
Mereka sampai di lantai paling atas gedung apartement.
Rara menatap Nicho dan hanya dibalas dengan senyuman.
Albert membuka pintu dan meminta mereka masuk.
Rara menatap ruangan dihadapannya. Dan dia terkagum.
Ruangan apartemen Albert tentu saja berbeda dengan flat yang ditempatinya. Ruang tamunya sangat besar bahkan hampir sama dengan seluruh ruangan di flatnya.
"Ada beberapa kamar disini. Kamu bisa menempati salah satunya. Aku akan memanggil orang untuk membersihkannya. Sementara kamu bisa pakai kamarku dulu untuk bebersih dan istirahat." kata Albert ke Rara
"Kamu juga bisa tinggal disini Nick. Setidaknya Rara aman jika ada yang jagain."
Nicho menganggukkan kepalanya.
"Minta Andre untuk mengirim orang ke flat Rara dan mengambil barang-barang Rara. Aku keluar sebentar untuk menemui Rama"
Sejenak Albert menatap Rara yang masih memakai kemejanya. Kemudian dia berbalik dan meninggalkan kakak adik itu.
"Nick...seberapa kenal kamu sama Albert ?" tanya Rara penasaran. "Siapa dia sebenarnya ?"
"Kakak akan segera tahu. Sebaiknya kakak membersihkan diri dulu, aku akan mengantar pakaian kakak nanti."
Rarapun menganggukkan kepalanya.
Diapun masuk ke ruangan yang disebut Albert sebagai kamarnya.
Diapun melepas bajunya dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. Dia menggosok kulitnya yang sempat disentuh pria itu. Rara menggosok hingga kulitnya menjadi merah. Dia jijik mengingat perlakuan pria itu.
Hampir satu jam Rara habiskan di kamar mandi. Jika saja tidak ada ketukan di pintu kamar mandi dia akan terus menghapus jejak pria itu di tubuhnya.
"Ra...keluarlah."
Rara segera memakai jubah mandi yang ada disitu.
Rara membuka pintu dan mendapati Albert berdiri menjulang didepannya.
Albert berbalik membelakangi Rara.
Rara yang melihatnya merapatkan jubah mandinya.
"Pakaianmu ada ditempat tidur. Setelah berpakaian keluarlah. Nicho sedang keluar sebentar." kata Albert kemudian diapun meninggalkan Rara dan menutup pintu kamarnya.
Rara merasa bahwa Albert jijik melihatnya karena dia sempat tersentuh oleh pria itu. Dan hal itu membuatnya menitikkan air mata.
Rasanya tidak sanggup melihat tatapan Albert ke dirinya.
Rara menghapus air matanya kemudian memakai pakaiannya.
Setelah menenangkan diri dan menghela nafas panjang ia pun keluar dan mendapati Albert sudah duduk di meja makan.
"Makan, Ra. " kata Albert sambil menunjuk kursi disebelahnya.
Rara mendekat dan duduk di kursi yang ditarik Albert.
Rara membuka kotak makan dengan logo resto dibawah.
Sementara Albert hanya menatapnya.
__ADS_1
Sambil makan, Rara sesekali melirik Albert yang terus menatapnya.
Rara meletakkan sendoknya, kemudian meraih gelas yang ada didepannya.
Setelah meneguk air dari gelas itu, ia meletakkan gelas itu ke meja dan memutar tubuhnya menghadap Albert.
Albert mengedipkan matanya.
"Ra...."
Rara menghela nafas.
"Katakan saja kalau kamu jijik sama aku." kata Rara sambil tetap menatap Albert.
Albert tertegun. Kemudian dia mengusap wajahnya pelan.
"Apa maksud kamu Ra ?" tanyanya setelah menghembuskan nafas pelan.
"Aku berterima kasih sama kamu karena aku bisa lepas dari pria itu. Tapi dia sempat menyentuhku. Aku sendiri jijik mengingatnya apalagi kamu." kata Rara sambil menundukkan kepalanya.
"Pikiran apa itu. Jangan berprasangka buruk Ra."
"Tidak. Memang itu kan yang kamu rasakan."
"Hahahaha...." Albert tertawa. "Sok tahu kamu."
"Cara kamu memandangku Al...."
"Apa aku memandangmu sama seperti pria itu memandangmu ?" kata Albert melipat tangannya di dada.
"Jawab Ra, apa kamu melihatku dengan tatapan yang sama dengan pria brengsek itu."
