Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Ayo kita kencan


__ADS_3

Rara membalikkan badan. Kemudian dia mengambil undangan yang disodorkan oleh Saskia.


"Selamat. Semoga kalian bahagia." kata Rara.


"Pasti. Aku dan Pandu saling mencintai. Aku ingin kamu datang dan menyaksikan kebahagian kami."


"Hem." Rara menganggukkan kepala. Kemudian berbalik dan menggandeng Cindy.


Tidak...dia tidak boleh menangis. Sudah cukup air matanya keluar karena pengkhianatan Pandu. Jangan lagi.


Tapi airmata itu tetap saja keluar dan membasahi pipinya.


Cindy menarik Rara ke taman belakang. Dan mengajak Rara untuk duduk.


Cindy duduk di pangkuan Rara dan menghapus airmata yang masih mengalir.


"Kakak yang tadi jahat sama kak Rara ?" tanyanya.


Rara menggelengkan kepala.


"Kakak jangan nangis lagi. Cindy sedih lihat kakak kayak gini."


Cindy memeluk Rara yang dibalas dengan pelukan oleh Rara.


"Maafkan kakak ya Cin"


Cindy menganggukkan kepalanya dalam pelukan Rara.


"Kakak gak usah sedih lagi ya. Ada Cindy, bang Jim, bang Albert. Kami sayang sama kakak."


Rara menganggukkan kepalanya.


"Iya Cin, kakak juga sayang sama kalian."


Cindy turun dari pangkuan Rara. Kemudian dia mengulurkan tangan dan disambut oleh Rara.


"Kita masuk yuk kak. Cindy lapar. Pasti makanannya udah datang. Nanti kita makan es krim biar gak nangis lagi. Cindy mau minta chef Arya buat bikinin es krim yang besar." kata Cindy sambil menarik tangan Rara.


Mata Rara membulat.


"Chef Arya ?" tanyanya.


Cindy mengangguk.


"Chef Arya yang masak di sini. Kalau bang Albert datang biasanya dia nongol kok. Mungkin masih masak tadi."


"Eh..." Rara menjadi penasaran.


Apa resto ini juga milik Phoenix Group.


Rara dan Cindy masuk ke ruangan makan. Ada seorang pria yang duduk disebelah Albert. Dan mereka tampak membahas sesuatu di tablet yang dipegang Albert.


"Eh....ada chef Arya." kata Cindy.


"Hai Princess." sapa Chef Arya


Rara dan Cindy duduk di kursi di seberang mereka.


"Chef...nanti Cindy minta es krim yang besar ya. Buat kak Rara juga. Biar kak Rara gak sedih lagi." kata Cindy.


"Iya....nanti chef bikinin sesuai permintaan Princess." kata Chef Arya.


Sementara Albert mendongak dan menatap Rara. Dia bisa melihat wajah Rara yang agak basah. Kenapa dia. Dan apa tadi kata Cindy, Rara sedih. Karena apa ?


Albert meletakkan tabletnya.


"Kamu kirim laporannya ke Rama ya Ar. Biar dia nanti juga ngecek. Mungkin juga nanti akan dia kasi ke Jonathan."

__ADS_1


"Iya pak. " kata Chef Arya.


"Semua pesanan udah datang kan. Ayo kita makan." kata Albert.


"Kamu mau gabung Ar?"


Chef Arya menggelengkan kepala.


"Nggak pak. Silakan dinikmati hidangannya. Saya mau bikin pesanan princess Cindy dulu. Tunggu ya Princess."


Cindy mengacungkan jempolnya karena mulutnya penuh makanan.


Selama makan, mata Albert tetap mengawasi Rara. Meskipun berusaha ceria tapi Albert tahu Rara masih sedih.


Rara tertawa. Benar Cindy bilang. Es krim bisa membuat moodnya jadi lebih baik. Senang rasanya berbagi dan bercanda dengan Princess Syailendra.


Mereka kembali ke apartment setelah menghabiskan semua makanan ditambah es krim yang Cindy pesan. Dan Rara baru tahu jika AJC adalah resto milik keluarga Syailendra.


Rara dan Cindy masuk ke kamar begitupun Jimmy.


Albert memilih duduk di sofa ruang tengah.


Dia melihat tabletnya dan melihat CCTV Resto di depan toilet wanita.


Albert melihat Cindy dan Rara masuk dan tak lama mereka keluar, Rara tampak menggandeng Cindy dan tangannya yang lain memegang kertas berwarna gold.


