
"Kamu mau kita kemana dulu ?" tanya Albert sambil tetap menatap depan.
"Hem....gimana kalau kita ke mall dulu. Aku mau belanja baju anak dan beberapa alat tulis." kata Rara.
Sejenak Albert menatap Rara kemudian dia fokus ke depan lagi.
"Kamu mau belanja buat Panti ? Kan udah ada yang ngatur Ra. Aku udah kasi staff lo buat bantuin Panti."
"Aku tahu kok. Cuma hari ini Nancy, Chiko dan Billy ulang tahun, jadi aku mau kasih kado ke mereka."
"Oh....perlu dekorasi gak ? Kalau perlu aku kirim orang ke sana."
"Nggak Al...nggak perlu. Kita biasa merayakannya dengan sederhana kok."
"Jadi intinya kencan kedua kita juga di Panti ya Ra. Kenapa aku nggak heran ya." kata Albert tertawa kecil.
"Maaf ya Al, habis acara nanti aku ngikut deh sama kamu, kita mau kemana." kata Rara merasa bersalah.
"Gak papa. Aku senang kok Ra. Yang penting kan kita bisa berdua...eh...beramai-ramai ya jadinya sama anak Panti. Tau gitu kita ajak aja Jimmy sama Cindy."
"Aku nggak enak Al."
" Udah gak papa. Aku tinggal telpon Rama buat antar mereka. Sekalian bawa makanan dari Resto AJC. Aku harap kamu nggak nolak."
"Al....kamu baik banget sih. Kalau aku suka gimana coba." kata Rara sambil merona.
Albert yang sedang nyetir sampai melongo karena ucapan Rara.
Rara semakin merasa malu karena melihat wajah Albert.
"Ma..maaf Al."
Albert berdehem mengurangi kegugupannya.
"Maaf mulu dari tadi Ra. Kalau kamu suka, aku bakalan seneng deh." Albert tersenyum.
Saat lampu merah, Albert segera mengirim pesan ke Rama dan adik-adiknya.
"Oh ya, apa Pandu juga sering ke Panti ?" tanya Albert penasaran.
Rara menoleh ke arah Albert.
"Kenapa ? Aku cuma ingin tahu aja kok."
"Nggak...dia nggak pernah ke Panti. " kata Rara sambil memalingkan wajah ke jendela.
"Maaf...aku gak ada maksud buat kamu sedih Ra."
Rara menatap Albert kemudian dia tersenyum.
"Gak papa Al, gimana aku bisa move on kalau tiap kali ngomongin dia aku harus sedih. Nggak lah Al, aku masih belajar buat lupain dia, dia akan menikah, dan bagiku hubungan kami sudah benar-benar berakhir."
Albert tahu Rara mencoba untuk kuat. Dan dia berjanji akan membantunya. Dia akan membuat Rara melupakan Pandu.
Albert memarkir mobilnya dibasement, kemudian membukakan pintu untuk Rara.
__ADS_1
Mereka pun berjalan menuju lift sambil sesekali berbincang.
Sampai di dalam mall, Rara ke bagian pakaian anak dan memilih beberapa baju untuk diberikan ke anak Panti. Setelah itu ke toko buku untuk membeli alat tulis dan juga beberapa buku.
Rara adalah wanita yang praktis dan tidak suka membuang waktu. Hingga Albert menjadi berdecak karena kelincahan Rara saat memilih barang dan membayarnya. Albert tidak diijinkan untuk membayar tagihan karena Rara merasa Albert juga ikut andil saat memesan makanan. Jadi dia pikir gak semua biaya harus Albert yang tanggung.
Gimana Albert tidak tambah cinta coba. Disaat banyak wanita berharap dibelanjakan oleh Albert, tapi Rara memilih untuk membayar sendiri barang belanjaannya.
"Kamu bukan...ehm...belum tepatnya jadi pacar atau pasanganku Al. Gak seharusnya kamu menanggung biaya hidupku. Lagian aku masih mampu kok membayar belanjaan ini." itulah kata yang diucapkan Rara saat Albert menegurnya.
"Makanya dong kamu mau jadi pacar aku. Bantuin kek habisin uang aku." kata Albert kesal.
Rara tertawa mendengarnya.
