
"Ayu....Rara udah sampai belum ?"
"Sudah pak. Baru saja."
"Antar ke ruanganku aja."
"Baik pak."
Rara yang duduk di sofa menoleh dan tersenyum ke Ayu.
"Bu...bapak minta, ibu tunggu diruangannya." kata Ayu ramah.
"Baiklah." kata Rara sambil berdiri.
"Ibu mau minum apa ?" tanya Ayu lagi sebelum Rara meninggalkan sofa.
"Nggak usah mbak. Saya sudah bawa. Ini, saya bawa juga buat mbak sama temen-temen ya. Kalau kurang bilang saya lagi."
Rara memberikan bungkusan yang dibawanya.
"Wah....ibu baik banget. Pantesan pak Albert suka." kata Ayu senang.
Rara tersenyum mendengarnya.
"Ibu masuk aja ya ke ruangan bapak. Saya mau bagi ini ke temen-temen."
Rara menganggukkan kepala kemudian dia pun masuk ke ruangan Albert.
Rara menatap ruangan itu dan tersenyum. Ingatannya kembali ke waktu pertama dia bertemu dengan Albert dan makan siang bersama untuk pertama kalinya.
Rara mendekati sofa kemudian dia duduk dan meletakkan tempat makan yang dibawanya dari rumah.
Baru saja dia mulai menata tempat makan yang dibawanya, pintu ruangan terbuka dan dia melihat seorang wanita masuk.
Rara berdiri dan menyapanya.
"Selamat siang."
Wanita itu terkejut dan menoleh.
"Maaf..saya tidak lihat anda. Dan sekretaris Albert juga tidak ada didepan. Jadi saya masuk aja."
"Iya gak papa kok."
__ADS_1
"Tapi kok anda bisa disini ? Dan itu tempat makanan buat apa ya ?"
Rara menatap makanan di meja dan tersenyum.
"Saya ada janji dengan pak Albert untuk makan siang disini." kata Rara.
Wanita itu menatapnya seakan tidak percaya ucapan Rara.
Lalu dia tertawa.
"Albert ? Makan siang di kantor ini ? Haha...rasanya sangat tidak masuk akal."
"Percayalah...itu sangat masuk akal Nad."
Wanita itu dan Rara menoleh ke arah pintu dan mendapati Albert berdiri dan melangkah mendekati Rara.
" Maaf menunggu lama." kata Albert seraya menggenggam tangan Rara.
Rara tersenyum dan menganggukkan kepala.
Nadia hampir tak percaya melihat Albert dekat dengan Rara.
"Dia siapa Al ?" tanyanya setelah beberapa saat termenung menatap interaksi Albert dan Rara.
"Oh...hai Ra. Aku Nadia. Partner bisnis Albert. Maaf mengganggu. Aku kesini hanya mau menyerahkan laporan bengkel kami."
Rara tersenyum dan mengulurkan tangan yang disambut Nadia.
" Hai Nad. Aku Rara."
Mereka tersenyum.
Nadia meletakkan dokumen yang dibawanya di meja Albert.
" Aku pikir kita bisa makan siang bersama saat tadi aku telpon ke kantor. Tetapi rupanya kamu sudah ada janji dengan Rara."
"Maaf Nad. Seharusnya kamu telpon aku dulu."
"Yah...gak papa sih. Mungkin lain kali."
Albert hanya tersenyum.
" Ya sudah Al. Aku pamit. Aku akan kembali ke bengkel."
__ADS_1
" Ok Nad. Thanks ya. Aku akan periksa laporannya."
Nadia tersenyum dan menganggukkan kepala.
" Bye Ra. Sampai bertemu kembali." kata Nadia.
Rara mengangguk dan Nadia pun berjalan keluar.
Rara duduk di sofa. Senyum sudah tidak menghiasi bibirnya.
Albert yang menatap Rara melihat perubahan itu.
"Ada apa Ra ?"
Albert duduk di sebelah Rara dan menggenggam tangannya.
"Dia menyukaimu Al."
"Nadia ?"
Rara menganggukkan kepala.
"Kok kamu tahu ? Dia bilang apa ke kamu"
Rara menggelengkan kepalanya.
"Aku tahu dari matanya. Ada wanita secantik Nadia dan kamu malah pilih aku ?"
"Aku hanya menganggapnya teman Ra."
"Tapi dia tidak Al. Dia ngarepin kamu."
"Aku harus gimana ?"
Rara menggelengkan kepalanya.
"Aku juga nggak tahu."
"Ya sudah. Yang penting kan aku milih kamu. Lagian...Jimmy sama Cindy nggak mau sama Nadia."
Rara tersenyum. "Jadi mereka yang milih aku ya."
"Yah..setidaknya pilihan mereka juga pilihanku sama. Dan hanya kamu."
__ADS_1