
"Apaan sih Re...gak.sabaran banget pengen ketemu Bastian." protes Nicho.
"Ih bang Nicho....makanya cari pacar sana biar bisa ngerasain R I N D U...."
Renata tertawa karena melihat wajah jutek Nicho.
Deg...
Rama mengerjabkan matanya.
Ternyata dia terlambat. Cewek yang dicarinya sudah punya pacar.
Nicho menoleh melihat perubahan wajah Rama.
"Bang...Bang Rama gak papa kan ?" tanya Nicho cemas.
"Nggak Nick....aku okay." katanya sambil mengibaskan tangannya. "Aku ke dalam dulu."
Tanpa menoleh lagi Rama melewati Renata yang mematung menatapnya.
"Kok aku kayak pernah ketemu abang tadi ya, tapi dimana?."
Nicho hanya mengangkat bahunya.
"Ah...sudahlah. Ayo abang antar ke cafe. Jangan pulang malam-malam. Abang akan jemput kamu di mall. Dan jangan pernah mau diajak ke tempat sepi sama Bastian."
Renata menghela nafas.
"Abang serius Ren. Kalau kamu gak bisa jaga diri sendiri. Abang akan mengawasi kamu dari dekat."
"Iya bang. Rena tahu."
Nicho mengacak rambutnya kemudian mengajaknya keluar.
Sementara itu Rama masuk ke kamar mandi yang ada di belakang. Tangannya terkepal saat teringat pertemuannya pertama kali dengan gadis yang sudah membuat hatinya terpaut.
Dan setelah lima tahun pencariannya, dia harus mendapati kenyataan bahwa gadis yang dicarinya sudah punya pacar.
Dia mengacak rambutnya kesal. Hingga suara Jimmy memanggilnya.
Rama membuka pintu kamar mandi dan mendapati Jimmy memandanginya heran.
__ADS_1
"Bang Rama baik-baik aja ?" tanyanya.
Rama menghela nafas dan menganggukkan kepala.
"Ehm....Jim...kamu tahu cewek yang tadi sama Nicho ?"
"Cewek ? Siapa bang?"
"Yang sama Nicho tadi."
Jimmy diam tampak berpikir.
"Oh...kalau nggak salah namanya kak Rena deh. Dia sepupu kak Rara dan bang Nicho."
"Hem....kenapa dunia sempit sekali ya. Tapi aku baru bisa bertemu dia sekarang dan saat ini dia sudah punya pacar." kata Rama dalam hati.
Rama mencoba menata hatinya kembali karena tidak ingin mengacaukan acara keluarga Albert.
Setelah makan malam dan obrolan ringan keluarga akhirnya keluarga Albert pamit.
Albert memilih pulang dengan Rama karena dia akan ke cafe untuk membicarakan pekerjaan.
"Kamu kenapa Ram? Ada masalah ?" tanya Albert yang melihat raut wajah Rama yang duduk di kursi penumpang.
"Al....aku bertemu dia."
Albert yang terkejut mengerem mobilnya. Dan Rama mengumpat karena dahinya membentur dashboard.
"Kamu gila ya...kalau nggak mau nyopirin biar aku aja yang nyetir." kata Rama sambil mengusap dahinya.
"Maaf...maaf. Habis kamu ngagetin deh." kata Albert sambil melajukan mobilnya kembali.
Mereka diam hingga sampai di cafe. Lalu mereka turun dengan masih saling diam.
Albert duduk di sofa di ruangan Rama. Rama pun menghempaskan badannya di sofa tunggal didepan Albert setelah mengambil obat untuk meredakan nyeri didahinya.
Albert menghela nafas.
"Jadi.....dimana kamu ketemu dia ?"
"Di rumah Rara....tadi."
__ADS_1
Albert mengerutkan dahinya.
"Siapa ?"
"Adik sepupu Rara. Rena."
"Aku nggak percaya Ram. Kenapa selama ini kamu nggak bisa menemukannya ?"
"Dia sekolah di luar kota Al. Pantas saja aku nggak bisa ketemu dia lagi."
Albert menghela nafas lagi.
"Lalu apa rencanamu ?"
"Aku nggak tahu Al. Dia udah punya pacar."
"Benarkah ? Dan kamu akan mundur?"
Rama menatap Albert.
"Trus aku harus apa Al. Aku juga gak mau ganggu mereka kan ?"
"Kenapa gak kamu selidiki siapa pacarnya. Mungkin ada celah buat kamu rebut dia."
Rama tertawa.
"Ide mu memang gila. Sudahlah. Yang penting aku sudah tahu nama cewek itu dan aku akan cari informasinya."
"Aku yakin Nicho sudah tahu kalau kamu cari adik sepupunya. Tapi dia diam aja."
"Ya nggak semua harus diungkapkan Al."
Albert menganggukkan kepalanya.
"Iya...aku salut sama Nicho karena bisa memendamnya."
Rama mengangguk setuju.
"Ya sudah, kita lanjut kerja lagi."
Merekapun segera membuka laptop dan mulai bekerja.
__ADS_1
Tak lama ponsel Rama berdering.
....Citra Calling....