Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Ke Panti


__ADS_3

“Besok ajak dia ke pembukaan cafe” kata Ramma sambil berdiri. “Aku tunggu kedatangan kalian.”


Albert masih duduk di tempatnya setelah Ramma berpamitan, dia menatap ponselnya. Jarinya mengetuk ponselnya tanda bahwa dia ragu - ragu, kemudian dia menghela nafas dan mengetik di ponselnya.


“Hai Ra, ini Albert, besok malam ada acara nggak ?”


Rara menatap ponselnya tak percaya.


“Pak Albert.. mengirim pesan untukku ?”


Dia mengerjapkan matanya. Rara ragu untuk membalas pesan Albert, hingga ponselnya berdering dan menampilkan nomor yang tidak dikenalnya.


Rara menggeser tombol hijau.


“Halo...”


“Ra...ini Albert.”


“Eh...iya pak...”


Albert berdecak kesal.


“Ck...sudah dibilangin...panggil Albert aja.”


Rara mengulum senyumnya, membayangkan kekesalan Albert saat mengingatkan panggilannya.


Eh...kok jadi keinget sih..gerutunya dalam hati.


“Ehm...maaf.…”


“Jadi...besok malam ada acara ?”


“Ada sih.”


“Oh..


“Emang mau kemana, Al?”


“Aku mau ajak kamu ke acara pembukaan cafe Rama.”


“Oh...yang pakai catering mami?”


“iya”


“Aku..”


“Kalo gak bisa gak papa kok Ra, lagian aku juga mendadak info nya ya.”


“Bukan gitu Al, besok aku harus gantiin temen belanja untuk panti, aku gak tau sampai jam berapa selesainya.”


“Panti?”


“Oh...maaf, aku bantuin pengurus panti asuhan.”


“Oh..boleh aku temenin kamu, besok ?”


“Eh...apa tidak merepotkan ?”

__ADS_1


“Hem...kayaknya nggak deh. Kamu kirimin aja alamat dan waktunya ke WA ku ya.”


“Eh..serius nih kamu mau bantuin ?”


“Iya...mungkin aku juga bisa bantu cari donatur untuk panti asuhan itu.”


“Beneran Al.…aku hampir putus asa loh nyari donatur yang mau bantu panti asuhan ini.”


“Aku gak bercanda Ra, makanya aku mau lihat dulu panti asuhannya, kamu siapin aja proposalnya.”


Albert bisa mendengar kebahagian Rara, dia pun tersenyum. Ternyata Rara punya jiwa sosial yang tinggi.


“Baiklah...nanti aku siapin proposalnya. Makasih sebelumnya ya Al.”


“Oke Ra, tapi sebagai imbalannya, kamu temenin aku ya ke cafe Rama.”


Rara tersedak.


“Jadi ada pamrihnya nih.…”


“Nggak juga sih, kan niatnya aku memang mau ajakin kamu.”


“Hem...baiklah.”


Albert tersenyum.


“Oke, aku tutup dulu telponnya ya. Jangan lupa kirim alamat dan waktunya.”


Setelah Rara menyanggupi Albert mengakhiri panggilannya.


Tak lama ada pesan masuk di ponselnya dan senyumnya makin lebar.


“.….”


“Iyaaa.…ada teman mau kasi proposal.”


“.….”


“Thanks om.”


Pukul 10, Albert sampai didepan Panti.


Setelah memarkir mobilnya, dia pun melangkah ke ruangan yang tampak seperti aula.


Dia pun menelpon Rara karena tidak ada orang yang bisa dia tanyai.


“Halo Ra, kamu dimana ?”


“Hai...aku baru mencatat apa aja yang mau dibeli.”


“Aku harus tunggu dimana?”


“Aku akan kesana. Tunggu sebentar.”


Albert menatap sekelilingnya. Panti ini memang butuh donatur untuk memperbaiki fasilitasnya.


Cat dinding sudah mulai mengelupas dan sama sekali tidak ada penjagaan.

__ADS_1


Albert memotret beberapa bagian yang rusak.


Albert tersenyum saat melihat Rara dan dia mengarahkan kameranya.


Rara sedang menggendong seorang anak kecil yang menangis.


“Nancy...kak Rara harus belanja, kalau gak repot pasti kak Rara main sama Nancy. Jangan nangis ya...Nancy main dulu sama kan Rani dan yang lain.”


Albert melihat anak kecil itu semakin mengeratkan pelukannya di leher Rara.


Albert tersenyum melihatnya, mengingatkannya pada Cindy saat kecil.


“Hai Al.…maaf nunggu lama ya ?”


“Nggak kok. Kenapa dia?” Kata Albert sambil mengelus rambut anak kecil itu.


“Nancy gak mau ditinggal sama aku.”


“Hai Nancy...” sapa Albert.


Nancy memutar kepalanya dan melihat Albert.


“Kenapa nangis...cantik.…”


Nancy menenggelamkan wajahnya di leher Rara.


“Ehem...Kalo Nancy mau hadiah, kak Rara harus pergi sebentar sama abang.” kata Albert.


Nancy tampak mendongakkan kepalanya. Kemudian dia melihat Rara, Rara mengangguk.


“Nancy...mau boneka gukguk...” katanya.


“Boleh, nanti abang yang beliin.” kata ALbert sambil membelai rambut nancy.


Nancy meminta turun dari gendongan Rara. Kemudian dia menatap Albert.


“Abang janji ya.…” katanya sambil mengulurkan jari kelingkingnya.


“Janji” Albert menautkan jari kelingkingnya di jari Nancy.


Nancy tersenyum kemudian dia berlari masuk ke dalam.


Rara menghela nafas lega. Albert tersenyum melihatnya.


“Jangan dibiasain kasi Janji hadiah ke anak-anak AL.” kata Rara.


“Sekali kali gak papa kan.” kata ALbert yang manangkap kekesalan Rara. Menarik, pikirnya.


Rara mendengus. Kemudian dia berjalan keluar dan diikuti ALbert.


ALbert menarik tangan Rara ke mobilnya.


“Pake mobilku aja.”katanya.


Rara meloloskan tangannya dari genggaman Albert.


“Okay.” kata Rara singkat.

__ADS_1


Albert membukakan pintu untuk Rara.


Setelah memastikan Rara memasang seatbelt, ALbert pun mengemudikan mobilnya meninggalkan halaman panti.


__ADS_2