
"Ka..kalian ngapain ?" tanya Rara dengan gugup dan membuat wajahnya semakin merah.
Albert menghela nafas.
"Udah...jangan diintimidasi kak Raranya. Tuh lihat mukanya merah banget." kata Albert sambil mengusap bibirnya dengan tisu.
"Abang pergi dulu. Thanks buat sarapannya Ra."
Albert pun berdiri dan meninggalkan meja makan.
Sementara Jimmy tampak mengaduk minumannya dengan sendok. Dan Cindy tampak menundukkan kepalanya.
Rara memutuskan untuk menyusul Albert.
"Al..." panggil Rara.
Albert yang hendak membuka pintu menoleh, kemudian berbalik.
"Ya Ra, ada apa ?" tanyanya sambil memasukkan tangan ke saku celana.
Rara mengerjapkan matanya, menatap kagum pada sosok di depannya.
"Ra..." panggil Albert lagi karena Rara tak bereaksi.
Albert pun mendekati Rara.
"Ada yang kamu perlukan ?" tanyanya.
Rara mengusap lehernya canggung.
"Hem...cuma mau tanya, nanti...kamu makan siang di sini ?"
Albert tertegun. Dia menatap Rara yang merona.
"Oh...come on Al, lihat lah betapa cantiknya dia dengan pipi yang merona itu." kata hati kecilnya.
"Al...." panggil Rara.
Giliran Albert yang salah tingkah.
"Ehm...kayaknya nggak sih Ra. Nanti sekalian makan siang diluar."
"Owh...ya udah gak papa. Aku sama Jimmy dan Cindy aja."
"Ok. Baiklah, aku pergi dulu."
Rara mengangguk.
Albert pun berbalik dan meninggalkan Rara.
Rara menghembuskan nafas.
Kemudian dia berbalik dan masuk kekamar. Kenapa dia merasa Albert kecewa padanya. Apa karena dia tidak mengiyakan permintaan Cindy. Tapi jika dipaksapun dia belum siap menerima siapapun saat ini. Tapi dia juga tidak ingin diabaikan oleh Albert. Kadang walaupun hanya sebentar dia ingin bertemu dan ngobrol dengan Albert.
Tapi dia harus sadar diri. Albert mempunyai kesibukan. Dia pemilik Phoenix Group dan bertanggung jawab terhadap ratusan lebih karyawannya.
Kenapa akhir-akhir ini dia gamang terhadap perasaannya sendiri.
Karena kesal dengan dirinya sendiri, Rara masuk kamar mandi dan memulai ritual mandinya.
"Bang....nanti gak balik pas makan siang ?" tanya Jimmy
"Nggak Jim, kenapa ?" tanya Albert balik.
"Hem....kayaknya kak Rara kecewa deh." kata Jimmy lagi.
"Hah...." Albert mengerem mobilnya mendadak dan mendapat klakson dari mobil dibelakangnya.
"Abang kenapa ?" tanya Jimmy saat mendengar bunyi berisik klakson.
"Oh...eh...gak papa. Bentar abang menepi dulu."
Albert menepikan mobilnya.
"Kamu bilang apa tadi Jim ?"
"Yang mana bang ?"
"Kak Rara kecewa ?"
"Hem....mungkin. Tadi habis ngomong sama abang, dia langsung masuk ke kamar. Atau aku sama Cindy salah ya bang."
"Salah gimana ?"
"Yah...kita kan sering maksa-maksa kak Rara buat jadi pacar abang."
Albert mengetukkan jarinya di kemudi.
"Hem...iya juga sih. Kayaknya tadi pagi kita terlalu menekan kak Rara ya."
"Iya juga bang. Soalnya kan kita bertiga melotot ke kak Rara."
Albert tertawa.
" Hem...gini aja Jim. Kamu ajak kak Rara sama Cindy makan diluar. Kita ketemu di Resto AJC."
