
Rara memukul kepalanya berkali-kali.
"Gila kamu Ra. Bisa-bisanya kamu ngajak kencan Albert. Haduhhhh....gimana nanti kalau ketemu. Aduhhhh...mau ditaruh mana mukamu Ra." gerutu Rara didepan cermin kamar mandi.
"Kak...ditunggu abang didepan loh." teriak Cindy.
"Iya Cin...bentar." balas Rara.
Rarapun segera merapikan bajunya. Dia mengenakan gaun floral berwarna dusty pink. Kemudian dia mengenakan flat shoesnya.
Rara membuka pintu kamar mandi dan menemukan Cindy yang berdiri di samping tempat tidur sambil memegang komik conan.
Cindy mendongak dan menatap Rara.
Rara menyematkan rambutnya di belakang telinga karena gugup dipandangi Cindy.
"Kakak cantik banget sih. Pantesan bang Albert suka sama kakak."
Pipi Rara merona.
"Ah Cindy...bikin kakak grogi aja deh."
Cindy tersenyum. Kemudian menggandeng tangan Rara dan mengajaknya keluar.
"Bang...kak Rara dah siap nih." kata Cindy sambil menghampiri Albert yang duduk di sofa sambil menatap ponselnya.
Albert mengangkat wajahnya dan pandangannya tertuju pada wanita di samping adiknya.
Albert berdiri dan tersenyum.
"Hai Ra. You looks so beautiful"
Albert mendekati Rara yang wajahnya mulai memerah.
"Kita berangkat ya." ajak Albert yang dibalas anggukan oleh Rara.
"Ehm...kalian beneran gak mau ikut ?" tanya Rara ke Cindy dan Jimmy yang mengikuti mereka.
__ADS_1
"Nggak....kakak sama abang aja. Ini kan perdana acara kencannya yang resmi." kata Jimmy sambil menahan tawa.
"Awas lo Jim, ngetawain abang." ancam Albert.
"Canda bang. Kan baru kali ini kita bantuin dan restuin abang kencan sama cewek." kata Jimmy sambil merangkul Cindy yang mendukungnya dengan anggukan.
"Iya iya...abang berTERIMA KASIH sama kalian." katanya dengan geram.
Rara tersenyum sedangkan Jimmy dan Cindy tertawa senang.
"Ya udah, kakak berangkat ya. Kalau ada apa-apa kabari." pesan Rara.
"Iya kak. Yang penting nanti abang bawa balik kak Rara kesini ya."
Albert berdecak kesal.
Rara tersenyum kemudian menggandeng lengan Albert dan menariknya keluar.
Kalau dilanjut kakak beradik ini pasti gak habis-habis berdebat.
Rara yang menyadari arah pandang Albert dari pantulan pintu lift segera melepas pegangannya.
"Maaf..." katanya.
" Yah...kok dilepas sih Ra. Jarang-jarang kan kamu menyentuhku." kata Albert dengan nada kecewa.
"Bahasamu Al...menyentuh. Kan tadi biar cepet aja kita keluar. Kalau nggak wah debatnya gak bakal selesai deh."
"Iya iya...aku tahu kok maksudmu." kata Albert kesal.
"Kok aku ngerasa kamu pengen banget aku sentuh sih." kata Rara sambil menahan tawa.
"Tertawa aja Ra. Ga usah di tahan-tahan."
"Maaf-maaf...habis kamu lucu tahu, kayak Cindy kalau ngambek."
"Kan emang dia adikku." katanya lirih.
__ADS_1
Rara tertawa melihat ekspresi Albert.
"Puas-puasin ketawanya."
Rara semakin terpingkal sampai airmatanya keluar.
"Udah dong Al...jangan bikin aku ketawa terus."
"Hem....aku yang salah lagi kan."
"Nggak...nggak ada yang nyalahin kok."
Albert menarik Rara kearahnya sehingga tubuhnya membentur kotak besi itu.
Rara terdiam saat tubuh Albert hampir menempel di tubuhnya.
"Al...."
"Kenapa ? Kamu takut ?"
"Al...please..."
"Jangan menggemaskan gitu dong Ra. Kalau aku khilaf gimana coba." kata Albert sambil menjauhkan tubuhnya dari Rara.
Rara meraba dadanya. Ada getar halus di dadanya saat berdekatan dengan Albert. Dan hal itu membuat telinganya menjadi panas dan bisa dipastikan wajahnya pun memerah.
"Aku senang kamu bisa tertawa seperti itu Ra." kata Albert sambil menatap bayangan Rara di pintu.
Sementara Rara sedang berusaha meredakan debaran jantungnya yang berpacu karena kedekatan mereka.
Sementara Albert pun sedang berusaha menghilangkan kecanggungannya karena ulahnya sendiri.
Semoga Rara merasakan debaran jantungnya yang menggila karena kedekatan tadi katanya dalam hati.
Bunyi lift memecah kesunyian mereka. Dan saat pintu membuka mereka segera melangkah keluar dan Albert membawa Rara menghampiri range rover yang berwarna silver metalik.
Albertpun membukakan pintu dan memastikan Rara sudah nyaman duduk di bangku penumpang sebelum dia masuk dan duduk di kursi pengemudi.
__ADS_1