Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Cantik banget


__ADS_3

Albert memutar-mutar kunci mobilnya. Matanya menatap kertas berwarna gold yang ada di mejanya.


"Kenapa Al ?" tanya Rama yang merasa terganggu karena kegiatannya.


Albert tidak menjawab pun tidak menghentikan kegiatannya memutar kunci itu.


Rama menghela nafas dan mendekatinya. Dia berdiri di samping meja Albert dan melihat arah pandang Albert.


Kemudian diapun mengambil kertas yang ditatap Albert itu.


"Oh....undangan pernikahan Jayadi." katanya. Kemudian dia membalik kertas itu dan matanya melirik ke arah Albert.


"Sabtu nanti ya. Hem...kamu akan datang ?" katanya sambil meletakkan undangan itu ke tempat semula.


Albert mendesah.


"Bagaimana perasaan Rara ya? Pasti dia sedih banget." katanya sambil menerawang.


Rama melipat tangannya didada.


"Jadi dari tadi, kamu galau, karena memikirkan perasaan Rara ?"


Albert menganggukkan kepala tanpa menatap Rama.


Rama kemudian duduk didepan Albert hanya dibatasi oleh meja kerjanya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Rara ?" tanya Rama.


Albert mendongak dan menatap Rama.


"Kenapa kamu tanyain itu?"


Rama menghela nafas.


"Al...kamu dan Rara baik-baik aja kan ?"


"Tentu saja. Tiap hari kami ketemuan kok."


"Dan......"


Albert menatap Rama bingung.


"Kamu masih melihat dia sedih ?"

__ADS_1


Albert menggelengkan kepala.


"Dia pernah kedapatan menangis lagi ?"


Albert menggelengkan kepala lagi.


"Trus...kenapa kamu merasa Rara masih belum move on."


"Yah...dia kan masih butuh waktu Ram. Dan mengingat masa lalunya dengan Pandu dan undangan ini, bisa buat dia galau kan."


Rama berdecak kesal.


"Harusnya kamu yang buat dia cepet move on dong. Tunjukkan pesonamu Al."


Albert melempar bolpoin ke arah Rama. Untungnya dia sempat menghindar.


"Kalau ngomong tu serius kenapa sih." kata Albert kesal.


"Heh...aku serius ya. Masa Albert gak bisa naklukin cewek sih. Padahal biasanya juga banyak yang ngintilin."


"Apaan sih kamu Ram."


"Aku punya usul. Akhir minggu ini bawa Rara dan Cindy ke salon. Kemudian malamnya kamu ajak dia ke resepsi. Kamu kan perwakilan Phoenix Group."


"Nggak bakal deh. Rara bukan tipe cewek pemarah."


"Hem.....baiklah."


--------‐--------------


Cindy tentu saja senang bisa seharian menghabiskan waktu dengan Rara. Mereka berbincang tentang hal-hal yang menarik untuk dibahas.


"Jadi, kakak udah jadian sama abang ?" tanya Cindy saat pegawai salon merapikan rambutnya.


"Hem....belum Cin."


"Kenapa ?"


"Kakak masih takut..."


"Kakak percaya aja sama abang. Abang baik kok sebenarnya cuma kadang bisa nyebelin juga sih."


Rara tertawa kecil mendengar perkataan Cindy.

__ADS_1


"Hem...Cin, kakak mau tanya."


"Apa kak ?"


"Bang Albert udah pacaran berapa kali ?"


Cindy terdiam tampak sedang mengingat ingat.


"Cindy gak tahu juga kak. Yang deketin abang banyak sih. Tapi yang sering ya kak Nadia."


"Nadia ?"


Cindy menganggukkan kepala.


"Cuma ya itu, abang gak pernah bawa cewek ke rumah. Sama kak Nadia juga ketemunya di bengkel kalau gak di kantor."


"Kok kamu tahu mereka ketemu di sana ?"


"Ya kan abang kadang jemput kita sama kak Nadia. Trus bilang kalau dari kantor atau bengkel."


"Oh...."


"Kakak gak usah cemburu juga." kata Cindy geli.


"Cem...cemburu ? "


Cindy tertawa.


"Kakak juga suka sama abang kan ?" tanya Cindy.


Rara baru membuka mulutnya saat Albert mendekati mereka.


"Sudah selesai ?" tanya Albert.


"Udah bang. Lihat kak Rara cantik ya." kata Cindy.


Albert tersenyum dan menatap Rara dengan intens.


"Cantik banget." katanya tanpa sadar.


Wajah Rara panas dan dia yakin pipinya merona.


Cindy terkikik geli. Jimmy yang datang melihatnya heran.

__ADS_1


Cindy hanya mengedipkan matanya.


__ADS_2