Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Aku Mau


__ADS_3

"Kamu ngapain kesini lagi sih Pan ? Bukannya harusnya kamu menikmati bulan madu kalian?" tanya Rara kesal.


Sudah beberapa kali Pandu datang ke butiknya. Dan berulang kali Rara menghindarinya dan sekarang Pandu muncul tepat saat dia masuk ke butik.


"Ra....aku hanya ingin ketemu kamu." kata Pandu.


Rara menatap Pandu dengan wajah kesal.


"Buat apa lagi Pan. Kita sudah tidak ada hubungan lagi. Baik bisnis maupun pribadi."


Rara duduk di sofa ruang tunggu. Sengaja tidak mengajak Pandu masuk ke ruang kerjanya. Karena masih pagi dan belum ada pelanggan yang datang.


Pandu pun duduk di sofa berhadapan dengan Rara.


"Ra...aku kangen kamu." kata Pandu.


Rara menghela nafas lelah.


"Kamu sudah gila. Aku masih banyak kerjaan. Lebih baik kamu pergi. Aku nggak mau Saskia merecoki butik lagi." kata Rara sambil berdiri.


Pandu menghela nafas lelah. Usahanya untuk mendekati Rara tidak berhasil. Dia tahu dia yang salah. Tapi dia tetap menginginkan Rara hanya untuknya.


"Ra...kamu nggak bisa gitu aja pergi dari hidup aku." Pandu menaikkan suaranya.


"Dan...kenapa Rara gak bisa pergi dari hidup kamu, Pandu."


Bukan Rara yang bicara.


"Dan...saya heran, kenapa kamu bisa ada disini pagi sekali. Kamu nggak ada kerjaan lain selain merecoki kehidupan Rara?"


Pandu geram melihat Albert yang sekarang berdiri di samping Rara.


"Apa urusan anda disini ? Bukannya anda sama dengan saya ? Mencoba mendekati Rara ?"


Albert terkekeh.


"Hem...mungkin anda perlu tahu sedikit, kenapa saya berhak ada disini pagi-pagi. Hem...jadi begini pak Pandu. Saya punya andil untuk butik ini. Dan saya beruntung bisa bekerja sama dengan Rara setelah anda mencoba membuat bangkrut butik ini. Apa penjelasan saya kurang anda mengerti ?" kata Albert sambil menatap Pandu dengan tajam.


Pandu semakin marah. Tapi dia tidak bisa membalas perkataan Albert.


Saat akan melangkah keluar Albert menghentikannya.


"Dan saya peringatkan anda sekali lagi. Saya tidak mau anda datang kesini lagi tanpa alasan yang jelas."


Pandu mengepalkan tangannya kemudian meninggalkan butik dengan amarah.


Albert menghela nafas. Kemudian dia berbalik dan mendapati Rara menatapnya tajam.


"Setelah Nicho, apakah kamu juga akan selalu mengawasiku ?" tanya Rara.

__ADS_1


Albert mengelus lehernya.


"Ra....aku bisa jelasin." kata Albert menyusul langkah Rara ke arah ruangannya.


Rara meletakkan tasnya dengan kasar diatas meja. Kemudian dia berdiri menghadap Albert yang berdiri tak jauh darinya.


"Jelaskan." kata Rara tajam.


Albert tahu risikonya jika dia mengawasi Rara. Tapi dia tidak akan membiarkan hal buruk terjadi lagi padanya.


"Oke. Aku mengawasimu. Aku tahu kamu belum menerimaku. Tapi aku nggak mau kejadian yang dulu terulang lagi. Aku hanya nggak mau hal tidak baik menimpamu Ra."


Rara mengerang antara kesal dan geram.


"Aku bukan anak kecil Al. Aku bisa mengusir Pandu sendiri."


"Aku tahu Ra. Tapi kamu lihat sendiri kan betapa dia gigih hanya untuk bisa menemuimu."


"Ya....dia memang seperti itu."


