
Rara sampai di apartemennya saat ada pesan masuk di ponselnya.
"Kak...thanks ya, abang gak marah setelah kami jelaskan tadi."
"Benar kan kata kakak, Abang kalian pasti sayang sama kalian kok." balas Rara.
"Kak...bisa kita ketemuan lagi ?"
"Boleh...kabari kakak aja, kalo gak ada kegiatan pasti bisa ketemu."
"Oke kak. Thanks ya. Salam dari Bang Jim."
"Salam juga ya Cindy. GBU."
Rara tersenyum melihat ponselnya, dia senang mendengar kabar dari Cindy.
Sebenarnya hatinya terhibur karena bertemu dengan kedua kakak beradik itu. Dia rindu dengan keluarganya. Dengan kedua orang tuanya dan adiknya Nicho juga sepupunya Renata.
Rara memang memilih untuk tinggal di apartemen, sementara adiknya juga kuliah diluar kota. Seminggu sekali Rara pulang ke rumah dan menengok kedua orang tuanya. Hanya saja sudah sebulan dia tidak pulang karena dia sempat melihat kekasihnya selingkuh.
Pandu, pria yang sudah 5 tahun mengisi hari-harinya. Rara tahu dia bukan cewek yang cantik apalagi kaya, dibandingkan dengan Siska mantan Pandu, dia merasa tidak ada apa-apanya.
Rara sempat melihat Pandu dan Siska berdua, dan saat. dia menelpon Pandu,Pandu berbohong padanya. Dan saat mereka bertemu Pandu tidak merasa bersalah sedikitpun dan bersikap biasa saja. Dan Rara memutuskan hubungan mereka meskipun Pandu tidak terima.
Ponsel Rara berdering. Rara melihatnya dan tersenyum.
"Ya, Nick...apa kabar?"
"Hai kak, aku baik aja, kakak gimana?"
"Hem....kamu pasti tau kabar kakak kan ?"
"Ayolah kak, Nicho udah pernah bilang, Kak Pandu bukan pria baik."
"Iya...kakak ingat. Trus...kakak harus ngapain ?"
"Terima perjodohan yang ditawarkan mami."
Rara mengerang marah.
"Tidak ada salahnya dicoba kakak. Nicho lihat, dia orang baik. Dan kakak juga sudah dekat dengan dia."
"Nicho..kakak gak lagi dekat dengan siapapun, bahkan kakak baru juga putus dengan Pandu."
__ADS_1
"Sebentar lagi kakak. Jaga hati kakak."
Nicho memutuskan panggilan.
Rara selalu jengkel jika Nicho sudah menggunakan kemampuannya.
-----++++++++-----
"Hari ini abang yang antar kalian ke sekolah, tapi nanti pak Singgih yang akan menjemput kalian." titahnya.
"Ayolah bang, Jimmy sama Cindy baik-baik aja kok." protes Jimmy.
"No...big No Jim. Setelah apa yang kalian lakukan kemaren, abang gak akan membiarkan hal buruk terjadi ke kalian. Gimana kalau wanita itu menculik kalian ?"
"Abang terlalu parno ah."
"Ikuti aturan abang."
"Yes Sir." kata Jimmy kesal.
Percuma juga mendebat sang big boss, Albertus Syailendra, sang putra mahkota.
Jimmy meringis mengingat julukan yang diberikan ke kakaknya.
Telpon berdering, mengalihkan perhatian Albert ke berkas itu.
"Ya Dina..."
"Pak...ada pak Rama datang."
"Oh...baiklah, minta dia masuk."
Albert membereskan berkas-berkas di meja dan memasukkannya ke dalam map.
Pintu terbuka dan tampak Rama masuk dan mendekati meja Albert.
"Hai ..."
"Ada apa Ram ?"
"Thanks buat rekomendasi cateringnya."
"No problem."
__ADS_1
"Btw...Rara ...cantik ya..."
Albert melempar tatapan tak suka ke Rama.
Rama menyadarinya dan tersenyum.
"Calm down bro....aku tahu kamu menyukainya." kata Rama.
"And then..."
"Hem...good choice."
"Aku belum mendekatinya Ram."
"Memangnya dia siapa ?"
"Dia wanita yang dijodohkan denganku."
"Benarkah ? Tante Debby ?"
"Ya...."
"Hem....baguslah."
"Apa maksudmu ?"
"Aku rasa dia wanita yang baik. Kemaren aku bertemu dengan dia Al."
"Sial....aku baru bertemu dengannya sekali Ram."
Rama tertawa....
"Kenapa kamu gak coba ajak dia...kencan ....mungkin."
"Haruskah?"
Albert mengitari meja kerjanya dan duduk disamping Rama.
"Haish....untuk urusan kerjaan, kamu jagonya Al, tapi urusan wanita...aku rasa kamu masuk level playgroup." Rama tidak bisa menahan tawanya.
"Sialan kamu Ram. Aku tidak ada waktu buat hal seperti itu Ram. Kamu tahu sendiri tugas peninggalan papa seperti apa. Belum lagi urusan dengan adik-adikku."
Rama menatap sahabatnya dengan tatapan sendu. Yah...dia sangat tahu keadaan Albert. Sejak usia 17 tahun dia sudah harus berjuang untuk mengurus perusahaan yang ditinggalkan papanya.
__ADS_1
Bahkan adik-adiknya menjadi jauh dengannya karena kesibukannya. Hingga usianya yang mendekati kepala tiga saat ini, Rama belum pernah melihat Albert memperkenalkan kekasihnya, meskipun banyak sekali wanita yang mendekatinya. Bahkan mereka selalu berusaha untuk bisa bersama dengan Albert. Sayang, Albert memang sosok yang ramah dan mungkin keramahannya disalahartikan oleh wanita-wanita itu.