Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Berita pindahan


__ADS_3

"Kok abang yang jemput? " tanya Cindy kesal.


"Kok kalian gak suka kalo abang yang jemput ?"


balas Albert seraya melirik kedua adiknya.


"Bukan gitu si bang, cuma kita pengen kak Rara aja yang jemput, lagian tumben abang ada waktu." kata Jimmy.


"Kak Rara di RS nemenin tante Deby, tadi abang sekalian keluar ada keperluan."


"Bang, kak Rara cantik ya, baik hati juga." kata Cindy sambil tersenyum. "Coba aja Kak Rara yang jadi istri abang, Cindy pasti senang."


"Segitunya banget suka sama kak Rara?" Sindir Albert.


"Yah...intinya kak Rara bedalah sama cewek-cewek yang deket sama abang." kata Jimmy.


Albert hanya diam, tapi dalam hati dia membenarkan perkataan adik-adiknya.


Ya..hanya Rara yang belum tahu siapa Albertus Syailendra sebenarnya.


Bahkan dia tidak tahu bahwa Albert yang menjadi donatur untuk panti asuhan itu.


Rara hanya menganggapnya perantara yang menyampaikan proposal pengajuan donatur itu.


Mereka sampai di rumah sakit setelah mampir ke rumah makan untuk membeli makan siang.


"Hai kak Rara..." sapa Cindy.


Rara menoleh dan tersenyum saat melihat Cindy dan Jimmy menghampirinya.


“Hai Jim, Cin. Abang kalian dimana?”kata Rara saat tidak melihat sosok Albert bersama mereka.

__ADS_1


Jimmy dan Cindy saling menatap dan tersenyum.


“Kakak kangen sama bang Al ?”goda Jimmy.


Pipi Rara memerah.


“Eh..bukan gitu. Kakak hanya nanya aja kok.” kata Rara menutupi rasa malunya karena digoda Jimmy dan Cindy.


CIndy dan Jimmy tertawa.


“Ih, kok kalian godain kakak sih.” ujar Rara salah tingkah.


“Maaf kak, habis kakak lucu gitu deh.” kata Jimmy tertawa senang melihat wajah merah Rara.


“Jimmy..” protes Rara.


“Iya kak, gak godain lagi deh. Apalagi kalo tuan besar dengar bisa habis aku.” kata Jimmy sambil memeragakan tangannya memotong leher.


“Siapa yang habis Jim?” tanya Albert sambil menutup pintu.


Jimmy berbalik dan menatap Albert. Kemudian tersenyum.


“Bukan siapa bang, tapi apa yang habis. Tu, air minum kak Rara habis.” kata Jimmy.


Albert menatap ke arah yang ditunjuk Jimmy.


Kemudian dia menatap Rara.


“Tadi abang denger siapa deh.” kata Albert penasaran.


“Salah denger kali bang” kata Jimmy lagi.

__ADS_1


"Udah si, ngapain juga dibahas." kata Rara mencoba menengahi.


Jimmy tersenyum lega.


Sementara Albert masih menatap tajam Jimmy.


"Tante gimana bang ?" tanya Cindy.


Albert duduk di sofa dan menghela nafas.


"Dokter bilang keadaan tante sudah membaik." kata Albert.


"Iya...tante sudah sadar kok. Tadi juga udah makan siang sebelum kalian datang." kata Rara menimpali.


"Syukurlah." kata Jimmy dan Cindy berbarengan.


"Bang Deny sama bang Benno kapan datang kak ?" tanya Jimmy.


"Deny tidak bisa dihubungi, kalau Benno baru nanti malam dia sampai. Karena hari ini dia baru bisa berangkat kesini."


"Ra...makanlah dulu, tadi kami sudah makan siang diluar." kata Albert seraya meletakkan nasi kotak di meja.


Rara berjalan mendekat dan duduk di sofa.


"Terima kasih Al." katanya sambil tersenyum.


Albert mengangguk dan tersenyum kemudian dia mendekati adik-adiknya yang berdiri di dekat pembaringan tante mereka.


Rara baru saja akan menyuap makanan ke mulutnya saat ponselnya berdering.


Ibu Panti menelponnya. Dahinya berkerut. Ada apa lagi ya...

__ADS_1


"Halo bu..."


"Ra....hari ini kami pindahan."


__ADS_2