Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Ternyata...


__ADS_3

Albert mengedipkan matanya.


Nicholas menundukkan kepala.


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Ya...itu adalah kelebihan dan kelemahan saya pak. Dengan melihat bapak saya bisa membaca pikiran bapak. Dan saya minta maaf karena membuat bapak cemburu."


Albert menghela nafas, kemudian dia meraih ponselnya.


"Ram, bawa Jonathan masuk."


Albert menatap Nicholas dengan tatapan kagum.


Jonathan dan Rama pun masuk.


Albert mempersilakan mereka duduk.


"Kamu sudah baca CV Nicholas, Ram ?" tanya Albert.


Rama menggelengkan kepala.


"Baru hari ini dia bawa, dan tadi langsung aku minta ketemu bapak."


Albert menyerahkan map ke Rama.


Rama membaca CV Nicholas dan merasa tidak ada yang aneh.


"Dia lulusan S1 teknik mesin, dan baru kembali dari magang di perusahaan kita yang ada di Jogja."


"Apa dia menulis hal yang lain?"


"Tidak."


Nicholas menahan tawanya.


"Memangnya kenapa pak ?" tanya Rama.


"Nicholas..."


"Panggil saya Nick, atau Nicko pak."


"Oke. Nick...apa kamu tahu apa yang dipikirkan Rama sekarang?"

__ADS_1


"Ehm...., maafkan saya pak Rama." kata Nicholas sambil menatap Rama.


Rama menatap Albert bingung.


Albert hanya menganggukkan kepalanya.


"Saya bisa membaca dan mendengar pikiran pak Rama pak Albert. Tapi apakah saya boleh menyampaikannya kepada pak Albert harus seijin pak Rama." kata Nicholas setelah kembali menghadap Albert.


Albert menganggukkan kepalanya.


"Maksudnya gimana Al....kenapa dia membaca pikiranku ?" tanya Rama bingung sampai menghilangkan sikap formalnya.


"Itu kelebihan dia Ram, bisa membaca pikiran orang lain. Dan Andre mengetahuinya." kata Albert sambil mengetukkan jarinya ke meja.


Rama menatap Nicholas tak percaya.


"Jadi ... kamu yang menemukan pelaku kasus sabotase cabang Jogja kemarin ?"


"Saya bantu gak banyak kok pak, dan kasus itu tanpa menggunakan itu pasti juga terungkap. Karena Andre sangat teliti."


"Ya...ya, tapi tidak akan secepat itu. Hanya 1 minggu, dan kasus bisa diselesaikan." kata Rama.


Rama dan Albert saling berpandangan.


"Oke Jonathan, Nicho. Kalian bisa tunggu di depan. Saya perlu diskusi dengan Rama."


"Gila..Al...darimana lagi kamu dapat personil seperti Nicholas. Jonathan juga bisa diandalkan, karena dia punya banyak channel."


"Ya....aku tahu itu. Tapi Ram...dia orang yang bersama Rara hari ini." kata Albert lirih.


"Apa....jadi Nicho orang yang ketemuan dengan Rara?"


Albert menganggukkan kepalanya.


"Ya...kalo gitu semua terserah kamu sih. Toh aku masih sanggup handle kerjaan sendiri."


"Mana bisa begitu. Bisa habis aku nanti dimarahi tante Lana karena kamu belum juga dapat jodoh."


"Kenapa juga harus bawa-bawa mama sih."


"Ya....kan tante Lana sering chat aku nanyain kamu lagi sama siapa."


"Bisa-bisanya Mama bilang gitu ke kamu."

__ADS_1


"Hah....sudahlah, urus kontrak mereka. Sayang jika kemampuan mereka diambil perusahaan lain."


"Oke. Aku akan memberitahu mereka. Tapi...gimana kamu sama Rara....?"


Albert menarik nafas kemudian dia menghembuskannya.


"Selama janur kuning belum melengkung...aku akan tetap berusaha. Lagian juga aku bos dia kan..."


Rama tertawa mendengarnya.


"Kamu pikir Rara cewek matre yang mau duit aja. Ingat..kamu hanya pemilik perusahaan desain di Sudirman. Mana tahu dia kalai kamu bos Phoenix."


"Ah....kenapa juga harus kamu ingetin sih Ram. Aku akan ngomong kok ke Rara. secepatnya."


Rama menganggukkan kepala. Kemudian dia keluar untuk menemui Jonathan dan Nicholas.


Albert menyelesaikan tugasnya di ruangan Rama. Tentu saja, Rama tidak akan membiarkan ada pendingan pekerjaan.


Setelah cukup lama di ruangan itu, Albertpun keluar dan melihat Rama dan Nicholas sedang berbincang.


Albert pun mendekat.


"Belum pulang Nick?" tanyanya.


"Sebentar lagi pak. Saya masih nunggu kakak saya. Mobilnya saya bawa dan dia minta diantar ke rumah" kata Nicholas.


"Kenapa nggak kamu jemput dia ?"


"Niatnya begitu pak, tapi kakak saya gak mau, karena dia sedang ada didekat cafe ini."


"Oh..." kata Albert.


"Ah...itu kakak saya datang pak. Pak Albert, Pak Rama, saya pulang duluan. Permisi." kata Nicho sambil tersenyum.


Albert dan Rama melihat seorang wanita turun dari taxi dan melambaikan tangannya saat melihat Nicho keluar.


Albert dan Rama saling berpandangan.


"Bukannya itu Rara, Al?" kata Rama.


"Kakak dia bilang ?" kata Albert.


Rama dan Albert tertawa berbarengan.

__ADS_1


"Sialan....pantas saja dia menahan tawa melihat aku cemburu. Awas kau Nicholas Rafael Wijaya."


Bersamaan dengan umpatan Albert, klakson mobil terdengar. Dan sebuah mobil warna merah lewat didepan cafe.


__ADS_2