"Hem..ide bagus bang. Okelah nanti aku ajak kak Rara. Aku harap hubungan abang dan kak Rara tambah maju."
__ADS_1
"Amin. Udah ya, abang jalan lagi. "
"Oke."
Jimmy menutup ponselnya tepat saat pintu kamar Rara terbuka.
"Kak Rara..." panggil Jimmy.
Rara tersenyum dan mendekati Jimmy.
"Ada apa Jim."
"Kakak mau makan siang di luar nggak."
"Hem....kenapa? Kamu nggak suka masakan kakak ?"
"Bu...bukan kak. Jimmy selalu suka masakan kakak kok. Cuma pengen aja sekali-kali makan diluar gitu bareng kakak."
"Hem....boleh deh. Cindy gimana ?"
"Tenang kalau dia kak. Cindy gak bakal nolak deh kalau diajakin makan."
Rara dan Jimmy tertawa.
"Ya udah...kamu siap-siap. Kasih tau Cindy juga ya. Kakak ganti baju dulu."
"Oke kak."
Jimmy senang rencana nya berhasil.
Kemudian dia pun mencari Cindy.
"Cin...ganti baju deh." kata Jimmy saat menemukan Cindy di balkon sambil membaca komik.
"Apaan sih bang." katanya kesal karena merasa terganggu.
"Ikut nggak. Abang mau makan siang di AJC."
"Wah...yang bener." katanya sambil berdiri.
"Serius...udah sana ganti baju."
"Asikkk....oke. Tunggu ya" kata Cindy sambil berlari menuju kamarnya.
Jimmy menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya.
Jeremy_S : " Siap-siap ke AJC"
Albert_S : "Oke. Ke tempat biasa ya. Aku dah info sama Lila."
Jeremy_S : "Siap bos."
"Ga ada apa-apa kok. WA dari Jimmy." jawab Albert.
"Owh...udah lama ya dia gak bikin ulah di sekolah." kata Rama sambil melipat tangan di dada.
"Hem...dia gak berhenti berulah kok. Cuma sekarang lebih kalem aja sejak kenal Rara."
"Oh ya....kok bisa ?"
Albert mengangkat bahunya.
"Pengaruh Rara besar juga ke adik-adikmu."
"Ya....dan kearah positif tentunya."
"Makanya...kamu harus gercep kalau gak mau kehilangan dia."
"Aku tahu Ram. Dan aku yakin kok kalau dia juga mulai buka hati buat aku."
"Kepedean banget kamu."
"Nggaklah....makanya nanti aku mau makan siang sama adik-adikku dan Rara. Kamu pasti gak percaya. Kalau dia ingin makan siang dengan aku."
Rama tertawa mendengar perkataan Albert.
"Wah....pak Albert rupanya punya kepercayaan diri yang sangat tinggi."
"Whatever.."
"Aku senang kalau kamu senang" kata Rama sambil menepuk bahu Albert.
"Thanks Ram."
"Ya udah. Sebaiknya kamu susul mereka. Aku akan mengerjakan laporan sebentar."
Albert berdiri dan merapikan bajunya.
"Kamu juga cepet balik. Ajak tante jalan-jalan. Mumpung weekend."
"Hem." jawab Rama.
Albert pun meninggalkan Rama dan menjalankan mobilnya ke resto AJC.
Albert memarkir mobilnya di AJC dan saat turun dia melihat Pandu bergandengan dengan seorang wanita. Dan mereka masuk ke AJC.
"What the hell." umpat Albert.
__ADS_1
Dia segera masuk ke AJC.
Kemudian dia segera menghampiri tempat yang sudah disediakan untuk Syailendra.
Albert membuka pintu ruangan itu dan melihat kedua adiknya sedang tertawa bersama Rara.
"Hai bang." Sapa Jimmy.
Rara segera menoleh saat Jimmy menyapa orang yang membuka pintu dibelakangnya.
"Albert ?"
"Hai..." sapa Albert kemudian duduk di samping Rara.
