
Albert dan Rara segera menuju ke kafe Rama tempat mereka janjian dengan staff WO yang akan mengurus pernikahan mereka.
Untuk pendaftaran pernikahan sudah diurus oleh Andreas.
Tinggal mempersiapkan hati dan tubuh mereka untuk mengikuti jalannya pemberkatan dan pesta.
Semua keluarga ikut terlibat.
Dan tentu saja mereka gembira karena semua persiapan berjalan lancar.
lima belas menit mereka sampai dikafe milik Rama.
Dan dengan tersenyum dan masih bergandengan tangan mereka masuk ke kafe.
"Cih....itu kenapa jadi kayak truk gandeng gitu sih Al. Gandengan melulu." goda Rama yang dari kejauhan sudah melihat kedatangan mereka.
"Makanya kamu juga cari dong yang bisa digandeng. Move on." balas Albert.
Wajah Rama memerah menahan kesal.
"Ngomong sak penake dewe, move on gundulmu. Ben dino ketemu piye isone move on." gerutu Rama sambil merobek-robek kertas warna yang ada didepannya.
Albert tertawa terbahak.
"Aww....kok dicubit sih yang" protes Albert sambil mengusap lengannya yang dicubit Rara.
"Kamu tuh, ngledek Rama aja. Kasihan tuh dia." kata Rara gemas dengan calon suaminya.
"Ya habis gimana Ra. Dianya gak mau ngomong. Padahal aku sudah bilang selama janur kuning belum melengkung, masih sah buat nikung. "
Perkataan Albert membuat Rama tersenyum.
Kapan lagi ngerjain bos yang semena-mena sama karyawannya.
"Berarti aku masih bisa nikung Rara dong. Kan janur kuning mu belum melengkung."
__ADS_1
Rama berdiri sambil berkacak pinggang.
Albert yang mendengar menggeram.
"Ayo kalau berani."
Albert meremas kedua tangannya dengan geram.
Rama tertawa terbahak senang. "Rasain"
Rara yang melihat tingkah keduanya gemas. Tapi diapun penasaran.
"Eh...dari tadi aku dengar Rama gak bisa move on karena tiap hari ketemu. Emang siapa sih yang ?"
Rama dan Albert saling berpandangan.
"Hm....bukan siapa-siapa kok Ra. Aku kan hanya bercanda." tukas Rama.
Masak iya dia harus bilang kalau dia gak bisa move on dari adik sepupunya.
Rama tertawa canggung.
"Lupain. Tuh WO nya udah lengkap. Kalian ngobrol di ruanganku aja. Aku masih ada yang dikerjain karena sebentar lagi pak bos cuti. Cuti Honeymoon."
Rama mengalihkan pembicaraan karena masih belum siap jika Rara tahu perasaannya ke Renata.
Albert yang tahu kecanggungan Rama segera mengajak Rara masuk menemui staff WO.
Sementara itu Rama membereskan kekacauan yang dibuatnya sendiri.
Dia mengumpulkan kertas-kertas yang dirobeknya tadi.
Tak lama bunyi lonceng terdengar tanda jika ada yang masuk atau keluar cafe.
Rama mengangkat kepalanya dan melihat sumber kegalauannya sedang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Gimana bisa move on coba, jika sekarang dia begitu cantik" kata Rama dalam hati.
"Hai bang Rama. Kak Rara udah datang ?"
Rama menganggukkan kepala.
"Baru ketemuan sama WO di ruangan."
"Oh..ya udah, aku tunggu disini aja deh."
"Oke. Kamu mau minum apa ?"
Renata tersenyum.
"Mocha float aja bang."
"Oke. Tunggu ya."
Renata menganggukkan kepalanya. Sedangkan Rama segera ke pantry untuk menyiapkan pesanan Renata.
Sementara didalam ruangan.
Calon mempelai membahas mengenai acara pernikahan yang akan segera diselenggarakan.
Rara dan Albert setuju dengan konsep yang diberikan pihak WO.
Segala printilan mengenai vendor,dekorasi bahkan dokumentasi sudah disepakati.
Untuk katering dan baju pengantin memakai katering dan butik yang dikelola Rara karena pihak WO juga sudah bekerja sama dengan katering dan butik Rara.
Undangan akan disebar dua minggu sebelum hari H.
Dan tentu saja gedung yang dipakai adalah ballroom hotel Phoenix.
brak...
__ADS_1
Pintu terbuka membuat semua yang didalam ruangan menoleh ke arah pintu.