Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Jadilah Pacarku...


__ADS_3

Rama menatap Albert kemudian dia mengangkat panggilannya.


"Ya, Cit...."


"Ram....."


"Kenapa?"


"Aku....."


"Hem. Shareloc...aku akan kesana."


Rama menutup panggilan itu kemudian bunyi notifikasi membuatnya menatap ponselnya lagi.


"Al....Citra di kontrakanku. Aku akan menemuinya"


"Kenapa lagi dia?"


"Mungkin ada masalah dengan Sigit."


Albert menghela nafas.


"Jangan terlalu baik Rama. Bisa-bisa kamu dimanfaatkan."


"Hem...aku tahu."


"Hati-hati."


Rama mengangguk dan berjalan keluar.


30 menit Rama sampe ke kontrakannya. Dia melihat Citra duduk di teras rumah. Saat Rama mendekat dia segera menghambur ke pelukannya.


Rama hanya menghela nafas kemudian meminta Citra duduk.

__ADS_1


"Tunggu disini, aku akan buat teh untuk kita." kata Rama sambil membuka pintu rumah.


"Ram....apa tidak boleh aku masuk ?"


Rama menoleh.


"Maaf Cit. Ini rumah kontrakan dan ada di kampung. Aku nggak mau warga berpikiran negatif tentang kita. Kamu tunggu aja disini."


Rama masuk dan segera membuat minuman.


"Kenapa kamu nggak tinggal di apartemen atau di perumahan Ram?"


Citra mengambil minuman yang disodorkan Rama.


"Aku nyaman disini. Dan lagi dekat dengan tempat ibu."


Citra menatap wajah sendu Rama setiap membicarakan ibunya.


"Kenapa kamu nggak tinggal bareng ibu aja?"


"Aku punya alasan sendiri Citra. Ok. Kamu sudah tenang kan. Kamu kenapa nangis tadi."


Citra menunduk menatap cangkir hitam yang masih berisi setengah teh hangat.


"Ada masalah dengan Sigit lagi ?" tebak Rama.


"Papa dan Mama tidak setuju hubungan kami Ram. Aku harus gimana ?" Citra terisak.


Rama menghela nafas lelah.


"Kamu tanyain Papa dan Mama kamu, kenapa mereka gak setuju. Mereka pasti punya penilaian sendiri."


"Mereka bandingin Sigit....sama kamu."

__ADS_1


Rama menoleh dan menatap Citra.


"Aku....kenapa aku ?"


"Papa dan Mama sangat menyukaimu Ram. Mereka ingin kamu jadi menantu mereka."


Rama menghela nafas lagi.


"Aku gak menyangka mereka begitu."


"Mereka kagum sama kamu Ram. Apalagi kamu berteman dengan Albert."


"Maaf Cit, apa yang bisa aku bantu. Apa aku harus bicara sama orang tuamu ?"


Rama menatap Citra dan dia melihat gelengan kepala Citra.


"Nggak perlu Ram. Itu malah akan semakin membuat rumit. Apalagi kalau Sigit tahu."


"Trus...."


"Aku hanya ingin bercerita selain ke Sigit masalah ini. Dan....terima kasih kamu mau dengerin aku"


Rama tersenyum. Dan tidak menyadari tatapan putus asa seseorang didepannya.


Rama dan Citra sudah berteman sejak lama. Sejak mereka kuliah. Mereka berlima. Rama,Citra,Albert,Sigit dan Paul.


Walaupun Albert jarang bertemu di luar kampus karena kesibukannya saat itu. Mengurus perusahaan yang ditinggalkan papanya di tengah perseteruan dengan keluarganya sendiri. Hanya Rama yang mengetahui perjuangan Albert untuk menjaga peninggalan orang tuanya. Menjadi ayah sekaligus ibu bagi kedua adiknya. Membuat Phoenix Group menjadi lebih berkembang hingga saat ini.


Dan saat Albert membawanya turut serta berjuang untuk kemajuan Phoenix Group. Rama yang mendapat bimbingan langsung dari Albert. Hingga saat ini dia menjadi tangan kanannya.


Persahabatan mereka tetap terpupuk bahkan saat Sigit menyatakan perasaannya kepada Citra semua mendukung. Meskipun tidak ada yang tahu bahwa hati Citra memilih sosok Rama. Dan Citra menerima Sigit untuk melupakan perasaan cintanya untuk Rama.


Tapi apa yang harus Citra lakukan saat orang tuanya tidak setuju dia berhubungan dengan Sigit dan malah mendukung dia berhubungan dengan Rama. Pria yang hanya menganggapnya sebagai sahabat.

__ADS_1


Dan rahasia perasaannya terungkap dan membuat Sigit marah hingga meninggalkannya. Setelah mengucapkan kata putus. Bahkan Sigit pergi meninggalkan kota mereka dan dengan tujuan yang tidak diketahui Citra.


"Ram....jadilah pacarku dihadapan orang tuaku." pinta Citra yang membuat Rama tidak bisa berkata-kata.


__ADS_2