
"Abang...besok bisa ke sekolah Cindy ya ?" Pinta Cindy saat Albert masuk ke rumah.
"Ada apa Cin ? Kenapa Abang harus ke sana ?" Albert berjalan menuju ruang makan dan mengambil minuman di kulkas.
"Abang.." teriak Cindy kesal.
Hampir saja Albert tersedak karena kaget dengan teriakan Cindy.
"Apaan sih Cin..." Albert kesal dengan tingkah Cindy.
"Bener kata Bang Jim...Bang Albert gak peduli lagi sama kami." Cindy lari meninggalkan Albert yang menahan amarahnya.
Kenapa sih dengan adik-adiknya. Ia tidak habis pikir kenapa mereka berubah seperti itu. Selama ini ia mengira sudah memberikan semua untuk adik -adiknya. Kecuali waktunya. Karena Albert memang jarang di rumah dan tidak mengikuti perkembangan mereka. Tapi setidaknya saat dia libur, ia akan membawa adik-adiknya berlibur.
Baru saja dia akan masuk kamar dan dia melihat Jimmy masuk ke rumah. Albert melihat arlojinya dan mengeryitkan dahi.
"Jimmy..." teriaknya.
Jimmy menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah asal suara. Dia menghela nafas dan mengumpat dalam hati.
Albert mendekatinya. Ia melihat wajah lebam Jimmy. Luka lama yang berwarna biru pudar.
"Darimana kamu ?" tanya Albert sambil menatapnya tajam.
"Dari rumah temen bang." jawab Jimmy.
"Siapa temenmu ? Ngapain ?" cecar Albert.
__ADS_1
Jimmy memutar matanya.
"Jawab Jimmy..." kata Albert dengan suara yang keras.
"Bang, Jimmy udah gede. Mau kemana kan terserah Jimmy...."
plak....
Sebuah tamparan membuat Jimmy mengaduh.
"Dengar Jimmy, abang tidak mau lagi kamu membantah abang. Sesuai jam malam yang kita sepakati. Jam 7 kalian sudah harus ada di rumah. Tidak ada toleransi untuk itu, apalagi kamu tidak memberitahu hal itu ke abang."
Cindy mendekati Jimmy. Matanya berkaca-kaca.
"Bang....abang tega mukul bang Jimmy. Abang beneran udah gak sayang sama kita lagi ?" Cindy pun menangis tersedu.
"Cin...abang gak bermaksud menyakiti bang Jimmy. Maafkan abang Jim.."
Cindy dan Jimmy menatap Albert, tapi mereka mengabaikan permintaan maaf Albert, bahkan mereka pergi meninggalkan Albert yang merasa bersalah telah menampar Jimmy.
Fix Albert...kamu gagal sebagai seorang kakak.
*******
"Bang...aku gak mau pulang." kata Cindy.
Jimmy mendekati adiknya yang duduk di bangku alun-alun kota.
__ADS_1
"Tapi kita harus pulang Cin." kata Jimmy yang sudah duduk si sampingnya.
Cindy menggelengkan kepala.
"Aku gak mau abang dipukul sama bang Albert lagi."
"Bang Al, gak bakal mukul abang lagi Cin. Lagian abang kan gak ngapa - ngapain. Kalau gak pulang, nanti abang malah mukul lagi."
Cindy mengerjapkan mata.
"Cindy gak mau abang kena pukul lagi pokoknya."
Jimmy menghela nafas. Sebenarnya dia tahu abang mereka mencintainya dan juga Cindy. Hanya saja dia tidak mau meluangkan waktu untuk mereka. Dan dia juga tidak suka dengan wanita yang dekat dengan abangnya karena mereka hanya tergoda dengan kekayaan abangnya.
Jimmy sudah berusaha membujuk Cindy untuk pulang, tapi Cindy tetap berkeras tidak mau pulang. Jimmy hanya menghela nafas. Biarlah dia diomeli Albert lagi jika sampai Cindy tetap keras kepala.
"Hai...." Sapa seseorang.
Jimmy menengadah dan melihat seorang wanita berdiri didepannya. Cindy pun melihat wanita itu.
"Kenapa kalian disini ?" tanyanya sambil melihat arloji di pergelangan tangannya.
"Kalian habis les? Belum dijemput ?"
Cindy dan Jimmy hanya diam.
Wanita itu mengangkat bahu dan duduk dibangku dekat dengan mereka.
__ADS_1