
Sesekali Albert mencuri pandang ke arah Rara, tapi tampaknya Rara menikmati makanannya. Ya...dia menyukai Rara, mungkin ini cinta pada pandangan pertama.
Albert menatap Rara, setelah mereka selesai makan dan Ayu membereskan sisa makanannya.
“Hmmm...Sekalian aja ya pak, saya kesini mau memberikan brosur titipan mami.” Kata Rara dan mengambil brosur di dalam tasnya.
‘Ok...”Kata Albert menunggu Rara mengambil brosurnya.
Rara menyerahkan brosur itu ke Albert.
Albert menerimanya tapi matanya tak bisa lepas dari Rara.
“Ok kalo gitu. Brosur sudah diterima, tugas saya selesai pak” Rara bangkit berdiri.
Albert mendekati Rara dan menjabat tangannya.
“Thanks Ra. Dan panggil aku Albert. Okay”
Rara menatap Albert. “Okay P..eh Albert, but...” Rara tersenyum geli, ia kemudian mengambil tisu dan memberikan tisu ke Albert.
Albert menerimanya sambil, mengangkat alisnya. Rara menunjuk sudut bibir nya. Albert menyekanya tapi Rara masih menunjuk, sambil tersenyum Rara mengambil tisu itu dan mengelap sudut bibir Albert.
Albert terpaku, tatapan mereka bertemu, Albert menangkap tangan Rara, Rara mencoba menarik tangannya.
Mereka saling berpandangan dan Albert bisa melihat rona merah di pipi Rara.
“Oh...maaf Ra” Kata Albert gak enak.
Rara memalingkan wajahnya.
Albert mengumpat dalam hati.
“Ok...aku akan pelajari brosurnya dan menghubungi mu nanti”
Albert membuka pintu dan mengantar Rara keluar.
Albert memandang kepergian Rara dengan senyum.
__ADS_1
"Thanks Tante..." gumannya dalam hati. Ia pun masuk ke ruangannya dan membuka brosur yang dibawa Rara.
"Hmmm...oke juga neh. Bisa dipakai buat acara pembukaan kafe si Rama" Albert meraih ponselnya dan menelpon Rama.
"Ya...Al...."
"Ram....aku ada rekomendasi catering buat acara pembukaan cafe."
"Beneran Al."
"Ya iyalah Ram. Ke kantorku sekarang."
"Kantor yang mana ?"
Albert memutar matanya. Meskipun dia tahu Rama tidak melihatnya.
"Sudirman Rama."
Albert mendengar Rama tertawa.
"Ok...tunggu."
Albert meraih tas laptop nya. Dia membuka bagian depan tas nya dan mengambil sebuah foto.
Foto Rara yang tadi pagi diberikan oleh Tante Deby, dan dia belum sempat melihatnya.
"Cantik..." katanya lirih dan tersenyum.
Albert membalik foto itu dan kembali tersenyum.
"Adora Angelica Wijaya....you'll be mine."
Albert menyimpan kembali foto Rara, kemudian dia melanjutkan pekerjaannya. Sesekali senyum terukir di bibirnya.
Telpon dimejanya berdering.
"Ya..." Jawab Albert.
__ADS_1
"Pak Rama datang pak." kata Ayu.
"Minta masuk Yu, terima kasih."
Taklama pintu terbuka dan sesosok pria tinggi masuk ke ruangan Albert.
"Hai bro, masih sibuk ?"
Albert melempar senyum ke sahabat sekaligus asistennya.
"Duduk dulu Ram, aku selesaiin ini dulu."
Rama memganggukkan kepala dan duduk di sofa.
Beberapa menit kemudian Albert berjalan ke sofa dan menyerahkan proposal yang dibawa Rara.
"Ni ada rekomendasi catering buat pembukaan cafe."
Rama menerima proposal itu dan membacanya.
"Hem...lumayan. Dapat darimana ?"
"Dari teman tante Debby."
"Oh ya ?"
Albert mengaggukkan kepalanya.
"Segera urus pembukaan cafe dan segeralah kembali kerja."
"Iya bos. Lagian kerjaan gak bakal habis juga meski dikerjakan terus. Aku juga mulai kewalahan Al. Rekrut orang untuk membantuku. Aku tidak bisa keluar kota terus."
Albert menganggukkan kepalanya.
"Kamu urus lah tambahan personnel untuk kita. Sesuaikan dengan kebutuhan kita."
"Oke. Aku akan bicara dengan personalia."
__ADS_1