"Harta itu titipan Al. Bersyukur dan gunakan sebaik-baiknya. Kamu tahu tidak ada ayat yang bilang gini...Lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum daripada orang kaya masuk surga."
"Hem...iya iya...."
"Intinya gak boleh sombong Albert. Tuhan kasih kamu banyak harta buat jadi berkat bagi sesama."
"Siap bu. Saya akan mengikuti saran ibu pokoknya."
Rara tertawa melihat ekspresi Albert yang masuh agak kesal.
Akhirnya merekapun sampai di tempat anak-anak panti berada. Karena Panti belum selesai renovasi dan mereka masih tinggal di tempat Albert.
Jimmy dan Cindy sudah sampai dan Albert melihat Rama dan beberapa staff nya sedang memasang balon-balon warna warni.
"Hai bang" sapa Jimmy sambil mendekati Albert.
"Hem, udah lama sampai Jim ?" tanya Albert sambil mengambil barang-barang Rara dari bagasi.
"Yah...ini kencan versi kakakmu." kata Albert sambil tertawa.
Jimmy pun tertawa. "Abang yang sabar ya"
"Pasti pasti, mana ada wanita sebaik kak Rara kan ?"
"Betul banget bang." kata Jimmy senang.
"Ehm...bang, kayaknya abang bisa culik kak Rara deh." kata Jimmy sambil meletakkan barang yang dibawanya di meja.
"Tadi aku sempet ngomong sama bang Rama, dia sudah bilang sama chef Arya buat nyiapin dinner buat abang sama kakak."
Albert berhenti menata barang belanjaan Rara. Dia menatap Jimmy.
"Jim....abang gak pernah tahu kamu bisa mengaturnya dengan Rama. Kamu...."
"Aku tahu....aku memang romantis kayak papa. Kakak gak usah heran."
Albert tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya...nanti bantu abang culik kak Rara ya. Thanks sudah peduli sama abang dan kak Rara."
"Aku melakukannya karena gak mau kehilangan kak Rara. Hanya dia yang bisa buat Jimmy dan Cindy nyaman bang."
__ADS_1
"Oke. Sekarang kita rayakan ulang tahun mereka dulu. Dan kita akan buat perayaan setiap ada yang ulang tahun disini."
"Siap bang. Aku dan Cindy akan mencatatnya."
"Abang sayang kalian."
Jimmy tersenyum senang.
Merekapun merayakan ulang tahun Nancy, Chiko dan Billy dengan meriah. Dan Albert berjanji akan membuat perayaan untuk anak yang berulang tahun.
Setelah semua acara terlewati Albert menarik Rara ke mobilnya.
"Kita mau kemana Al?"
"Sekarang kita kencan sesuai dengan keinginanku."
Rara tersenyum mendengarnya. "Oke."
Albert membawa Rara ke Resto AJC. Dan merekapun disambut dengan ramah.
"Hem....kapan kamu reservasi?"
"Bukan aku."
"Lalu ?"
Albert mengusap bibirnya dan menandaskan minumannya.
"Rama dan Jimmy yang melakukannya."
"Oh..."
"Hem. Mereka ingin kita menghabiskan waktu berdua Ra."
"Maaf."
"Kenapa maaf lagi sih Ra." kata Albert kesal.
"Aku hanya nggak enak Al. Aku yang ngajakin kencan, tapi tidak sesuai harapanmu."
"Emang kamu tahu harapanku apa ?"
"Ya...nggak juga sih, cuma kan cowok kalau kencan pasti pengen berduaan aja."
"Ya...ya itu salah satunya sih. Tapi aku seneng kok hari ini. Melihat kebahagiaan anak-anak panti membuat aku bahagia."
Rara menatap Albert. "Kamu juga merasakannya?"
"Tentu saja."
Rara tersenyum. Albertpun ikut tersenyum.
"Aku harap kamu mempertimbangkan perasaanku sama kamu Ra." kata Albert sambil meraih tangan Rara.
Rara menunduk menatap tangan Albert yang hangat melingkupi tangannya.
__ADS_1
"Berikan aku sedikit waktu lagi Al. Aku tidak mau salah mengartikan perasaanku ke kamu."
Albert tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Take your time, Ra."