat sudah ada, apakah aku rela melenyapkannya.


Saskia melangkah mendekati pintu lagi. Dan aku menghalanginya.


"Jangan pernah lenyapkan anak itu. Biarkan dia lahir. Kita akan menjadi orang tua yang menyayanginya."


Kudekap tubuh Saskia dan dia menangis di pelukanku.

__ADS_1


"Ya....aku harus melakukannya, demi anak yang sedang tumbuh di rahim Saskia" kataku dalam hati.


"Maafkan aku Ra.....Aku menghianatimu. Maafkan aku matahariku....walaupun aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa bersamamu."


__ADS_2