Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Kejutan


__ADS_3

"Beneran kak Rara mau bang?" tanya Cindy girang.


Albert menganggukkan kepala sambil meneguk air dari botol.


"Yes...." pekik Cindy.


Jimmy yang melihat kelakukan Cindy hanya tersenyum.


"Gimana menurutmu Jim?"


Albert duduk disebelah Jimmy.


"Yah....selama abang dan kakak nggak terpaksa sih. Aku okay aja. Lagian sebelum abang jadian sama kak Rara, kami juga sudah akrab dengan kakak."


Albert menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, abang mau kasih kabar sama tante Debby. Hari Sabtu nanti kita ke rumah kak Rara."


"Hem...boleh. Kalau ada yang bisa Jimmy bantu, ngomong aja ya bang."


"Pasti."


Albert bahagia melihat Jimmy dan Cindy bahagia. Dia tahu Rara sangat berarti buat adik-adiknya.


‐------------------------‐----------------


Hari Sabtu pun tiba.


Albert dan keluarganya mendatangi kediaman orang tua Rara.


"Akhirnya ya Deb. Kita beneran jadi keluarga. Aku gak nyangka anakku mau juga dijodohkan dengan Albert."


"Iya Retha....padahal mereka sudah kenal ya dari kecil. Aku ingat kak Laras pernah cerita kalau Albert dan Rara nggak mau dipisahkan. Berapa lama akhirnya mereka saling melupakan. Bahkan aku yakin lo, mereka gak ingat tentang masa kecil mereka."


"Iya sih. Cuma dulu Rara pernah jatuh dan kepalanya terbentur. Dokter pernah bilang dia amnesia. Tapi semua keluarganya dia ingat kecuali tentang Albert dan keluarga kak Laras."


"Mungkin alam bawah sadarnya menutup kenangan tentang itu."


"Mungkin juga."


Tak lama Rara muncul dan menghampiri kedua sahabat lama itu.

__ADS_1


"Tunggu Albert bentar ya Ra. Dia lupa sesuatu tadi jadi dia ajak adik-adiknya. Paling bentar lagi datang kok."


Suara mobil mengalihkan obrolan mereka. Kemudian mereka melihat Albert didampingi kedua adiknya datang dan dibelakang mereka Rara melihat ibu Panti dan beberapa anak Panti datang.


Rara berdiri dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu bawa mereka Al...?" Ucapnya terharu.


Albert tersenyum dan mengangguk.


Dari arah dalam rumah terdengar petikan gitar dan semua bernyanyi selamat ulang tahun.


Rara tertegun. Bahkan dia tidak ingat jika hari ini adalah hari ulang tahunnya.


Nicho masih memainkan gitarnya sementara seorang wanita muda membawa kue ulang tahun dengan angka 26.


"Selamat ulang tahun Ra." kata Albert sambil membawa buket bunga mawar merah untuknya.


"Al....bahkan aku lupa kalau hari ini adalah ulang tahunku."


"Aku tahu....dan semua menjadikan kejutanku berhasil."


"Ehem.....kak....boleh nanti aja ngobrolnya. Pegel nih bawa kue nya."


"Rena....kamu juga datang....kakak seneng banget deh."


"Iya....dijemput bang Nicho kemarin. Ayo kak....tiup lilinnya."


Dan semua menyemangati Rara untuk meniup lilin.


Acara tiup lilin dan pembagian kue sudah dilakukan. Albert juga membagikan souvenir untuk anak panti.


Dan setelah acara selesai tinggal keluarga Rara dan keluarga Albert yang tinggal.


Albertpun didampingi tante Debby mengutarakan niatnya untuk menikahi Rara. Dan acara lamaran pun berlangsung dengan lancar, tinggal para orang tua menentukan tanggal pernikahan mereka yang akan dilakukan 3 bulan lagi.


Tak lama terdengar deru mesin mobil didepan. Semua orang menoleh menatap ke pintu.


Nicho berjalan dan melihat siapa yang datang. Kemudian dia memanggil Rara yang segera mendekatinya. Dan tentu saja semua orang mengikutinya.


"Bang Albert beneran ya kasi kejutannya gak tanggung tanggung." kata Nicho sambil melipat tangan didada.

__ADS_1


Rara menutup mulutnya tak percaya. Albertpun memdekatinya.


"Selamat ulang tahun Ra. " Bisiknya.


Rara menggelengkan kepala dan tersenyum.


"Itu...buat aku ?" tanyanya.


"Tentu saja. Apa kamu menyukainya?"


"Al...apa tidak berlebihan?"


"Tentu saja tidak. Terima ya Ra."


Rara menggenggam tangan Albert.


"Terima kasih."


Seseorang keluar dari dalam mobil minicooper merah 3 pintu itu. Diapun mendekati Albert dan Rara.


"Selamat ulang tahun Ra. Ini kado dari pak bos untuk kamu."


Rama menyerahkan kunci dan dokumen kepemilikan mobil ke Rara.


"Terima kasih Ram, ayo masuk ke dalam, sebentar lagi kita makan malam."


Rama tersenyum dan menganggukkan kepala. Diapun mengikuti Albert dan Rara.


"Hai bang. Kenapa lama sih datangnya." kata Nicho.


"Abang banyak urusan Nick. Beresin pesanan si bos juga."


"Bang Al gak tanggung tanggung ya urusan kayak gini."


"Begitulah. Untuk orang lain aja dia total apalagi untuk orang yang disayang."


Nicho menganggukkan kepala.


"Bang Nicho.....ih kemana aja sih. Rena kan minta anterin tadi. Udah ditungguin juga."


Rama tertegun saat melihat siapa yang menghampirinya.

__ADS_1


__ADS_2