Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Maaf karena aku sangat mencintainya


__ADS_3

Rama menatap ponselnya dengan gusar.


Albert yang melihatnya meletakkan berkas yang sedang dibacanya. Kemudian dia berdiri dan mendekati Rama.


"Kenapa ?" tanyanya sambil melipat tangan di dada.


Rama menghela nafas.


"Al...aku bingung dengan sikap Nicho. Dia tahu sepupunya diselingkuhi tapi dia diam aja."


"Renata maksud kamu?"


"Iyalah siapa lagi."


Albert tersenyum, kemudian dia berdiri dan berjalan mendekati lemari pendingin dan mengambil dua kaleng minuman.


"Nicho tidak bisa memaksa orang untuk percaya kepadanya Ram. Kamu tahu kalau Nicho juga memperingati Rara tentang Pandu. Tapi Rara tidak mau percaya. Sampai Rara akhirnya putus sendiri dengan Pandu. Walaupun dia punya kelebihan melihat masa depan. Tapi belum tentu orang mau berubah karena perkataan dia."


Albert meletakkan minuman yang diambilnya di meja. Rama membukanya dan meminumnya.


"Benar juga sih. Kasusnya hampir sama dengan Renata."


"Hem...dia hanya bisa menjaga mereka dari jauh. Saranku, kamu juga awasi Renata. Buat jaga-jaga kalau cowoknya ingin merusak dia."


Albert menenggak minumannya. Kemudian dia membuang kaleng itu ke tempat sampah.


"Aku pulang dulu. Kasihan Jimmy dan Cindy."


Albertpun membereskan berkas-berkas di meja dan menyimpannya di tas.


"Oh iya. Kamu tidur disini ?" tanya Albert saat akan membuka pintu.


Rama menganggukkan kepala.


"Ya....lagian mobil ada di rumah. Besok aja aku balik."


"Oke. Jaga diri. Dan jangan menyerah. Tetaplah berada disekitar Rena."


"Hem." Ramapun menganggukkan kepala.


Setelah berpamitan dengan Rama, Albert pun mengambil mobilnya dan melajukannya ke rumah.


Sampai di rumah, suasana sudah sepi dan gelap. Ditatapnya jam tangan yang melingkar di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Albert mengambil ponselnya dan menelpon.


"Halo..."


"Hai Ra, belum tidur?"


"Hem...baru aja mau tidur Al. Kamu baru balik?"


"Iya...baru sampai rumah."


"Kerjaan banyak banget ya."


"Biasa aja kok."


"Jimmy dan Cindy ?"

__ADS_1


"Harusnya sudah tidur Ra. Aku belum lihat kamar mereka".


"Oh..."


"Kamu nggak kangen aku ya."


"Hah...?"


"Beneran deh. Kayaknya hanya aku yang kangen ya"


"Al..."


"Hem...."


"Maaf, aku gak telpon kamu tadi. Habis acara sodara-sodara pada kumpul. Ini juga Nicho belum balik. Aku mau telpon kamu takutnya sibuk dan ganggu karena Jimmy bilang kamu lagi sama Rama."


Albert menghela nafas dan tersenyum.


"Iya Ra. Gak papa kok. Tapi aku mau kasih tahu kamu. Kapanpun kamu mau telpon aku telpon aja. Kalau gak sibuk pasti aku angkat. Jangan merasa mengganggu."


"Iya Al....akan aku ingat."


"Ya sudah. Kamu lanjut istirahatnya ya. Besok aku telpon lagi."


"Okay."


"Love you Rara."


"Love you too Albert"


Albert tersenyum. Kemudian dia mengecek keadaan adik-adiknya. Setelah memastikan mereka tidur, Albertpun masuk ke kamarnya.


Saat hampir memejamkan matanya. Bunyi notifikasi ponsel membuatnya urung.


Ditatapnya ponsel yang ada di nakasnya. Kemudian dia mengambilnya dan membaca pesan.


Nadia : "Al....besok aku ke tempatmu. Mau bahas laporan kemarin."


Albert mengacak rambutnya.


Albert_S : "Okay."


Keesokan harinya, Albert mendapati kedua adiknya yang sedang sarapan. Mereka terlihat ceria.


"Bang Jim, nggak lama lagi kak Rara bakal disini. Aku seneng banget."


"Iya abang juga seneng kok. Dan abang yakin bang Al juga."


Albert tersenyum dan memgacak rambut Jimmy


"Sok tahu kamu" katanya sambil duduk di kursi makan


Jimmy berdecak kesal karena rambutnya berantakan.


"Cindy tahu itu bener kok bang. Cindy sering lihat abang senyum senyum sendiri."


"Iya....abang kayak abg yang lagi jatuh cinta." timpal Jimmy.


"Hem...terserah ya kalian bilang apa. Tapi yang pasti abang bahagia jika kalian juga bahagia."

__ADS_1


Albert meminum kopinya sementara Cindy dan Jimmy tersenyum kepadanya.


"Jimmy bahagia bang."


"Cindy juga."


"Abang juga bahagia karena abang mencintai kak Rara."


Albert mengantar Jimmy dan Cindy ke sekolah, kemudian dia pun melajukan mobilnya ke kantornya.


Di tempat parkir dia melihat mobil Nadia. Diapun menghela nafas.


"Pagi yu." sapanya sambil tersenyum.


"Pagi pak Albert. O ya sudah ditunggu bu Nadia pak." kata Ayu sambil berdiri.


"Hem....terima kasih."


Saat membuka pintu ruangannya dia melihat Nadia duduk di kursi di depan mejanya.


"Hai Nad. Sudah lama ?"


Nadia memutar kursi dan tersenyum.


"Hai Al. Nggak kok. Aku baru sampai"


Albert segera duduk dikursi kerjanya.


"Oke. Apa yang mau kamu bahas."


"Al....kamu beneran mau nikah sama Rara?"


Albert menatap Nadia.


"Bukannya kamu kesini mau bahas laporan bengkel? Kenapa jadi bahas pernikahanku ?"


"Maaf. Aku baru baca undanganmu yang kamu kirim ke papa."


"Oh iya. Pasti undanganmu ada dibengkel."


"Al..."


"Maaf Nad. Kalau gak ada yang harus dibahas tentang bengkel sebaiknya aku balik ke Phoenix. Ada meeting siang ini"


"Apa kurangnya aku Al. Kenapa kamu pilih dia." kata Nadia dengan suara lirih.


"Nad....kita hanya partner bisnis. Nggak lebih. Aku juga nggak merasa memberi kamu harapan. Jadi...please jangan buat seolah aku mempermainkanmu."


"Apakah kamu sama sekali tidak ada perasaan sama aku Al? Sedikitpun ?"


Albert menatap mata Nadia yang berkaca-kaca.


"Maaf Nad."


Nadia menghela nafas. Kemudian dia berdiri.


"Maaf mengganggumu pak Albert." kemudian dia berjalan meninggalkan Albert.


"Maaf karena aku sangat mencintainya."

__ADS_1


Air mata Nadia mengalir membasahi pipinya. Kemudian dia melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan Albert.


__ADS_2