Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Ide Bagus


__ADS_3

Rara mengantar Jimmy dan Cindy sampai di depan gerbang rumah. Sejenak Rara terkagum. Rumah mereka berada dilingkungan perumahan mewah.


"Kakak gak mampir dulu." Ajak Cindy.


Rara tersenyum. "Lain kali aja yan Cin, Udah malam juga."


Cindy hanya mengangguk.


Sebelum mereka membuka pintu, Rara memegang bahu Jimmy.


"Jim, dan kamu Cindy. Kalau abang kalian marah, jangan ikutan marah. Coba peluk dia dan minta maaf. Jelaskan keadaan kalian ke abang kalian."


Jimmy menghela nafas.


"Akan aku coba kak. Thanks buat semuanya. Aku harap kita bisa ketemu lagi." kata Jimmy.


Rara mengambil kertas di tasnya dan menulis no ponselnya.


"Ini no ponsel kakak."


Jimmy tersenyum dan menyimpan kertas itu di saku kemejanya.


Setelah mobil Rara tidak terlihat lagi, Jimmy mengajak Cindy untuk masuk ke rumah.


Sekilas Jimmy melihat mobil Albert di garasi dan dia pun menghela nafas.


Cindy memegang lengannya. Dia tahu Cindy takut mereka kena marah Albert.


"Dari mana kalian ?" kata Albert saat mereka sudah masuk ke ruang tamu.

__ADS_1


Albert tampak berdiri dengan kedua tangan dilipat didepan dada. Wajahnya tampak mengeras menahan amarah.


"Bang Albert...please, semua salah Cindy bang. Cindy tadi gak mau pulang. Cindy gak mau lihat abang mukul bang Jimmy." Kata Cindy sambil menahan tangis.


Albert terpaku melihat wajah Cindy yang terlihat takut.


"Cin...." kata Albert lirih.


"Bang...Jimmy minta maaf sama abang, kalau selama ini Jimmy nyusahin abang. Jimmy hanya ingin abang juga memperhatikan kami." kata Jimmy sambil menundukkan kepala.


Albert mengacak rambutnya kesal. Dia benar-benar merasa gagal menjadi kakak.


"Maafkan Bang Albert, Jim,Cin...mungkin bang Albert juga salah karena perhatian abang kurang untuk kalian."


Cindy berlari mendekati Albert dan memeluknya. Albert mengelus kepala Cindy.


Jimmy mendekat dan Albert mengacak rambutnya. Jimmy tersenyum.


Cindy melepas pelukannya dan mengerucutkan bibir.


"Hei...ayolah, abang kan hanya tanya aja." Kata Albert sambil berjalan menuju ke kursi tamu.


Jimmy dan Cindy saling berpandangan dan mereka tersenyum.


Mereka mendekat dan duduk di samping kanan dan kiri Albert.


"Tadi dari alun - alun bang. Habis itu ditraktir kakak cantik." kata Cindy.


Albert mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Kakak cantik ?" tanyanya heran.


"Ini semua kan salah abang, abang sita ATM Jimmy gak kasi uang saku, Cindy lapar dan kami gak bawa uang." kata Jimmy dengan nada kesal.


"Hei...kenapa gak telpon abang, atau pak Singgih?" tanya Albert.


"Handphone nya habis bateray bang." kata Cindy.


Albert mengacak rambutnya kesal.


"Gimana kalau kakak cantik itu menculik kalian."


Jimmy tersenyum.


"Kakak cantiknya baik kok bang, dia juga yang minta kami supaya pulang, bahkan dia yang antar kami"


Albert melotot kesal.


"Jadi dia udah tahu rumah kalian? Mulai besok pak Singgih akan antar jemput kalian. Abang gak mau terjadi apa-apa pada kalian."


Albert berdiri dan menggerutu sambil meninggalkan kedua adiknya yang menahan tawa.


"Abang masih sayang kita Cin." kata Jimmy senang. Cindy tersenyum dan mengangguk.


"Aku akan sms kak Rara, kalau bang Albert nggak marah lagi." kata Jimmy.


"Iya bang, aku pengen ketemu kak Rara lagi. Seandainya kak Rara yang jadi pacar bang Al." kata Cindy cemberut.


Jimmy tersenyum. "Itu ide yang bagus"

__ADS_1


Cindy menatap Jimmy, dahinya berkerut kemudian dia tersenyum.


__ADS_2