
“Kamu.…udah lama bantuin panti itu ?” tanya Albert saat mereka berhenti di lampu merah.
“Hem...lumayan, dari kuliah sih.” jawab Rara.
“Gak nyangka cewek secantik kamu juga punya kepedulian yang tinggi.”
Rara menoleh menatap ALbert.
“Punya pengalaman dengan cewek cantik yang egois ya?” tanya Rara mengulum senyum.
ALbert menatap Rara.
“Maksud kamu ?”
“Mungkin saja, kamu punya cewek yang hanya mentingin dirinya sendiri, gak peduli sama orang lain, apalagi anak-anak panti.”
“Hem...” Jawab Albert.
“Aku bener ya? Maaf.” Kata Rara tidak enak hati saat melihat Albert terdiam.
“Gak papa kok.”
"Al...aku serius minta maaf, aku gak bermaksud menyinggung pergaulanmu."
"Never mind. Hingga saat ini memang tipe seperti itu yang aku temui ra, jangan merasa bersalah."
"Oke. Tapi tetap aja aku minta maaf." kata Rara
"Hem. Oh iya, boleh aku lihat catatan belanjaanmu ?" Albert mencoba merubah suasana yang sempat canggung karena pembicaraan mereka.
"Oh....boleh kok, banyak barang yang habis tadi jadinya agak lama mencatatnya."
Rara menunjukkan catatannya.
Albert memotret catatan itu dan mengirimkan ke asistennya.
"Ok...kamu gak lagi buru-buru kan ?" tanya Albert.
"Nggak sih, tapi kalo harus nemenin kamu nanti sore kayaknya harus cepet-cepet belanjanya."
"Oh...acara nanti sore bisa nunggu kok. Tenang aja."
"Baiklah, sesuai janjiku, aku bisa nemenin kamu hari ini. " kata Rara.
"Thanks." Albert tersenyum.
Albert membawa Rara ke sebuah butik langganan tante Debby.
__ADS_1
Dan dia meminta Rara untuk mencoba gaun.
Rara pikir gaun itu untuk pacar Albert, dan dia memang berniat membantu Albert.
Setelah itu dia menemani Albert makan siang.
"Al...kalau kita gak segera belanja, aku yakin aku gak akan bisa nemanin kamu ke tempat mas Rama."
Albert tersenyum.
"Santai aja Ra, aku akan nemani kamu belanja"
Ponsel Rara berdering.
"Ya bu..."
........
"Belum sih, ini baru makan siang."
........
"Maksudnya....?
...
.....
"Baiklah, besok atau nanti saya ke sana."
Rara menatap Albert yang berkutat dengan ponselnya.
"Hmmm....kayaknya kita gak jadi belanja Al."
Albert mendongak dan menatapnya.
"Kenapa ?"
"Ada donatur yang mengirim barang-barang ke panti. Kamu ....kenal Phoenix Group ?" tanya Rara.
"Ehm...kenal lah...itu kan perusahaan besar Ra."
"Kamu...kirim proposalku ke sana ?" tanya Rara.
Albert menganggukkan kepala.
"Cepet banget responnya. Thanks.ya Al."
__ADS_1
Albert menggaruk kepalanya. dan tersenyum.
"Apapun untuk kamu Ra." katanya dalam hati.
Albert mengantar Rara ke apartmentnya.
"Al...mobil aku gimana ?" tanya Rara.
"Itu." tunjuk Albert.
Rara menoleh dan melihat arah yang ditunjukkan Albert.
"But....how ?"
"Aku minta supirku untuk anter mobil kamu."
Rara menoleh. "Makasih ya Al."
Albert membukakan pintu untuk Rara.
"Jam 7 aku jemput. Dan pakai gaun ini. " kata Albert menyerahkan kotak berisi gaun untuk Rara.
"Eh...tapi...bukannya ini untuk..."
"Untuk kamu." kata Albert.
Rara tertegun.
"Ra...perlu aku anter sampai flatmu ?" tanya Albert karena melihat Rara terpaku dengan kotak gaunnya.
"Eh...gak...gak perlu Al. Aku bisa sendiri."
"Okay. Sampai nanti." kata Albert.
Rara melambaikan tangannya.
"Mbak Rara..ada titipan." kata receptionis
"Eh...Silvi. Titipan apa ?"
Silvi menyerahkan kunci mobil Rara.
"Mobilnya mogok mbak ?"
"Eh....iyaaa.." jawab Rara sambil tersenyum.
Kemudian dia menerima kunci itu dan mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Jam 7 bel pintu berdering, Rara yang memang sudah selesai bersiap segera membuka pintu.