
Ponsel Albert berdering, dia mengeryitkan dahinya.
"Ya Jim...ada apa?"
......
"Apa....? Abang segera kesana. Jaga Cindy dan tunggu abang di Rumah sakit."
Albert berdiri. "Ra, kita harus pulang sekarang." kata Albert sambil mengajak Rara mencari Rama.
Setelah berpamitan dengan Rama, Albert mengajak Rara ke mobilnya.
"Al....ada apa ?" tanya Rara.
"Maaf Ra, tante aku di Rumah sakit, tiba-tiba pingsan, hanya ada adik-adikku dan sopir disana, kamu keberatan kalau kita mampir ke Rumah Sakit sebelum aku mengantar kamu?"
"Gak papa Al, aku juga bisa pulang sendiri kok."
"Nggak Ra, nanti kamu aku anterin atau paling tidak diantar pak Singgih."
Rara hendak protes tapi demi dilihatnya wajah Albert yang serius dengan kemudi diapun mengurungkannya.
Albert memarkir mobilnya dan mengajak Rara turun, wajah Albert terlihat sangat cemas.
Mereka segera ke IGD dan mendapati beberapa orang disana.
"Abang..."teriak seseorang
Albert menoleh dan mendapati wajah sembab Cindy.
"Dimana Jimmy, Cin ?" tanya Albert.
"Bang Jim sedang beliin Cindy minum."
"Pak Singgih ?"
"Diruang administrasi bang, tapi lama sekali."
Albert menoleh ke arah Rara.
__ADS_1
"Ra, bisa tolong temani adikku sebentar ? Nanti aku akan minta pak Singgih anterin kamu. Sampai adikku yang satu datang."
Rara mengangguk, "Aku akan menemaninya Al, kamu urus aja administrasi tantemu dulu."
"Thanks ya Ra."
Rara hanya mengangguk dan tersenyum.
"Kok...kakak bisa barengan sama abang ?" tanya Cindy.
"Jadi...kamu adikknya Albert ?"
Cindy menganggukkan kepala.
"Kakak udah kenal lama sama bang Albert ?" tanya Cindy lagi.
Rara menggelengkan kepala.
"Jadi saat ketemu kami, kakak belum kenal bang Albert ?"
Rara mengangguk, Cindy tersenyum.
"Cin....bang Albert sudah datang ?" tanya Jimmy yang mendekati mereka "Eh...kok kak Rara disini ? Cindy nelpon kak Rara?"
Rara menggelengkan kepala.
"Hah....kok bisa....?" tanya Jimmy penasaran.
Cindy hanya mengulum senyumnya.
"Kakak pacarnya bang Albert?" tanya Jimmy yang dibalas gelengan oleh Rara.
"Nggak Jim, kakak hanya kenal sama abang kalian. Dan itu juga karena kakak nawarin catering." kata Rara.
"Oww...."Jimmy menganggukkan kepala.
"Tante kalian kenapa ?" tanya Rara saat mereka duduk di kursi tunggu.
"Nggak tahu kak,tadi sore masih baik-baik aja kok. Tiba-tiba saja jatuh dan pingsan." kata Jimmy menjelaskan.
__ADS_1
"Kalian besok sekolah ?" tanya Rara.
Jimmy dan Cindy mnganggukkan kepala.
"Siapa yang menemani kalian kalau abang kalian gak pulang?"
"Nggak tau kak, Bi Surti juga gak ada di rumah,pak Singgih rencananya hari ini pulang. Hanya ada Pak Supri dan Pak Maman satpam rumah, itupun mereka gantian."
Rara memijit pelipisnya, entah kehidupan seperti apa yang Albert dan adik-adiknya lalui.
"Saudara kalian ?"
Mereka saling menatap dan menggelengkan kepala.
"Kami hanya punya abang dan tante juga anak - anak tante." kata Jimmy sambil menerawang.
"Kakak maujadi saudara kami ?" tanya Cindy meraih lengan Rara dan mendekatkan diri ke Rara. "Cindy gak punya kakak cewek, semua cowok, bang Albert, Bang Jimmy, bang Deny dan bang Benno."
Rara mengusap kepala Cindy dan memeluknya.
"Cindy harus bersyukur karena masih mempunyai keluarga. Ada satu tempat yang bakal bikin Cindy mensyukuri hal itu. Kapan-kapan kalian akan kakak ajak."
"Mau diajak kemana mereka, Ra?" tanya Albert yang sudah berdiri di dekat mereka.
Rara mendongak. "Maaf Al, aku hanya ingin menunjukkan ke mereka bahwa mka tetap harus bersyukur karena masih mempunyai keluarga."
"Yah, mereka memang harus bersyukur. kapan - kapan kita ke panti." kata Albert duduk di sebelah mereka.
"Abang ke panti bareng kakak ?" tanya Jimmy.
Rara mengangguk.
"Kenapa heran gitu sih Jim?" tegur Albert.
Jimmy tersenyum, "Nggak bang, tumben aja ?" kata Jimmy.
Albert mendengus. "O iya, pak Singgih gak bisa anterin kamu Ra, karena dia ada keperluan. Dan aku tidak bisa meninggalkan tante Deby." Kata Albert lirih.
"Al...biar aku anterin adik-adikmu pulang." kata Rara memberi saran.
__ADS_1
"Masalahnya, dirumah gak ada orang yang menemani mereka Ra, besok pagi mereka juga harus sekolah."
Mereka terdiam.