" Bukannya kamu ada meeting dan makan siang dengan klien ?" tanya Rara.
"Meeting iya, dan sudah selesai. Untuk makan siang, aku ingin makan dengan adik-adikku." kata Albert.
Jimmy dan Cindy tersenyum.
"Jadi...aku ganggu makan siang keluarga ?"
"No....kamu memang diundang Ra."
"Hem...baiklah."
"Ra....kami minta maaf jika sikap dan perbuatan serta perkataan kami membebanimu." kata Albert sambil memiringkan tubuhnya menghadap Rara.
"Aku dan adik-adikku memang menyukaimu. Tapi kamu nggak punya kewajiban untuk membalas kami. Perasaan tidak untuk dipaksakan."
Rara terdiam.
"Kak...Cindy selalu ingin kakak menjadi kakak Cindy. Tapi Cindy gak mau kalau kakak gak nyaman."
"Cin....kakak adalah kakak kamu. Walaupun kita tidak ada hubungan darah tapi kakak sayang kalian. Tapi kalau untuk menjadi istri bang Albert , kakak belum bisa jawab sekarang. Seperti yang kakak bilang. Kakak butuh waktu."
"Take your time Ra. Dan jangan berubah ke kami." kata Albert.
Rara tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Oke...sekarang kita pesan makanan. Abang sudah lapar."
"Ih abang....kami sudah pesan. Dan...tentu saja abang sudah kami pesankan."
"Baiklah...kalian memang terbaik."
Semua tertawa.
"Ehm....kakak ke toilet dulu ya." kata Rara sambil berdiri.
"Aku ikut kak." kata Cindy dan ikut berdiri.
"Ih..Cindy...kebiasaan memonopoli kak Rara." protes Jimmy.
"Biarin..." katanya sambil memeletkan lidah.
Rara dan Albert tertawa melihat tingkah mereka.
Cindy menggandeng Rara dan merekapun keluar menuju toilet wanita.
Rara mencuci tangannya sementara Cindy masuk bilik.
Pintu bilik di samping Cindy terbuka dan seorang wanita muda keluar.
Wanita muda itu terkejut saat melihat Rara. Sementara Rara masih sibuk membasuh tangannya.
"Hem....jadi kamu sudah berani keluar sekarang." kata wanita itu.
Rara mendongak dan menatap cermin didepannya.
"Kamu .."
Wanita muda itu mendekati wastafel disebelah Rara.
"Rupanya rasa malumu sudah hilang ya. Kamu masih berani menemui Pandu lagi."
Rara menghela nafas.
"Aku tidak berhubungan dengan Pandu lagi. Dan kamu tahu itu."
"Dan kamu pikir aku percaya dengan ucapanmu? Ingat ya Ra, Pandu milikku. Dia akan jadi suami dan ayah anak-anakku. Jangan ganggu kami lagi." kata Saskia.
"Lagi...? Seolah aku wanita yang gak benar. Tapi....kamu punya kaca kan ya di rumah. Coba deh ngaca Sas...barangkali kamu bisa melihat bayanganmu yang sesungguhnya." kata Rara sambil mengeringkan tangannya.
"Terserah kamu. Aku hanya nggak suka kamu berada di tempat yang sama dengan kami."
"Jangan khawatir Sas...aku juga gak mungkin datang ke resto mahal ini setiap hari."
Rara mengetuk bilik tempat Cindy dan taklama Cindy pun keluar.
"Jika sudah nggak ada yang mau kamu bicarakan lagi, aku permisi."
Rara meraih lengan Cimdy dan mulai beranjak dari toilet.
"Tunggu.....aku selalu membawa ini karena nggak ingin Pandu yang menyerahkan ke kamu. Minggu depan kami menikah. Dan ini undangannya. Kamu harus datang."
Saskia menyerahkan undangan yang berwarna gold. Undangan pernikahan Pandu dengan Saskia.
__ADS_1
Ada yang berdenyut di hati Rara saat menerima undangan itu.