Tak lama dari pintu toilet muncul seorang wanita yang Albert ketahui adalah wanita yang datang bersama Pandu.


Hem....ternyata wanita Pandu yang membuat Rara sedih.


"Abang ngapain ?" tanya Cindy yang tiba-tiba duduk dekat Albert.


Albert segera menutup tabletnya.


"Nggak ngapa-ngapain Cin. Kamu ngagetin abang aja."


Albert memiringkan tubuhnya.


"Ehm....Cin...emang tadi kak Rara kenapa ?" tanyanya agak lirih.


"Kak Rara sedih bang. " kata Cindy sambil mengunyah cheese stick.


"Emang sedihnya kenapa ?" pancing Albert.


"Hem...tadi pas di toilet, ada kakak-kakak gitu. Trus ngobrol sama kak Rara. Tadi kak Rara juga bilang suruh ngaca gitu trus ada kata-kata wanita gak bener gitu deh bang. Ah Cindy lupa kata-katanya. Trus kakak itu kasih undangan ke kak Rara katanya seminggu lagi mereka menikah. Dan kak Rara diminta datang. Habis itu kak Rara nangis deh."


Albert mengangguk-angguk mendengar cerita Cindy.


"Cindy sedih bang lihat kak Rara nangis. Tadi Cindy ajak kak Rara ke taman belakang."


"Wah Cindy udah gede ya sekarang. Bisa menghibur kak Rara."


"Iya bang. Ayo abang jangan berhenti buat deketin kak Rara ya. Kak Rara butuh teman bang.."


"Iya Cin. Abang gak akan berhenti kok buat deketin kak Rara."


Cindy mencium pipi Albert.


"Cindy sayang abang."


"Abang juga sayang Cindy." katanya sambil memeluk Cindy.


"Ram....apa ada undangan dari Jaya Group?" tanya Albert.


"Ada Al, tadi baru diinfo pak Sukri kalau ada undangan pernikahan dan diletakkan di meja kamu. Hari senin bisa kamu cek."


"Oh...baiklah. Thanks Ram. Btw..kamu dimana ?"

__ADS_1


"Ehm...."


"Jangan katakan kamu ke taman itu lagi." tanya Albert.


"Sudah...kamu nggak usah protes. "


Albert tertawa dan sambungan diputus oleh Rama.


Tawa Albert terhenti saat melihat Rara berjalan menuju pantry.


Albert mendekati Rara.


"Ra..." panggil Albert.


Rara menoleh dan tersenyum.


"Hai Al. Mau dibikinin minuman ?" tanya Rara.


Albert menggelengkan kepala. "Kamu...kenapa tadi bersedih ?" tanya Albert.


Rara menatap Albert dan tersenyum tipis.


"Cindy cerita ya.?"


"Karena aku nanya. Kalau ada yang bisa aku bantu, katakan saja Ra."


"Makasih Al. Kamu udah banyak bantu aku kok."


"Lupakan Pandu Ra. Aku tahu kamu sangat mencintainya. Tapi dia akan menikah bukan ?"


Rara menganggukkan kepalanya.


"Atau....kamu mau balikan sama dia. Aku juga bisa bantu. Kita culik saja dia saat pernikahannya."


Rara terbelalak dengan ide konyol Albert.


"Kamu gila...." katanya sambil tertawa.


Albert tersenyum melihatnya.


"Buat apa menculik orang yang tidak mencintai kita Al. Cinta gak bisa dipaksakan."


"Betul. Tapi aku mencintaimu. Apakah aku boleh menculikmu?"


Rara kembali tertawa.


"Buat apa kamu menculikku jika kamu minta saja aku mau ikut bersamamu." kata Rara.


Albert terkejut dengan ucapan Rara.


"Mak..sudnya Ra?"


"Kamu masih mau deket sama aku kan Al?" tanya Rara.


"Ten...tentu saja."


"Ayo kita kencan." kata Rara sambil tersenyum.


"Ra...."


"Aku mau lebih kenal kamu Al....bantu aku melupakan Pandu. Cindy bilang kalian menyayangi aku. Aku mau kenal kalian lebih dekat lagi. Bolehkah ?"


"Ra...aku gak salah dengar kan ? Kamu gak lagi ngeprank kan."


Rara menggelengkan kepalanya.


Albert menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Ayo kita kencan." kata Albert sambil tersenyum.


__ADS_2