Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Tertolong


__ADS_3

Rara mengusap wajahnya, saat dia mendengar pintu ditutup.


Dan matanya terbelalak saat melihat seorang pria sudah berada dalam flatnya.


"Apa yang anda lakukan disini ?" katanya sambil berdiri.


Pria itu tersenyum miring.


"Tentu saja menikmati kencan saya."


Rara mundur ke belakang.


"Apa maksud anda ?"


Pria itu mendekati Rara dan mulai membuka kancing kemejanya.


"Saya sudah membayar mahal untuk bisa menghabiskan waktu dengan anda."


"Tidak. Anda pasti salah kamar. "


Pria itu tertawa.


"Tentu saja tidak. Bagaimana saya bisa masuk kesini jika anda tidak melakukannya."


"Tidak, tidak...tinggalkan saya sendiri." kata Rara menghindari Pria itu.


"Tidak usah jual mahal. Saya sudah bayar banyak ke mucikari anda. Hari ini waktu anda dengan saya."


"Saya tidak pernah kenal dengan anda dan saya harap anda meninggalkan tempat ini."


"Hahahahhaha....." Pria itu tertawa.


"Tidak semudah itu. Anda sangat menarik seperti yang dibilang miss R. Tentu saja saya ingin mencicipi anda."


Rara gemetar ketakutan. Entah mimpi apa dia semalam sehingga mendapatkan perlakuan seperti ini.


Pria itu semakin mendekat dan saat Rara mencoba menghindar pria itu memegang tangannya dan menyeretnya menuju kamar.


Rara memberontak dan mencoba melepaskan diri. Tangannya terasa sakit. Kemudian tubuhnya dibanting ke kasur, saat pria itu hendak menindihnya, Rara menggunakan kakinya untuk menendang perut pria itu.


Pria itu tersungkur dan dengan marah dia mendekati Rara yang melemparinya dengan benda yang ada dikasur.


"Sudah cukup main-mainnya. Jangan buat kesabaran saya habis."


Dan pria itu menarik kaki Rara dan menghempaskannya. Kemudian dia mencengkeram kedua bahu Rara dan mengunci kakinya.


"Lepaskan saya.." kata Rara masih berusaha melepaskan cengkeraman pria itu.


Pria itu tertawa.


"Tidak akan pernah. Rupanya anda suka kekerasan sebelum melakukan hubungan. Hem...saya suka."

__ADS_1


"Tidak....tidak ...lepaskan saya, saya mohon."


Air mata membasahi pipi Rara.


"Nicho.....tolong kakak..." teriak Rara dalam hati.


Nicho yang masih terjebak macet gelisah. Apalagi dia mendengar suara Rara minta tolong.


Nicho menyambar ponselnya.


"Bang....kamu dimana ?"


"Baru sampai parkiran Nick." kata Albert.


"Cepat bang...kak Rara minta tolong."


"Sial....apa sebenarnya yang terjadi Nicho." kata Albert sambil berlari menuju lift.


"Aku lengah bang. Seharusnya aku menjaga kak Rara."


"Sudah ...kita bicarakan nanti. Kirim aku password flat Rara."


"Iya....Jaga kak Rara bang."


Albert mematikan ponselnya dan segera berlari menuju flat Rara.


Sementara pria itu mulai membuka kemeja Rara dengan menariknya sehingga kancing berhamburan.


Tubuh bagian depan Rara terpampang dan semakin menambah nafsu pria itu.


Saat tangannya mencoba menjamah dada Rara, sebuah tendangan membuatnya terjerembab dan jatuh ke lantai.


Rara mencoba menutupi tubuhnya dengan sprei dan menatap nanar pria yang sudah melecehkannya.


Pria itu meraung marah dan membalas orang yang menendangnya.


"Beraninya kamu mengganggu kesenanganku." katanya sambil memukul.


"Hah...dasar pria tidak tahu diri. Beraninya kamu melecehkan Rara. Kamu pikir siapa kamu hah..."


"Aku sudah membayar untuk menikmati tubuhnya dan aku harus mendapatkan pelayanan yang sepantasnya."


"Jaga mulutmu."


"Apakah kamu kekasih wanita itu ? Kekasih yang tidak bisa mencukupi kebutuhannya sehingga dia harus menjual diri?"


"Tutup mulutmu pria brengsek."


Pukulan dan tendangan bersarang ke tubuh pria itu hingga hidung dan mulutnya mengeluarkan darah.


"Al....hentikan, dia bisa mati." teriak Rara.

__ADS_1


Albert tidak mengindahkan teriakan Rara. Emosinya memuncak saat melihat seorang pria hampir saja menyentuh Rara. Raranya.


Rara berlari dan memeluk Albert dari belakang untuk menghentikannya.


Sementara pria itu hampir pingsan.


"Aku akan menuntut kalian." teriak pria itu.


"Lakukan dan kamu akan tahu akibatnya berhadapan dengan siapa."


Tak lama Nicho dan Rama datang dan melihat seorang pria yang tergeletak di lantai. Albert menutupi tubuh Rara dengan tubuhnya. Kemudian dia melepas kemeja dan memakaikannya ke Rara.


"Ram,Suruh orang menyelidiki siapa yang menjebak Rara. Dan bereskan bajingan ini." kata Albert.


Rama mengangguk dan segera menyeret tubuh pria itu keluar.


Rara menghambur ke pelukan Nicho.


"Maafkan aku kak." kata Nicho.


"Nggak Nick, kamu nggak salah."


"Kita pulang ya." kata Nicho.


Rara menggelengkan kepalanya.


"Nggak Nick, kamu lihat tangan dan wajah kakak. Bagaimana kalau mami dan papi lihat. Aku nggak mau melihat mereka khawatir." kata Rara.


"Trus..kakak mau kemana ?" tanya Nicho.


"Kakak akan menginap di rumah Ratu saja sampai luka kakak hilang."


Nicho menghela nafas.


"Kamu tinggal di flatku aja Ra." kata Albert.


Rara dan Nicho menoleh.


"Aku ada flat di sini. Dan aku rasa flatku lebih aman dari rumah temenmu. Aku yakin orang yang menjebakmu tidak akan tinggal diam."


"Tapi bang..." kata Nicho keberatan.


"Kamu juga bisa menginap jika mau. Aku hanya tidak mau hal buruk terjadi lagi dengan Rara."


Nicho menatap Albert kemudia dia menganggukkan kepalanya.


"Kak Rara ditempat bang Albert aja. Aku akan menemani kakak." kata Nicho.


Rara menganggukkan kepala.


Kemudian mereka mengikuti Albert menuju flatnya.

__ADS_1


__ADS_2