"Aku minta maaf karena hampir terlambat datang. Aku hanya menyesal karena pria itu sempat memegangmu. Kalau membunuh orang tidak berdosa pasti sudah kulakukan. Tapi setidaknya tangan pria itu patah dan butuh waktu lama untuk sembuh."
Rara melebarkan matanya.
"Aku sedikit kesal karena saat kesusahan kamu tidak menghubungiku." kata Albert mengalihkan pandangannya ke meja.
"Al..." kata Rara lirih.
"Kamu pikir aku gak bisa bantu kamu? Kamu pikir mantan cowok kamu lebih punya segalanya dari aku ?"
"Al....sungguh, aku gak ada pikiran semacam itu. Aku hanya nggak mau menyusahkanmu. Aku nggak mau kamu berpikir aku memanfaatkan kamu."
"Manfaatkan saja aku Ra. Dengan senang hati aku akan membantumu."
"Kita berkenalan juga baru Al, dan aku nggak terbiasa meminta tolong dengan orang yang baru aku kenal."
Albert mendengus kesal.
"Kita baru aja berteman Al, tidak sepantasnya pertemanan kita dinodai dengan hal-hal yang bisa menyusahkan salah satu pihak."
"Hah....teman ya..." kata Albert kesal.
"Aku gak mau munafik Ra. Aku menginginkan status lebih dari teman dengan kamu."
"Mak...maksud kamu apa ?" tanya Rara mulai waspada dengan kelanjutan kata demi kata yang akan diucapkan Albert.
"Aku menyukaimu Ra. Dan aku ingin lebih dari sekadar teman untuk kamu." kata Albert kembali menghadap ke Rara.
__ADS_1
Rara menelan ludahnya. Kemudian menghela nafas.
"Al...kamu tahu, aku baru putus dengan cowokku. Dan aku belum siap membuka hati kembali."
"Lupakan cowok brengsekmu itu Ra. Buka hatimu.untuk aku."
"Tidak semudah itu Al."
Albert mengusap wajahnya dengan kasar.
"Benar dugaanku, kamu masih mencintai cowok itu."
"Bukan seperti itu Al."
"Trus kenapa kamu menolakku." kata Albert kesal.
"Aku gak nolak kamu." kata Rara setengah berteriak.
Albert tersenyum.
"Kamu mau terima aku ?"
"Ah....." Rara merasa Albert menjebaknya dengan kata.
"Nggak semudah itu lepas dari Pandu, Al."
"Kenapa ?" tanya Albert sambil bersidekap.
Rara menarik nafas dan menghembuskannya. Kemudian dia menatap Albert.
"Aku berhutang dengan Pandu." kata Rara dengan ragu-ragu.
"Aku mendengarkan Ra." kata Albert.
"Kami bekerja sama untuk mendirikan butik karena keluarganya mempunyai pabrik tekstil jadi mereka yang jadi suplier butik."
"Untuk membeli ruko dan perlengkapan butik, Pandu yang mengeluarkan modal. Sedangkan aku pegang desain dan pemasaran."
"Karena kami putus, Pandu minta semua modal dia dibalikin. Dan aku hanya punya waktu 3 bulan. Sekarang hanya tinggal 1 bulan dari tanggal yang telah ditetapkan."
"Kenapa nggak kamu lepas aja butik itu?" kata Albert.
"Dan membiarkan banyak karyawan yang kehilangan pekerjaan mereka? Tidak Al, selama aku bisa aku akan berusaha."
"Dengan menjual aset yang kamu miliki ?" tanya Albert.
"Jika itu jalan satu-satunya." kata Rara mantap.
"Aku bisa bantu kamu. Aku akan beli aset kamu. Dan jika kurang, kamu katakan saja berapa nominalnya. Aku bisa jadi investor untuk butik kamu." kata Albert tenang.
Rara menatap Albert dan tidak melihat keraguan disana.
"Tapi...jika hubungan kita menjadi tidak baik, aku takut kamu akan melakukan hal yang sama dengan Pandu." kata Rara memalingkan wajahnya.
"Tidak akan. Kamu bisa tulis semua kesepakatan yang harus kita tanda tangani. Biar pengacaraku nanti yang urus selebihnya." kata Albert sambil berdiri.
Rarapun berdiri.
"Siapa kamu sebenarnya Al? " tanya Rara.
__ADS_1