"Ya....dan itu yang membuat kamu menerima dia kan?"


Rara terkejut mendengar perkataan Albert.


"Jangan bilang...kalau kamu cemburu?"


Albert membuang nafasnya dengan keras.


Albert berbalik dan memunggungi Rara.


Lama tak terdengar suara. Albert diam tak berani lagi menatap Rara. Dia memang kesal dengan Pandu, lantaran anak buahnya melaporkan bahwa beberapa kali Pandu mendatangi butik Rara. Meskipun Rara tidak mau menemuinya.


Dan pagi tadi saat Albert selesai mengantar adik-adiknya sekolah. Anak buahnya menelpon bahwa Pandu kembali datang ke butik dan tanpa pikir panjang diapun memacu kendaraannya untuk segera sampai di butik.


Entah apa yang merasuki Albert sehingga dia hampir saja mengabaikan keselamatannya dan pengguna jalan lain dengan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Albert menghela nafas. Setidaknya dia bisa mengusir Pandu saat ini.


Tanpa menoleh dan berbalik ke Rara, Albert melangkah. Kemudian dia menghentikan langkahnya saat dia merasakan seseorang memeluknya dari belakang.


Jantung Albert berpacu dengan cepat. Apakah Rara memeluknya ? Bukankah di ruangan ini hanya ada dia dan Rara?


Bulu kuduk Albert meremang membayangkan jika bukan Rara yang memeluknya, lalu siapa?


Albert menatap tangan yang lebih kecil dari tangannya melingkari pinggangnya. Dan dia juga merasakan hembusan nafas di punggungnya.


"Ra.....?" panggilnya ragu.


"Jangan pergi dengan amarah Al. Aku tahu kamu mencoba untuk melindungiku. Terima kasih." kata Rara.

__ADS_1


Albert lega sekaligus bahagia. Bahwa benar Rara yang memeluknya.


Kemudian dia membalikkan badannya dengan perlahan.


"Aku nggak mimpi kan Ra? Kamu....meluk aku ?"


Pipi Rara merona merah dan mencoba melepaskan pelukannya dari Albert. Tapi Albert menahannya.


"Al...." pinta Rara saat Albert tak juga melepaskan tangannya.


"Bentar Ra....biarkan begini sebentar saja." kata Albert dan menarik tubuh Rara ke pelukannya.


Albert menghirup wangi tubuh Rara. Dan dia tidak peduli jika suara jantungnya yang berdebar kencang terdengar oleh Rara.


"Jadi....apakah sudah ada jawaban untukku Ra ?" tanya Albert.


Rara menganggukkan kepalanya tanpa ragu.


Albert mengendurkan pelukannya untuk melihat wajah Rara.


"Dan...?" tanya Albert tidak sabar.


"Aku mau menjalin hubungan sama kamu." kata Rara kemudian dia menundukkan wajahnya yang semakin merah.


"Benarkah?" tanya Albert masih tidak percaya.


Rara tidak menjawab tapi Albert tersenyum senang.


"Kita jadian ya Ra. Tapi aku akan segera ke rumah kamu untuk melamarmu."


Rara mendongak menatap Albert.


"Al.....apa nggak terlalu cepat ?"


Albert menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak mau kehilangan kamu Ra. Aku serius minta kamu jadi istri aku." kata Albert.


Rara menatap Albert yang menatapnya tanpa keraguan, hingga bunyi pesan ponsel masuk.


Albert mengambil ponselnya setelah itu menyerahkannya ke Rara.


Rara yang bingung menerima ponsel itu dan terkejut melihat isi pesan di ponsel Albert.


"Itu salah satunya alasan aku ingin segera menikahimu." kata Albert tersenyum.


Sedangkan Rara wajahnya semakin memerah menahan geram atas isi pesan tersebut.


Nicho_Wijaya : " Awas bang, meluknya jangan kelamaan."

__ADS_1


Nicho_Wijaya : " Segera datang ke rumah!!!"


__ADS_2