
Kekesalan Albert ternyata tidak hilang setelah dia mengantar adik-adiknya ke sekolah.
Saat dikantorpun dia tidak bisa fokus dengan pekerjaannya.
Hal itu tentu saja membuat Rama heran.
"Kamu kenapa sih, dari tadi gak fokus. Bahkan tidak ada satupun dokumen kamu tanda tangani."
Albert melempar bolpoin ke meja dan diapun berdiri.
"Rara ada janji kencan dengan seseorang."
Rama menghela nafas. "Trus knapa emangnya. Lagian dia bukan siapa-siapa kamu."
Albert menatap Rama kesal. Sedangkan Rama masih mengecek dokumen di mejanya.
Albert mengambil bolpoin dan melemparnya ke Rama.
"Aduh..." pekik Rama saat bolpoin mendarat di kepalanya.
"Kamu kenapa sih Al....kenapa pake lempar-lempar. Sakit tahu."
"Habis kamunya tuh, sahabatnya lagi galau malah dicuekin."
"Astaga....ABG tua ini. Kalau kamu penasaran ikuti aja Rara, buntuti dia, atau minta Andre selidiki siapa yang mau ketemuan dengan Rara."
Albert terdiam.
Rama mendengus. Kemudian dia meraih ponselnya.
"Ndre....kamu minta orang buntuti Rara, kirim fotonya ke bos." kata Rama.
"Sudah puas...? Selesaikan kerjaanmu, sebentar lagi kamu ada interview di cafe."
Albert dengan enggan kembali ke kursinya.
Tak lama dia memdapat kiriman foto dari anak buah Andre.
"Hem....cepet juga Andre." kata Albert.
__ADS_1
"Ya iyalah, sejak kamu bantu Rara, aku juga minta supaya Rara ada yang jaga." kata Rama.
Albert tersenyum.
"Kamu emang jenius Ram." kata Albert senang.
Rama mengacuhkannya dan melanjutkan pekerjaannya.
"Rara beneran ketemuan sama cowok Ram. Dan cowok itu lumayan tampan. Dan mereka akrab sekali. Liat...Rara bahkan bergelayut mesra di lengannya. Ah...." kata Albert sambil menggebrak mejanya.
Rama hanya geleng-geleng kepala.
"Sudah, tinggalkan semua dokumen itu. Kita ke cafe sekarang." kata Rama.
Albert yang masih menahan kekesalannya hanya mengangguk dan mengikuti Rama.
Tiba di cafe Rama meminta Albert untuk menunggu di ruangannya.
Rama menemui dua orang yang akan melakukan interview dengan Albert.
"Selamat siang....saya Rama. Asisten sekaligus sekretaris pak Albert." sapa Rama.
"Siang pak Rama, saya Jonathan Pramudya."
Setelah bersalaman, kedua pria itupun diantar Rama masuk ruangan tunggu.
"Saya sudah membaca CV anda Jonathan. Tetapi untuk Nicholas, Andre belum menyerahkannya."
"Oh ya pak, maaf, tapi saat ini saya membawanya."
"Baiklah, Nicholas bisa masuk dan temui pak Albert."
Nicholas tersenyum dan menganggukkan kepala. Kemudian dia mengetuk pintu dan masuk saat ada suara yang mempersilakannya.
"Selamat siang pak Albert" sapa Nicholas.
"Selamat siang." balas Albert.
Albert mendongakkan kepala dan tertegun. Kemudian dia mengambil ponselnya dan memperhatikan foto yang dikirim anak buahnya.
__ADS_1
Nicholas tersenyum.
"Saya diminta pak Rama masuk kesini pak. Dan saya membawa CV saya."
"Eh...ehm, oke. Boleh saya lihat CV kamu?"
"Silakan pak."
Nicholas menyerahkan map yang dibawanya.
Albert membuka map tersebut.
"Hem....silakan duduk Nicholas Rafael Wijaya."
Nicholas tersenyum lagi.
"Jadi...apa kelebihanmu sampai Andre merekomendasikan kamu ke Phoenix."
"Hem...mungkin karena Andre tahu karakter saya pak, dia teman saya sejak kecil. Dan kami adalah team yang solid."
"Banyak teman Andre, kenapa dia harus memilih kamu untuk membantu kami."
"Dia sangat tahu kekurangan dan kelebihan saya yang banyak orang tidak tahu pak."
"Dan...itu adalah...."
"Saya bisa membaca pikiran orang lain."
Albert terhenyak. "Maksudnya ?"
Nicholas menghela nafas.
"Saya bisa membaca dan mendengar pikiran orang lain dari jarak dekat maupun jauh jika saya sudah mengenal suara orang itu."
Albert tersenyum sinis.
"Apakah anda tahu pikiran saya saat ini?"
Nicholas menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Apa.."
"Pak Albert cemburu kepada saya karena saya adalah orang yang ada di foto yang pak Albert baru liat."